Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 3 : Police Line


__ADS_3

Benar saja. Sebuah rumah mewah telah diberi garis pembatas berwarna kuning hitam dengan sebuah tulisan jelas : Police Line. Sebuah tanda sakral yang berarti tak ada orang yang dapat melintasinya kecuali pihak aparat penegak hukum itu.


Amelia yang berada ditengah kerumunan orang sekitar yang ingin tahu apa yang terjadi didalam rumah itu hanya diam saja memperhatikan pihak kepolisian yang mondar-mandir diarea rumah mewah itu.


2 orang polisi berada didepan garis Police Line. Memastikan tak ada orang luar yang dapat melintas dan masuk merusak TKP (Tempat Kejadian Perkara).


Amelia belagak polos menghampiri salah satu diantaranya.


"Misi...Pak itu ada apa ya didalamnya ?" tanyanya pada seorang petugas polisi bertubuh ideal tegap. Tak terlalu tinggi dengan kulit sawo gelap berdiri menyeru orang yang tampak berkerumun mendorong ingin masuk ke dalam.


" Tolong mundur mbak...jangan mengganggu...Kami belum tahu dengan pasti apa yang terjadi didalam..Nanti kalo sudah ada kepastian, pasti juga akan muncul diberita kok mbak..." ucap polisi tersebut dengan wajah datar. Rautnya tampak tak bersahabat. Amelia tak ingin berdebat dalam situasi seperti ini. Karena menurutnya sama saja mempermalukan dirinya sendiri. Pasti ia akan mendapat bentakan keras dari polisi-polisi yang ada.

__ADS_1


Amelia pun mundur kembali kebelakang. Ia lebih memilih mencari-cari informasi dari penduduk sekitar yang ada ditengah kerumunan.


"Bu...misi Bu..sebenarnya apa yang terjadi didalam ya Bu ?Kok diberi tanda Police Line seperti itu ?" tanya Amelia pada seorang ibu-ibu. Dari penampilannya Amelia menduga ia mungkin seorang pedagang yang biasa berjualan disekitaran sini.


"Ooh...itu...katanya sich ada pembantu yang meninggal mbak didalam..gak tahu karena pembunuhan atau tewas karena sakit...ini ibu juga penasaran...cuma belum ada yang tahu kenapa...pak polisi dari semenjak datang..berjaga didepan...dan tak memberitahu apapun...sangar mbak wajahnya..." ucap si ibu berusia paruh baya itu.


Dari tutur katanya, Amelia merasa cukup nyaman ngobrol dengan ibu ini. Ia tampak mudah dekat pada orang lain.


" Ooh...ibu tinggalnya jauh dari sini, mbak...tapi ibu biasa mangkal sehari-hari menjual minuman disitu.." ia menjawab sambil menunjuk pada sebuah gerobak minuman tak jauh dari tempatnya berdiri.tepat diseberang rumah mewah ini.


"Ooh..begitu...ibu tahu sesuatukah ? maksudnya....ada yang janggal gk dirumah ini sebelum polisi datang ?" Amelia kembali bertanya seperti seorang penyidik dari kepolisian.

__ADS_1


"Hmm...apa ya ? kayaknya sich gk ada mbak.. Mbak lihat sendiri rumahnya mewah dan pagarnya saja menjulang tinggi. Gak kelihatan apa-apa mbak ..kalo dari luar...rumah disekitaran sini kan sepi...mana kenal tetangga mbak...Jadi ibu mah juga gak lihat apa-apa...kayak biasa aja...semua pagar rumah disekitar sini tertutup rapat...paling kalo dibuka, ada mobil yang mau keluar...gak ada yang aneh-aneh gitu..." jawab ibu yang mengenakan daster batik berlengan panjang dan sebuah bergo lusuh berwarna coklat menjawab dengan lugasnya.


" Oo...begitu ya...baiklah Bu...oh iya, ngomong boleh saya beli teh botol dinginnya satu,Bu ?" ucap Amelia kembali.


"Oo..tentu saja boleh donk,mbak..." ibu tersebut kembali berjalan menuju gerobaknya. Amelia mengikutinya disisinya. Dengan cekatan ibu penjual minuman membuka tutup botol dan memasukkan sebuah sedotan plastik kedalamnya. Ia memberikan minuman yang dipesan tersebut sambil menyerahkan sebuah kursi plastik kepadanya.


"Silahkan duduk dulu disini, mbak...cuaca panas-panas begini enaknya memang minum dingin mbak.."


"Terima kasih,Bu.." ucap gadis itu. Tangan Amelia meraba tombol off pada recorder didalam tasnya yang tadi ia sempat nyalakan.


Amelia menyeruput dengan cepat teh botol ditangannya sambil berpikir keras, apa yang harus dilakukannya setelah ini. Rasanya ia telah menemukan sebuah ide untuk tulisan yang akan diterbitkan minggu depan. Tetapi ia belum menemukan sesuatu yang menarik untuk dibawakan ini. Ia setengah melamun sambil matanya tak henti menatap rumah mewah di seberangnya itu.

__ADS_1


__ADS_2