Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 32 : Saksi atau Tersangka ?


__ADS_3

"Jun,kemana aja sich ? gw cariin abis makan siang tadi kagak ada loe ditempat ? kelayapan keluar loe ya ?",ucap Bimo pada kawannya itu.


"Kagak Bim...tahu gak tadi gw darimana ?coba tebak... apa yang kita cari ternyata dateng dengan sendirinya,Bim..." ucap Junta sambil menjentikkan jari didepan pucuk hidung Bimo yang bulat bak jambu *** yang akan merekah.


"Ape sich Jun .. gak usah sok tebak-tebakan deh...apaan emang yang dateng dengan sendirinya ?",tanya Bimo padanya yang masih tampak terbengong-bengong. Maklum Bimo tipe orang yang kalo laper geragas dan kenyang dongo. Jadi ia tak menangkap clue yang diberikan kawannya itu.


"Idiih ...bego loe kagak sembuh ya...Udeh makan bukan tambah pinter malah tambah bego! itu loh...si Darsim.Dia barusan Dateng,Bim...kaget kan..pasti loe kaget dah!", ucapnya pada kawannya yang terperangah.


"Serius loe ?! Kapan ? cerita donk..kok loe kagak ngajak-ngajak gw!"


" Lah, gw aja kaget. Dia dateng sendiri..gw juga gak nyangka,Bim..". Bimo yang tampak penasaran menarik kursinya ke dekat meja Junta.


"Gimana emang kok dia bisa kesini ?"


"Dia dateng ...bagian frontdesk yang nerima...dia kesini karena pengen lihat mayat si korban yang menurutnya mirip istrinya yang telah lama hilang.."ucap Junta tampak antusias.


"Ternyata bener dugaan kita,Bim..si Darsim ini punya banyak informasi penting yang berguna buat kita dalam proses penyelidikan ini ..Dan...loe, tahu gak yang jad plot twist nya apa ? Ternyata dia ngasih clue baru buat kita,Bim..."


"Apaan tuh ?" tanya Bimo yang kini tampak mulai turn in menyimak dan fokus.

__ADS_1


" Ternyata nama Rumayyah dari si korban bukan nama aslinya,Mo..."


"Hah ?Serius loe ?!", ucap Bimo terkejut.


"Iya..dua rius malah...jadi...si Darsim ini bilang, kalau istrinya itu namanya Mursidah bukan Rumayyah. Tapi hasil cek mayatnya sesuai dengan ciri fisik yang dimiliki istrinya itu. Dia bilang istrinya punya tanda lahir sebuah tompel hitam dipaha kirinya. Dan..tadi gw jg baru ngeh pas nganterin si Darsim ini ngecek jenazah.."


"Hmm...nich loe dengerin sendiri rekaman pembicaraan gw sama Darsim tadi ...", ucap Junta sambil menyalakan rekaman suara di handphonenya itu. Bimo mendengarkan dengan seksama tanpa jeda dari hasil rekaman itu. Ia tampak mengerutkan keningnya tatkala rekaman suara itu habis.


" Jun, kayaknya, kasus ini bakalan banyak teka-teki rumit..."


"Maksud loe, Bim ?"


"...Trus, menurut rekaman tadi, si Darsim dihubungi lelaki yang mengaku suami baru istrinya...Berarti Jun, mungkin si korban pake identitas palsu untuk bisa menikah lagi. Kan gak mungkin dia bisa poliandri dengan nama yang sama ? Disini kita harus nyari jejak record pernikahan barunya itu juga ! Dan menurut rekaman tadi si Darsim bilang suami barunya itu atau entah lelaki lain tengah menghubunginya bahkan saat pertama kali berada di TKP..."


"Nah...dari sini kira-kira loe dah bisa lihat kan ? kasus ini bakalan rumit...dan...mungkin panjang..." ,ucap Bimo tampak mengurut kening lebarnya itu.


"Dan...menurut loe aneh kagak sich Jun..kok ya ada istri ganti identitas untuk kawin lagi dengan pria lain...biasanya laki-laki yang demen kawin lagi, ganti identitas biar kagak ketahuan bini tuanya..."


"Hmm...kira-kira menurut loe, mungkin gak sich ada sesuatu dengan suaminya si Darsim ? Apalagi di rekaman tadi istrinya sudah hilang selama 5 tahun...menghilang tanpa kabar..lari dengan laki-laki lain...",terang Bimo kali ini ia tampak menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Maksud loe, Bim ? Loe curiga ama Darsim suaminya ?! Yah..gak mungkin,Bim kita curigai dia...kalau dia yang melakukan pembunuhan, gak mungkin dia berani dateng kesini...menanyakan mayat korban pula.." jawab Junta.


"Yah ...inget Jun,segalanya bisa jadi mungkin! coba loe pikir, selama korban ditemukan sampai sekarang tak ada satu orang yang mengaku keluarga datang kemari, menangisi si korban..bahkan jika benar keterangan yang loe dapatkan ini...suami barunya pun tak datang menangisi kematian istrinya itu!"


"Hmm...iya juga sich Bim...tapi gw rasa gak mungkin dia,Bim..sama aja dia masuk kandang buaya, menyerahkan dirinya kesini untuk dimakan kita..Belum lagi dia menceritakan semuanya...bahkan memberikan kontaknya ke gw. buat apa coba ?", sanggah Junta kembali. Tapi ia pun mengakui kecermatan berfikir Bimo padanya.


"Duh...loe lugu apa bloon si Jun?! masa lebih bloon dari gw junior loe sendiri! Gini ya...menurut gw nich...dugaan aja mungkin bisa bener bisa juga nggak...harus kita selidiki lebih dalem lagi...tapi gw curiganya wanita tidak mungkin merubah identitas diri untuk menikah lagi kalau gak ada apa-apa sama suaminya bukan ? Nah, yang kedua si Darsim ini satu-satunya orang yang dateng mengaku anggota keluarga korban dan ia dateng dihari terakhir menjelang korban mau kita kuburkan.Dia memberikan semua cerita ini. Bisa jadikan ia mengarang semua cerita ini untuk menutupi aksi pembunuhannya supaya polisi tidak mencurigai dirinya ? ..."


"...dan terakhir kecurigaan gw,jika benar menurut lelaki itu istrinya punya suami baru, tidak ada satupun lelaki yang mengaku suami si korban atau minimal sekedar menelepon kita mengaku suami atau keluarga korban...padahal kita sudah publish ke media sejak press conference diawal mayat ditemukan dan diotopsi..." ucap Bimo tampak begitu yakin dengan dugaannya itu.


" Iya sich,Mo loe ada benernya...tapi firasat gw mengatakan lelaki ini memberikan keterangan benar...ya..tapi mungkin juga dia mengarang cerita seperti dugaan loe untuk menutupi aksinya sebelum kita yang mengejarnya..."


"Nah itu...kita harus tetap curiga,Jun...mungkin dia justru pelaku pembunuhan si korban..", ucap Bimo ia merasa seperti menemukan sebuah kepingan puzzle baru untuk melengkapi teka-teki pembunuhan ini.


"Iya ..tapi loe juga inget asas praduga tak bersalah...kita juga harus bisa mencari bukti untuk membuktikan kebenaran cerita si Darsim ini. Apakah dia jujur atau dia berbohong dan mengarang-ngarang cerita yang diberikannya pada kita...gw pribadi masih sedikit ragu dia pelakunya...wajahnya tampak jujur saat dia cerita Mo..tapi dugaan loe ada benernya juga sich...berarti kini kita harus masukkan ia ke dalam daftar saksi sekaligus dugaan tersangka padanya dalam penyelidikan ini..",ucap Junta mengingatkan kawannya itu.


Tak lama ia berkata terhadap rekannya itu, handphone disaku celananya bergetar. Ia mengambil handphone didalam poketnya itu. Terlihat sebuah tanda notifikasi ada pesan masuk. Sebuah balasan dari pesan yang ia kirim ke Amalia si jurnalis. Ia memberikan sebuah nomor handphone sambil mengajak lelaki itu untuk bertemu kembali. Entah kenapa, kalimat ajakan bertemu kembali itu membuat Junta merasa senang didalam hatinya.Ia tersenyum simpul sambil membalas kembali pesan tersebut. Lelaki itu mengiyakan untuk pertemuan selanjutnya dengan gadis itu.


***

__ADS_1


__ADS_2