
Matahari siang itu betul-betul tengah mengamuk. Panasnya tidak tanggung-tanggung..40 derajat celcius. Panas menyengat. Rasanya ubun-ubun Amelia saat itu berdenyut dan nyaris meleleh karenanya. Keringat deras telah membasahi sekujur badannya. Rasanya saat itu ia ingin menceburkan diri ke kolam air dingin. Teh botol ditangannya telah habis sejak tadi. ia pun telah membayarnya pada si ibu-ibu penjual minuman. Tapi, rasa ogah-ogahan untuk bergerak membuatnya memilih tetap duduk di kursi plastik. Lumayanlah sebuah payung besar yang dimiliki si ibu penjual minuman, menjadi naungan terbaik menghindari matahari yang tepat berada diatas kepalanya saat itu.
Sudah 30 menit lebih sedikit ia duduk disana, semenjak minuman ditangannya diseruput habis. Amelia masih berfikir apa yang harus dilakukannya saat ini. Matanya masih tetap awas mengamati sekelilingnya.
Hingga ....hal yang tak disangkanya....
Seorang lelaki tua mengenakan tas goni itu terlihat kembali.
Lelaki tua yang tampak lusuh itu berdiri cukup jauh dari tempat ia sekarang. Tetapi, Amelia yakin lelaki itu adalah lelaki tua yang ia lihat tadi di taman kota. Ia mengenalinya dari penampilan maupun tas goni yang dicangkloknya. Kebetulan sekali!
Amelia melihatnya dari kejauhan. Lelaki itu tengah terduduk di pinggir trotoar dekat tiang listrik. Ia tampak tengah mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Wajahnya tampak celingak-celinguk mencurigakan. Seperti takut ada orang yang melihatnya. Ia mengeluarkan seperti sebuah bungkusan.
__ADS_1
Sebuah nasi kotak berada ditangannya. Tampak ia lahap memakan makanan tersebut. Seolah tak mempedulikan debu dari jalanan atau teriknya matahari yang menyengat saat itu. Topi hitam lusuhnya menjaganya dari amukan panas matahari.
Sekitar 10 menit Amelia memperhatikan lelaki itu dari kejauhan. Entah mengapa insting jurnalis yang dimilikinya seperti menyuruh gadis itu mengikuti lelaki tua ini.
Kok bisa kebetulan sekali lelaki tua itu ada disini ? Bukankah saat ditaman kota tadi, ia telah pergi dan berlalu ke arah yang berlawanan dari tempat ia berada sekarang. Mengapa bisa gadis itu bertemu kembali disini.
Lelaki tua itu masih tampak bersandar pada tiang listrik. Makannya telah selesai. Kini ia terlihat tengah membuka topinya dan menjadikan kipas untuk menghilangkan rasa panas yang telah membuat keringat disekitar dahi yang telah membasahi seluruh wajahnya.
Kini dari kejauhan Amelia dapat melihat wajah lelaki tua itu. Tampak rambutnya telah di penuhi uban. Raut wajah dan uban dikepalanya membuatnya terlihat berusia sekitar 50 tahunan lebih. Tapi perawakan tegap fisiknya,sepertinya membuat lelaki tua ini tampak terlihat lebih muda dari perkiraan Amelia.
Lelaki tua itu mengenakan topinya kembali. Ia bangkit berdiri dan berjalan menjauhi rumah TKP dimana Amelia tengah berada disebrangnya.
__ADS_1
Melihat itu, Amelia tanpa pikir panjang bangkit dan berjalan mengikuti lelaki tua itu pergi.
"Bu, saya balik dulu ...terima kasih ya.." ucap Amelia pamit berdiri pada si ibu penjual minuman yang memberikan tempat untuknya berteduh saat itu.
"Oh..iya mbak ..sama-sama.." jawab si ibu tersebut.
Amelia berjalan dengan langkah cepat disebrang jalan dari posisi laki-laki itu berdiri. Ia tidak ingin kehilangan jejaknya.
Tak lama ia pun menyebrang jalan dan berbelok ke arah lelaki tersebut berjalan. Entah mengapa Amelia merasa ada sesuatu yang mencurigakan dari lelaki ini. Kini ia melihat lelaki itu berada didepannya hanya beberapa meter. Amelia memperlambat jalannya. Menjaga jarak. Khawatir lelaki tua itu akan menoleh dan mengenalinya.
Amelia sendiri masih bingung...apa yang akan ia lakukan nanti. Bagaimana jika lelaki itu hendak pulang kerumahnya ? Apa yang akan ia lakukan ? Entahlah...Amelia belum bisa memastikan apa yang terjadi nanti. Ia hanya merasa harus mengikuti lelaki ini.
__ADS_1
Hingga ia dapat melihat lelaki itu menyebrangi kembali jalanan yang telah ramai dengan kendaraan bermobil. Ia tampak menekan tombol yang ada di lampu lantas. Hingga tak berapa lama tampak lampu merah menyala dan lelaki itu menyebrangi jalan. Amelia tampak awas mengawasi dan mengikutinya.
Dikejauhan tampak sebuah gang kecil dimana lelaki itu berbelok. Kini Amelia sedikit mempercepat kembali langkahnya. Khawatir ia akan kehilangan jejaknya. Kakinya sebenarnya telah merasa pegal untuk berjalan.Tapi... hati kecil gadis itu merasa ada sesuatu dari lelaki tua ini. Siapakah dia ?