Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 12 : Restoran Tiam


__ADS_3

Pagi yang cerah. Restoran Cina yang berdiri dekat dengan pusat kesibukan ibukota membuatnya menjadi salah satu tempat yang cukup dikunjungi. Terutama saat jam makan siang atau akhir pekan. Restoran Tiam bukanlah restoran mewah. Interior dalamnya dibuat dari bambu dan kayu-kayu. Pada bagian depannya bahkan dikelilingi seperti pagar yang terbuat dari pagar bambu yang dicat dengan warna coklat soft. lampu-lampunya dihiasi dengan lampion kertas berwarna-warni dengan beragam ukuran. Dibagian dalam tiang-tiang kayu penyanggah fondasi terbuat dari kayu jati anti rayap yang dicat berwarna merah tua. Sekilas tampak keseluruhan bangunan terlihat bernuansa campuran cina dan Indonesia. Karena pada sebagian dinding pembatas ruang dapur dengan meja pelanggan dibatasi dinding bilik bambu bernuansa hijau dan kuning. Dibagian teras depan pintu masuk terdapat plang besar bertuliskan nama restoran dan dihiasi sebuah kolam ikan mini yang dihiasi sekelilingnya dengan tanaman bambu-bambu air yang menjulang. Didalamnya terdapat berbagai warna ikan koki. Menambah suasana asri dan nyaman.


Amelia tengah terduduk disalah satu pojokan kursi dekat dengan kolam. Hingga dari arah luar tidak terlalu terlihat karena tertutup tanaman bambu yang menghiasi. Spot yang nyaman baginya.


Jam masih menunjukkan pukul 09.00 pagi. Ia mungkin terlalu pagi sampai di sana, hingga belum ada satu pun pengunjung yang datang ke tempat itu. Untunglah restoran itu buka sejak pukul 08.00 pagi. Jadi ia tak harus menunggu restoran itu buka. Bakalan tampak seperti gelandangan yang tengah duduk didepan toko yang masih tutup!


Semenjak pagi tadi ia searching di internet mengenai pembunuhan pemilik restoran ini, akhirnya ia memutuskan mendatangi tempat ini langsung. Untunglah restoran ini meskipun tak terlalu besar dan mewah, menurut review para pengunjungnya, restoran ini merupakan salah satu restoran dengan rating terbaik. Selain fasilitas WiFi gratis,dan dekat dengan gedung-gedung perkantoran serta beberapa menu makanannya pun menjadi satu diantara menu favorit food vlogger yang pernah berkunjung, harganya pun terbilang standar untuk koceknya sebagai seorang penulis paruh waktu.


Amelia tengah menyeruput Milk Tea Shake Tiam,salah satu menu andalan mereka sambil tangannya menekan tombol-tombol laptop yang sedang menyala. Disampingnya tersaji sepiring pisang bakar coklat keju yang mengeluarkan aroma manis gurih yang menggugah selera.


Amelia tengah menikmati hidangan dan WiFi gratis yang ditawarkan disana, sambil ia berfikir keras,bagaimana untuk bisa menyelidiki kasus pembunuhan pemilik restoran ini. Haruskah ia mengaku seorang jurnalis ? ia khawatir tak ada pelayan yang mau membicarakan masalah ini. Pasti mereka akan bungkam!pikir Amelia.

__ADS_1


Tapi Amelia memberanikan diri memanggil seorang pelayan wanita ketika ia tengah membersihkan meja tepat di samping tempat duduknya.


"Mbak...maaf saya mau tanya mbak, saya lihat diberita pemilik restoran ini sudah meninggal ya mbak. Trus nanti restoran ini bakalan tutup donk karena tidak ada yang mengurusnya ?"ucap Amelia pada pelayan muda dihadapannya itu.


"Hmm...iya sich mbak...saya juga belum tahu masalah itu .." jawabnya lagi sambil menghampiri mendekat ke Amelia hingga nyaris mereka berhadap-hadapan muka yang terpisah beberapa senti saja.


"Lah...kalau tutup sayang banget donk mbak...kan dah cukup terkenal dan ratingnya bagus...ntar para pelayannya pada kemana mbak ? emang sebelumnya gak ada manajer disini yang mengurus operasional disini selain pemiliknya ?" tanya Amelia kembali. Ia berpura-pura seolah pelanggan yang akan kehilangan spot terbaiknya.


Si pelayan wanita diam. Wajahnya menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti takut ada yang melihatnya. Ia memajukan badannya dan berbicara dengan suara yang sangat pelan, hampir-hampir Amelia tak dapat mendengarnya.


"Ooo....kalau boleh tahu siapa namanya mbak ? dahulu manajer disini ?" tanya Amelia ikutan berbisik.

__ADS_1


"Namanya Mr. Chan..kami gak ada yang tahu mbak siapa dia..entah ia seorang investor atau ibu mengangkatnya menjadi manajer disini...Ibu hanya bilang, Mr.Chan yang akan ikut membantu mengawasi operasional disini. Tapi baru beberapa hari, tiba-tiba saja ia menghilang dan semenjak itu ibu sendiri yang mengurus semuanya. Kami pernah menyarankan untuk ibu mengangkat seorang manajer saja agar ia tak perlu repot mondar - mandir kesini..tapi ia menolak dan bilang ia menyukai apa yang ia kerjakan...jadi tak ada lagi yang berani menanyakan masalah itu ke ibu.."jawab si pelayan tampak cemas khawatir seseorang akan melihatnya membicarakan sesuatu dengan pelanggan bukan tentang pesanan mereka.


"Maaf mbak saya harus kerja lagi...mbaknya ada lagi yang ingin dipesan ?"tanya si pelayan dengan suara halus dan lembut.


"Oo..belum.ini saja dulu ...nanti kalau ada pesanan lainnya saya akan recall mbaknya...terima kasih..."jawab Amelia mengerti dengan kecemasan si pelayan tersebut.


Ia mematikan alat rekam suara yang ada disisi laptopnya. Tampaknya si pelayan tidak ngeh Amelia seorang jurnalis dengan recorder yang tengah menyala. Sebuah kotak hitam kecil, yang besarnya setengah dari ukuran telapak tangannya.


Amelia mencoba googling nama yang disebutkan pelayannya itu.Tapi, ia tak menemukan apapun tentang lelaki yang bernama Mr.Chan yang disebutkan si pelayan tadi. Ia coba googling dengan kata lelaki, laki-laki, pria, tapi tetap tak ada satu pun informasi yang tengah dicarinya. Tak ada laki-laki atau pria yang pernah menjadi manajer atau investor atau apapun yang ada kaitannya dengan restoran ini.


Siapakah sebenarnya Mr.Chan ?Adakah kaitannya dengan pembunuhan si korban pemilik restoran ini ? Ataukah sebenarnya kematiannya murni karena bunuh diri, seperti isu yang tengah beredar di internet ? Mampukah kelak kepolisian maupun dirinya sendiri mengungkap misteri dibalik kasus ini ?

__ADS_1


Beragam pertanyaan berkecamuk dipikiran Amelia. Akankah ia melanjutkan penyelidikan demi mendapatkan berita terbaik untuk tulisannya yang akan deadline beberapa hari ?Atau ia akan mengganti saja topik yang ada menjadi tulisan opini ? Amelia masih bingung dengan segala teka-teki ini. Nurani dan rasa ingin tahu yang besar mendorongnya untuk terus maju mendapatkan segala informasi penting tentang kasus ini, disisi lain rasanya ia ingin berhenti dan merubah haluan karena terlalu sedikit waktu yang ia miliki untuk semuanya. Amelia telah menghabiskan seluruh piring berisi pisang bakarnya.


Ketika ia tak menyadari, di kejauhan, dibalik dinding dapur berbilik, seseorang tengah memperhatikan setiap gerak geriknya disana...


__ADS_2