
"Jun,sorry kemarin gw gak bales missed call loe..tapi loe harus denger ini...",ucap Bimo memulai percakapan dengan Junta.
"Mo,kayaknya loe yang harus denger gw...kita udah dapet titik terang masalah kasus pembunuhan ini...Loe tahu gak kita punya tersangka utama dan punya bukti yang kuat untuk itu ?",sela Junta dengan antusias.
"Loe lihat ini...",ucap Junta sambil memberikan secarik kertas yang diberikan seorang polisi junior padanya untuk menyelidiki pemilik nomor kendaraan dari video yang didapatnya dari Amelia. Ia menceritakan kronologi awal mula plat nomor tersebut dicurigainya dan bagaimana ia mendapatkannya. Ia menceritakan semuanya pada rekan dan sahabat baiknya itu.
Bimo yang mendengarkan tampak antusias. Ia manggut-manggut mencerna semuanya dan menggabungkan dengan segala alibi dan prasangka dirinya terhadap Reni dari cerita Misa kemarin.
"Klop, Jun..gw semakin yakin kasus pembunuhan ini ada hubungannya dengan orang ini dan Reni..",jawab Bimo dengan semangat.
"Maksud loe ? Kenapa jadi si Reni loe masukkan tersangka juga ?", tanya Junta penasaran.
Bimo menceritakan persis seperti apa yang diceritakan Misa padanya.
"...begitulah, Jun...tapi Misa tak tahu menahu sama sekali tentang gw..maksudnya dia gak tahu gw polisi yang lagi menyelidiki kasus majikannya ...",ucap Bimo menutup ceritanya tentang Reni seperti yang dikatakan Misa.
"Hmm...loe bener...cuma gw lagi mikir...kita memang punya bukti kuat untuk menjadikan mereka tersangka ...tapi kita gak punya bukti banyak untuk menetapkan mereka sebagai pelaku pembunuhan dalam masalah ini...",ucap Junta gantung sambil menggaruk-garuk dagunya meskipun tak gatal.
__ADS_1
"...gw gak mau gegabah,Mo..gimana caranya untuk menjebak mereka mengakui sendiri tindakan mereka ini...alibi loe tentang Reni memang beralasan tapi, ingat loe gak punya bukti bahwa ia pelaku pembunuhan bosnya...itu hanya dugaan loe karena ia punya cukup motif untuk melakukan kejahatan terhadap bosnya itu..."
"...dan begitu pun dengan penelepon misterius yang sudah terungkap siapa pemilik nomor tersebut...tapi, ingat ia masuk sebagai tersangka kita karena dalam masalah ini ia menghubungi si Darsim dan mengarahkannya ke dekat TKP tepat saat polisi menemukan jasad korban..tapi tidak ada bukti kuat ia pelaku pembunuhan...dan...gw khawatir kalau kita salah mengambil langkah...maka si pelaku pembunuhan akan cerdik dan memiliki celah untuk kabur, kita sulit menangkapnya...",terang Junta gantung.
"...kita dah punya dugaan kuat tapi tak punya cukup bukti kuat membuktikan si pelakunya...kita harus cari cara,Mo...jika diantara kedua orang ini pelaku pembunuhannya...maka kita harus membuatnya mengakui sendiri bahwa mereka pelakunya...",lanjut Junta kembali.
"Loe bener, Jun...Hmm...kita gak punya sidik jari atau apapun untuk menunjuk DNA si pelaku di TKP...",ucap Bimo menanggapi perkataan kawannya itu.
"Oh,iya Mo...gw..baru ngeh...jangan-jangan..kita kan belum menemukan senjata yang digunakan pelaku untuk menggorok leher korban bukan ? Maksud gw...jangan-jangan...senjata itu...adalah...",ucap Junta tiba-tiba.
"Oh iya ..bener,Jun..loe bener...senjata itu..senjata itu yah...pasti masih ada bersama orang ini ..gw tahu maksud loe, Jun..sebaiknya kita geledah ke tempat keduanya ..",ucap Bimo menyela sebelum Junta menyelesaikan ucapannya itu.
"Hmm...loe bener,Jun..",balas Bimo singkat.
***
Di negeri sebrang...nun jauh... disebuah meja kerja perusahaan real estate ternama sebuah file map coklat terbungkus rapi baru saja sampai. Dikirim dengan pengiriman ekspress terbaik didunia. Terjamin keamanan dokumen yang sampai diatas meja.
__ADS_1
Lee membuka amplop coklat itu. Terdapat sebuah dokumen terbundle rapi dijilid dan diberi sampul. Sebuah judul tertera : Hasil Investigasi Pribadi Kasus Pembunuhan Nyonya Lee.
Lee membacanya dengan seksama halaman demi halaman hasil penyelidikan private investigatornya yang dikirim dari Hongkong langsung untuk menyelidiki kematian mendiang istrinya itu. Matanya terbelalak tatkala membaca hasil penyelidikan Hanchuan. Betapa geramnya Lee dengan hasilnya. Hanchuan betul-betul detektif ternama. Hasil penyelidikannya banyak yang mencengangkan. Bahkan jauh lebih detail daripada penyelidikan polisi yang menangani kasus kematian mendiang istrinya itu.
Polisi tidak dapat menemukan sesuatu yang mengarah kepada pelaku. Tapi ternyata Hanchuan dengan jeli sanggup menemukan bukti yang mengungkap pelaku pembunuhan tersebut. Bahkan ia menemukan sebuah kenyataan yang membuat Lee merasa geram dan kecewa membacanya.
Lee menekan nomor dilayar handphonenya. Ia menelepon Han. Lee sangat mempercayai hasil penyelidikan investigator yang dikirimnya langsung.
"Han, aku telah membaca dokumenmu..pastikan pelakunya mendapatkan hukuman setimpal..kau bisa mengurus itu untukku bukan ?",ucap Lee tanpa basa-basi tatkala pria diseberang sana mengangkat handphonenya.
"Siap,Tuan..saya pastikan si pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya..dan bagaimana tuan dengan masalah...hmm..pribadi...istri anda..yang saya tuliskan didalamnya..apakah anda ingin saya berbuat sesuatu ?", Ucap Hanchuan dengan sebuah kode kalimat tak jelas tapi Lee dapat mengerti apa yang dimaksudkan lelaki itu.
"Tak usah,Han..aku tak ingin kau terlibat masalah itu...itu urusan pribadiku...Kau cukup pastikan pelaku tertangkap polisi disana dan dikenakan hukuman setimpal atas perbuatannya..",ucap Lee kembali.
"Baiklah,Tuan..",jawab Hanchuan tanpa banyak tanya.
"Jika sudah beres dengan semua itu, kau dapat mengurus tiket kepulanganmu ...gunakan pesawat terbaik dengan kelas VIP untukmu...aku yang akan tanggung semuanya,Han...",ucap Lee pada orang kepercayaannya itu.
__ADS_1
"Terima kasih,Tuan Lee..",jawab Han singkat. Seiring dengan itu ia mendengar suara klik, menandakan sambungan terputus dari penelepon disebrang sana.
***