
Junta telah berada di cafe Tiam. Hari ini ia harus mencari sebanyak mungkin keterangan saksi yang bisa membawanya pada sebuah clue siapa dalang dari kasus pembunuhan ini ? dan apa motifnya ?
Siang itu cafe Tiam cukup ramai. Jam makan siang adalah waktu sibuk mereka. Bukan hanya tempat yang nyaman dan harga yang masih terjangkau, tetapi letaknya yang dekat dengan gedung-gedung perkantoran, menjadikannya pilihan yang tepat untuk banyak orang.
Sebenarnya hari itu Junta punya banyak schedule. Tapi ia telah merencanakan seharian ini untuk proses interview dengan para pegawai restoran milik korban. Ia mengamati keseharian mereka satu per satu. Mungkin akan ada clue tambahan yang membawanya pada si pelaku.
Para polisi tidak dapat menemukan clue berarti dari mayat si korban. Korban tak memiliki sanak keluarga. Terbukti hingga saat ini belum ada yang datang ke kantor kepolisian menanyakan tentang si korban. Tak ada kawan dekat atau orang terdekat untuk ditanyai lebih mendalam. Bahkan ketua RT pun tak tahu mengenai kehidupan si korban. Memang, menjaga privacy adalah sebuah penghormatan dalam bertetangga. Tapi saat situasi seperti ini menjadi sebuah tantangan baginya menemukan jalan keluarnya.
Cafe inilah yang menurut Junta menjadi start untuk memulai investigasi lebih mendalam.
Intuisi seorang investigatornya berkata demikian.
"Mbak..." Junta melambaikan tangannya pada seorang pelayan yang tengah berlalu lalang melayani para pelanggan yang mulai tampak ramai.
" Saya pesan Black Coffee Cream, Chicken Dimsum dan air mineral .." ucap lelaki itu.
" Baik Pak...ditunggu sebentar ya,Pak.." jawab si pelayan singkat.
Hanya butuh beberapa menit pesanan lelaki itu pun datang. Ia menikmati makanannya sambil matanya memperhatikan ke sekeliling cafe yang tengah sibuk ini.
Nampaknya tidak terlalu banyak pegawai di Cafe ini. Dari tadi ia hanya melihat beberapa orang itu-itu saja yang mondar-mandir melayani para pelanggan yang datang.
***
Perlahan jam makan siang pun berlalu...
Satu per satu pengunjung cafe pun pergi berlalu....hingga hanya tersisa Junta dan 2 orang pengunjung lainnya yang nampak tengah menghabiskan makanannya sambil mengobrol.
"Mas..." panggil Junta melambaikan tangannya. Ia memanggil seorang pelayan lelaki yang tengah mengambil piring-piring kotor yang telah ditinggalkan dan membersihkan meja yang di penuhi sisa kotoran makanan.
__ADS_1
" Iya...mas...ada yang bisa saya bantu ?" tanya pelayan tersebut menghampiri meja Junta.
"Hmm...lagi sibuk ? Jika sudah selesai dengan tugasmu itu, bisakah kesini ada yang saya ingin bicarakan denganmu. Kenalkan nama saya Junta. Saya investigator dari Kepolisian", ucap pria itu memperlihatkan kartu ID nya.
"Baik,Mas ..eh..Pak..."ucapnya sambil menganggukkan kepala pada Junta yang ada dihadapannya. Pelayan itu berlalu ke dapur membawa piring-piring kotor. Di dapur ia tengah berbisik kepada para kawannya memberitahukan mengenai kedatangan Junta. Salah seorang diantara mereka tampak gugup. Tetapi ia berupaya mengendalikan kecemasannya itu.
"Ada apa pak polisi itu kesini ?Kita kan tidak tahu apa-apa tentang kematian Bu Rumayyah..." ucap salah seorang pelayan perempuan yang ada didapur. Wajah polosnya tampak sedikit ketakutan seketika mendengar nama polisi disebut oleh kawannya itu.
"Entahlah...mungkin hanya untuk menanyai mengenai ibu mungkin...." jawab si pelayan lelaki yang tadi dipanggil Junta.
"Mungkin satu persatu dari kita akan ditanyai....yah..jawab saja apa adanya...toh kita kan tidak melakukan pembunuhan terhadap Bu Rumayyah...kita hanya bekerja disini ..." ucap pelayan wanita lainnya.
"Sudahlah...sana kau kan dipanggil...nanti kalau terlalu lama disini...polisi itu bisa mencurigaimu..." balas kawannya pada lelaki yang tadi dipanggil Junta.
Ia pun segera keluar dari dapur. Menghampiri Junta yang duduk di salah satu meja pengunjung. Polisi itu tengah siap dengan alat perekam suaranya. Ia tersenyum begitu melihat pelayan pria itu menghampirinya.
" Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan mengenai ibu Rumayyah. Kalian pasti sudah tahu mengenai berita kematian bos kalian bukan ? Kedatangan saya kesini ingin menanyakan terkait perihal itu. "
" Jika boleh tahu, ada berapa pegawai di restoran ini dan apa saja tugas kalian?" tanya Junta memulai investigasinya.
" Hmm...saya disini bekerja sebagai pelayan pak..dan ada 4 kawan saya lainnya yakni : Misa, Reni, Anto dan Putri, Pak. Misa dan saya sebagai pelayan yang biasa mencatat, dan membawa pesanan ke pengunjung, sedangkan Anto dan Reni yang biasa bekerja didapur menyiapkan dan memasak masakan yang dipesan pengunjung, sedangkan Putri, ia bertugas sebagai cashier disini ",ucap Rian pada polisi didepannya itu.
" Siapa namamu ? Nama lengkapmu..."tanya Junta kembali.
"Rian Pak. Riantoro."
"Sudah berapa lama kau bekerja disini, Mas Rian ?"
"Saya bekerja disini sejak cafe ini dibuka..sekitar 2 tahun yang lalu... "
__ADS_1
"Hmm...Bagaimana kau bisa masuk dan bekerja disini ?" tanya Junta kembali.
"Saat itu saya masih bekerja sebagai cleaning service disebuah kantor dekat dengan cafe ini pak. Cafe ini dahulunya hanyalah sebuah lahan kosong yang biasa digunakan para pedagang kaki lima mangkal disini. Kemudian tiba-tiba ada pembangunan. Saya tanyakan pekerja yang membangun mereka bilang akan dibangun sebuah restoran. Saat itu, saya hanyalah buruh kontrak,Pak. Saya khawatir habis kontrak saya sebagai cleaning service, saya tidak tahu mau kemana. Tapi pas mendengar pembangunan Cafe ini, saya seperti melihat ada peluang. Maka setelah pembangunan Cafe ini selesai. Saya coba memasukkan lamaran ke Cafe ini. Alhamdulillah saat itu kebetulan ibu membutuhkan pegawai, saya langsung diterima disini, Pak..." jelas Rian pada polisi dihadapannya itu.
"Hmm...Apakah Ibu Rumayyah sendiri yang mewawancaraimu langsung ?" tanya Junta kembali.
"Iya..Pak...saat itu ibu Rumayyah pemilik restoran ini langsung yang mewawancarai saya...sama seorang pria Cina pak. Namanya Mr.Chan..", jawab Rian dengan yakin. Wajahnya tampak tenang menjawab setiap pertanyaan Junta. Meskipun pada awal-awal terlihat ia nampak gugup dan banyak menunduk ataupun mengalihkan pandangannya dari polisi itu. Tetapi, kini ia tampak lebih rileks dan bahkan bisa menjawab sambil menatap Junta.
" Hmm..pria Cina ? Apakah ia pegawai disini juga ?" tanya Junta.
" Wah..saat itu saya tidak tahu Pak. Saat wawancara ibu hanya bilang nanti ada Mr. Chan yang akan mewawancarai saya juga. Beliau bilang, Mr.Chan yang akan mengawasi operasional berjalannya restoran ini. Makanya ia pun yang akan mewawancarai saya untuk masalah penerimaan pekerja disini.." Jawab pelayan itu menjelaskan.
" Apa saja yang biasa anda lakukan saat bekerja. Maksud saya...Bisakah anda jelaskan secara rinci dari anda datang sampai anda pulang selama seharian bekerja ?"
" Saya datang ke tempat bekerja 1 jam sebelum restoran dibuka. Saat datang, semua harus sudah bersih dan semua bahan baku telah dipastikan yang terbaik. Sesuai operasional prosedur yang ada. Kemudian kami berganti seragam dan bekerja sesuai posisi kami masing-masing. Sedangkan saat jam pulang kerja, kami pun melakukan prosedur yang sama. Semua meja dan kursi dalam kondisi rapi seperti semula,Piring dan gelas kotor semua sudah bersih, sampah basah dan kering sudah diletakkan ditempat sampah khusus yang terpisah dan dimasukkan dalam sampah makanan,kemudian kami berganti pakaian dan pulang ", ucapnya tenang.
"Pada hari terakhir atau sehari sebelumnya Bu Rumayyah dinyatakan meninggal, apakah ada tanda-tanda aneh pada diri beliau ?", selidik Junta pada Rian. Lelaki itu terdiam.Ia tampak meningat-ingat sesuatu.
" Hmm...ibu tidak menunjukkan sesuatu yang aneh...tapi...beberapa Minggu sebelumnya, ibu tampak terlihat gelisah dan banyak pikiran. Tapi...saya rasa bukan sesuatu yang patut dicurigai,Pak...hmm..maksud saya, Bu Rumayyah memang pembawaannya kadang seperti itu.Tetapi, saat itu saya tak curiga ada yang janggal. Karena saya pikir beliau seorang bos hebat...Ia merintis semua restoran ini dari nol hingga bisa sebesar sekarang..yang mungkin beban pikirannya adalah hanya masalah keletihan karena pekerjaan saja.."ucap Rian pada Junta.
"Apakah Bu Rumayyah pernah cerita sesuatu atau curhat kepada para pegawainya ?" tanya Junta kembali.
"Hmm...tidak pak..." jawab Rian kembali.
"Baiklah..terima kasih, Mas Rian untuk waktunya. Boleh tolong panggilkan kawanmu yang lain ?" ucap Junta.
"Baik Pak .." ucap Rian seraya membalas jabatan tangan lelaki dihadapannya itu.
***
__ADS_1