
" Selamat pagi...dengan Putri ?",ucap Junta memegang gagang telepon dikantornya.
"Selamat pagi...betul pak,saya Putri. Darimana kalau boleh saya tahu ?", jawab Putri pagi itu. Ia baru saja sampai direstoran Tiam tempatnya bekerja,dan belum banyak pegawai yang datang kala itu.
"Saya Junta dari kepolisian. Anda masih ingat saya ? Boleh kita bertemu secara pribadi ?",tanya Junta kembali.
Putri terdiam sesaat. Mengingat-ingat memorinya tentang orang yang memperkenalkan diri diseberang sana itu.
"Oh...iya Pak..saya ingat. Pak Junta yang dari kepolisian. Ada keperluan pribadi apa ya pak dengan saya ?",jawab Putri kembali dengan dahi yang tampak berkerut. Ia tak dapat menerka mengapa polisi muda itu ingin bertemu secara pribadi padanya.
"Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan anda perihal kematian bos anda",ucap Junta singkat.
"Pukul 5 sore nanti bisa saya temui anda direstoran ?",ucap Junta kembali padanya.
"Hmm...tentu boleh,Pak. Kalau boleh tahu, hal apa yang ingin bapak bicarakan dengan saya ?",tanya Putri kembali dengan rasa penasaran.
"Nanti saja saat kita bertemu..",jawab Junta singkat sambil menutup teleponnya kembali.
***
Langit kala itu masih terang dengan warna oranye menyala. Satu per satu pegawai telah pulang kerumah mereka. Hanya Putri yang masih berada di restoran itu.
"Put,loe gak pulang ?",tanya Reni saat telah siap beranjak pulang.
"Belum,Ren..gw ada janji ama orang. Loe duluan aja..",jawab Putri singkat.
"Cie...janji ama siapa tuh...ya udahlah..gw duluan ya...", goda Reni pada kawannya itu.
"Ehem ..ehem...gak dianter si mas nya..",ucap Putri menggoda kembali.
"Sssstt...kamu tuh..hati-hati ah...ntar ada yang denger tahu...",balas Reni dengan mata melotot.
"Iya deh..iya deh...sorry..yo wis...hati-hati di jalan ya, Ren..",ucap Putri kembali sambil melambaikan tangannya pada kawannya itu.
__ADS_1
Kini putri benar-benar sendirian di restoran itu. Jam sudah menunjukkan pukul 17.20 wib. Sambil menunggu Junta, gadis itu menyibukkan dirinya dengan pemasukan hari itu. Ia tengah sibuk melakukan pembukuan dan flow cash hari itu.
Junta datang ketika jam sudah menunjukkan pukul 17.40 wib. Bukan tanpa sebab ia molor dengan janjinya pada Putri. Tetapi, memang ini merupakan bagian dari strategi pria itu terhadapnya. Ia sengaja datang terlambat, untuk memastikan gadis ini sendiri di restoran tersebut. Junta sendiri sudah datang sejak beberapa menit yang lalu. Ia melihat dari kejauhan memastikan pegawai yang lain telah pulang.
"Selamat sore menjelang malam...",ucap Junta sopan tatkala ia masuk ke dalam restoran dan melihat gadis berhijab itu tengah duduk di salah satu meja pengunjung sambil mencatatkan sesuatu disebuah buku.
"Oh...selamat malam,Pak..silahkan duduk..",ucap Putri kembali sambil ia menutup buku dan meletakkan pulpen yang dipegangnya.
"Sedang sibukkah ? Maaf saya datang terlambat...tadi saya ada tugas mendadak dan terjebak kemacetan menuju sini..",jawab Junta berbohong pada gadis dihadapannya.
"Hmm...kau sedang melakukan pembukuan ?",tanya Junta membuka sebuah percakapan.
"Oh,iya ..hal biasa yang saya lakukan setiap hari...biasanya saya mengerjakannya dikosan tapi, karena menunggu bapaknya...yah,daripada saya bengong saya sekalian mengecek cash flow hari ini..",jawab gadis dihadapannya menerangkan.
"Kalau boleh tahu, apa kau selalu mencatatkan pemasukan harian restoran ?",tanya Junta kembali dengan tenang.
"Oh..tentu..itu tugas saya sebagai cashier..saya kan harus melaporkan keuangan harian dan laporan bulanan pada atasan saya dahulu..",jawab Putri tampak menggantung. Ada raut kesedihan selintas dari wajahnya. Mengenang sang bos yang telah tiada.
"Oh,iya saya agak bingung...lalu setelah...maaf, atasanmu tiada...untuk apa Putri membuat semua laporan ini...toh,maksud saya tak ada yang mengawasi dan mengecek semua pekerjaanmu ini ?",tanya Junta halus menyelidiki. Ia tak ingin gadis dihadapannya mengetahui dan merasa dirinya menginterogasinya.
"Hmm ..pengacara pribadi ? Apa kau tahu namanya ?",tanya Junta kembali.
"Iya,tentu...Pak Jayadiningrat...pengacara yang terkenal itu,Pak..kami memanggilnya dengan Pak Jay..",jawab Putri kembali.
"Oh..begitu..",respon Junta singkat. Ia teringat seorang pengacara yang datang ke kantornya tempo lalu mengurus surat kematian korban.
"Oh iya, berarti seluruh transferan pendapatan restoran,kau transfer ke pengacara pribadi tersebut ?",tanya Junta kembali.
"Hmm..tidak,pak. Uang pendapatan restoran dipegang oleh saya. Saya memiliki rekening khusus untuk pendapatan restoran yang biasanya akan saya setorkan kesana. Pak Jay hanya menerima rekap dan laporan tertulis dari yang saya buat..",terang gadis berhijab itu kembali.
"Hmm...kalau begitu, apakah kau menyetorkan pendapatan harian restoran setiap harinya ? Atau mingguan ? Atau bagaimana prosedurnya ?",tanya Junta kembali.
"Hmm...maaf pak sebelumnya...kenapa kita jadi membicarakan pekerjaan saya ya ? Bukankah bapak datang untuk menanyai dan menyelidiki kematian ibu Rumayyah ?",tanya gadis dihadapan Junta kritis.
__ADS_1
"oh,maaf...anda benar, Dik Putri. Saya kesini untuk menanyai perihal korban. Tapi saya rasa saya tertarik dengan ceritamu tentang pekerjaanmu. Maksud saya, saya penasaran setelah kematian korban, bagaimana dengan tugasmu mengenai keuangan direstoran ini dan kepada siapa kamu akan melaporkannya ? Maksud saya siapa yang akan menggantikan posisi bosmu itu..",jawab Junta sedikit berbohong. Ia menjawab seolah ia tak mencurigai gadis itu. Ia tak ingin gadis itu mengetahui bahwa ia pun tengah menyelidiki dirinya. Ia khawatir akan membuat gadis itu panik dan merusak proses investigasi yang dilakukannya.
"Oo..begitu...baiklah...maaf pak jika saya sedikit lancang...kalau begitu saya lanjutkan pertanyaan bapak tadi... Yah..jadi semua uang ada dalam rekening khusus yang saya pegang dengan kartu ATMnya. Pak Jay biasanya hanya mengecek laporan keuangan yang saya buat. Beliau sudah mempercayakannya ke saya untuk tugas keuangan yang saya lakukan..",ucap Putri kembali.
"Wah..kalau seperti itu berarti kamu hebat ya..hmm...maaf kalau pertanyaan saya sedikit melenceng dan agak lancang..sebagai seorang cashier...tentu Dik Putri biasa memegang uang cash...dan..Dik Putri sudah dapat kepercayaan penuh dari atasan Dik Putri.."
"....Hmm...berarti kamu bisa donk sesekali meminjam uang cash yang kamu pegang untuk keperluan apapun..atau jika seandainya...saya sebagai kawanmu, butuh bantuan uang, tentu saya bisa meminta tolong dan meminjam uang cash pendapatan sehari-hari diresto ini...toh nanti kan akan diganti...dan Dik Putri tidak perlu laporkan bukan..?",tanya Junta memancing gadis dihadapannya itu.
"Hmm...yah tentu bisa...apa yang bapak katakan ada betulnya..",ucap Putri tampak mulai ragu menjawab pertanyaan Junta.
"Kalau begitu apakah kau pernah melakukannya ?",ucap Junta kembali.
"Hmm...maksudnya bapak menuduh saya menilep uang hasil restoran ini ?",tanya Putri mulai curiga. Ia merasa lelaki dihadapannya tengah berupaya menuduhkan sesuatu negatif padanya.
"Oo..bukan seperti itu. Saya hanya butuh informasi sebenarnya saja...yang mungkin akan berguna dalam penyelidikan kasus ini..",terang Junta kembali. Ia mulai awas dengan kecurigaan gadis itu padanya. Tapi ia tak berupaya menjebak gadis itu, karena jika salah maka ia bisa menggiring sebuah opini yang mungkin akan membuat seseorang yang tak bersalah menjadi tertuduh.
"Hmm...sebenarnya...ada sesuatu...tapi saya khawatir ini akan menimbulkan fitnah,Pak..tapi saya tidak tahu, apakah ini akan berguna dalam penyelidikan polisi terhadap kasus pembunuhan ini..",ucap Putri menggantung. Ia tampak ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu. Tetapi Junta adalah seorang polisi yang matang dan cerdas. Ia dapat membawa lawan bicaranya itu merasa nyaman mengatakan apapun yang ia butuhkan.
"Hmm..tak apa..ceritakan saja..mungkin keteranganmu bisa membantu kami mengungkap semuanya..saya berjanji akan menyimpan apapun yang kamu katakan kepada saya,dan saya pastikan tak akan ada seorang pun yang tahu kecuali saya..",ucap Junta dengan nada tenang.
"Hmm...sebetulnya apa yang bapak katakan benar...saya sering menutupi semua keuangan di restoran...",ucap Putri pada polisi dihadapannya itu.
"Maksudnya ?saya kurang mengerti...bisa,Dik Putri jelaskan ?",tanya Junta dengan senyuman berupaya menenangkan gadis berhijab dihadapannya itu.
"Hmm...sebenarnya seseorang pernah mencuri uang yang ada dalam meja cashier... Saya mengetahuinya karena setiap bill yang keluar akan selalu terinput dalam tablet ini.Dan tidak ada satu pun orang yang bisa membuka semua bill yang tercatat otomatis dalam tablet ini kecuali saya dan Bu Rumayyah dahulu. Semua menggunakan password..",terang Putri pada Junta.
" Terus...kau tahu siapa orangnya ?", tanya Junta memancing kembali.
"Saya tidak terlalu yakin pak..itu kenapa saya khawatir ini akan menimbulkan fitnah..",ucap Putri.
" Mungkin seorang pengunjung restoran yang mencurinya ? Apakah saat terjadi kau tidak ada dimeja cashiermu ?",tanya Junta kembali.
" Betul,Pak. Saya tidak ada di meja cashier saat itu. Saya sedang istirahat sholat saat itu. Saya merasa..tidak mungkin pengunjung yang mencurinya. Karena untuk membuka box uang mereka harus menekan sebuah tombol pada tablet ini, agar bisa membuka kotak uang penyimpanan. Dan..yang mengetahui hal itu hanyalah para pegawai restoran. Karena tombol tersebut dapat diakses siapapun tanpa menggunakan password khusus.Dan...saat saya cek pendapatan harian, saya melihat ada ketidaksinkronan antara bill yang tercetak dengan catatan softcopy pada tablet ini..",terang Putri kembali.
__ADS_1
"Hmm...saya mengerti maksud,Dik Putri. Kalau begitu, bisa kau tunjukkan pada saya bagaimana akses penggunaan komputer atau tablet dalam cashier sehari-hari ?" tanya Junta pada gadis itu. Putri hanya menganggukkan kepalanya. Ia pun mengajak Junta melihat ke meja cashiernya. Ia menunjukkan pada lelaki itu bagaimana cara kerja penggunaan akses masuk kotak uang maupun pencetakan bill dan penyimpanan data keuangan di tablet yang digunakannya. Junta menyimak semuanya dengan seksama. Tapi mereka lupa sebuah CCTV yang terpasang di dekat meja cashier merekam semua yang mereka lakukan malam itu. Dan...Putri lupa bahwa setiap orang bisa mengakses CCTV yang ada disana melalui tablet ataupun handphone yang mereka miliki.