Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 30: Pertemuan Junta dan Amalia


__ADS_3

"Selamat sore.." ucap Junta ramah sambil menyalami gadis dihadapannya itu. Kantin sore itu tak terlalu rame. Hanya ada beberapa orang polisi yang sedang mengopi disana.


"Sore,Pak.." ucap Amalia tenang. Kali ini Junta memperhatikan gadis itu dari jarak yang sangat dekat. Lelaki itu mengakui paras rupawan gadis dihadapannya itu. Raut dan bentuk struktur wajahnya nyaris mendekati sempurna. Kulitnya tak terlalu putih seperti kebanyakan wanita yang sering ia temui selama ini. Mereka memiliki kulit putih yang entah karena perawatan dokter kulit yang mahal atau krim-krim pemutih abal-abal yang dijual dipasaran bebas dengan kandungan yang berbahaya bagi kesehatan mereka sendiri. Standar kecantikan yang dibuat dan dikenal semua orang selama ini salah satunya adalah kulit yang putih. Tetapi, Amalia telah merubah pandangan orang akan itu. Tak terkecuali bagi Junta yang ada dihadapannya saat ini.


"Begini, Pak...saya..."


"Tunggu dulu mbak...maaf..sebaiknya panggil saya mas Junta saja.Kalau Pak terlalu formil dan tua buat saya..Saya belum menjadi bapak-bapak dan belum menikah kok..", potong Junta seketika. Junta memang baru menjabat menjadi polisi selama 3 tahun sejak ia lulus dari akademi kepolisian. Tetapi kecerdasan dan prestasinya dalam bekerja, membuatnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi magister di bidang hukum pidana dan kenaikan jabatan.


"Oh iya..maaf pak ..eh mas Junta..." ucap Amalia tampak canggung.


"Begini mas..hmm..saya ingin menanyakan sesuatu mengenai penyelidikan kasus pembunuhan pemilik restoran Tiam itu..apa saya boleh tahu mengenai progres penyelidikan polisi saat ini ?" ucap Amalia terdengar sedikit canggung.


" Untuk hal itu saya sudah beritahukan lewat telepon bukan ? anda bisa update kemajuan kasus itu di website kami ..atau kami pasti akan sampaikan ke publik jika ada update terbaru dari kasus tersebut.."


" Yah..saya tahu mas...yang anda bilang itu...tapi, tidak adakah dari pihak kepolisian mencurigai seseorang sebagai tersangka untuk masalah ini sampai sekarang ?" lanjut gadis itu menatap polisi dihadapannya. Entah mengapa jantungnya berdebar-debar kala menatap pria dihadapannya itu. Ia merasa lelaki itu sungguh-sungguh telah membalas tatapan matanya secara dalam. Amalia merasakan sedikit hangat dikedua pipinya. Hangat yang menjalar yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


"Ish...apa sich ini..kenapa jadi deg-degan gini..jangan ge-er donk, Mel..", ucapnya membatin. Junta tiba-tiba saja melambaikan tangannya ke arah seorang pedagang di kantin itu. Seorang wanita muda dengan pakaian dan wajah lusuh tapi ramah menghampirinya.


"Eh..iya mas Junta...mau pesan apa ?" ucap si perempuan tersenyum-senyum sambil melirik gadis yang ada dihadapan pria itu.


"Saya pesan strawberry milk shake satu, mbak Ras..mbak Amalia mau pesan apa ? tenang...saya yang bayar...",ucap Junta tersenyum ramah.

__ADS_1


"Saya es jeruk saja satu,mbak.." ucap gadis itu berupaya tetap tenang dan profesional.


" Baiklah...maaf untuk intermezzonya tadi...ada lagi yang ingin mbaknya tanyakan ?" tanya Junta sambil melirik jam tangannya.


" Pak,eh..maaf mas..sampai saat ini tidak adakah seseorang yang mengaku sebagai anggota keluarga menghubungi pihak kepolisian untuk menanyakan mengenai jenazah korban ?"


"Belum...sampai sekarang tak ada satupun orang yang datang kepada kami, jika sampai besok tak ada yang mengakui korban, maka kami akan kuburkan selayaknya..." ucap Junta kembali. Amalia terdiam mendengar penjelasan polisi muda dihadapannya itu. Pikirannya melayang entah kemana. Haruskah ia menceritakan tentang pak Darsim ? Ia khawatir ia salah mengambil keputusan. Tapi...ah sudahlah kucoba pancing saja,pikirnya.


" Mas Junta, maaf sebelumnya, sebentar..."Amalia merogoh tas ranselnya.Ia mengambil sesuatu dari dalamnya. Selembar kertas glossy ukuran A4 khusus untuk mencetak foto. Dua buah gambar besar wanita tercetak diatasnya. Setengah halaman tercetak gambar foto hitam putih dan setengah lainnya mencetak foto seorang wanita berwarna. Amalia telah mempersiapkan sebelumnya. Ia menscan foto istri pak Darsim yang diberikan padanya. Kemudian ia cetak ulang bersama dengan gambar foto pemilik restoran Tiam yang ia dapatkan lewat internet.


"Ini ..coba bapak eh mas...maaf... perhatikan dengan seksama...mungkinkah kedua wanita ini adalah orang yang sama atau mereka orang yang berbeda dan kebetulan mirip menurut mas Junta ?" ucap Amalia kepada polisi dihadapannya itu. Ia pura-pura bodoh dan tak tahu mengenai hal ini. Ia ingin tahu tanggapan dari polisi muda dihadapannya itu. Amalia tak ingin bertindak gegabah yang bisa membahayakan bagi dirinya. Tapi ia tahu ia tak dapat bergerak sendirian dalam kasus ini. Ia harus bekerjasama dengan pihak kepolisian. Karena mereka yang memiliki mayat korban dan berbagai barang bukti lainnya yang tak mungkin ia dapatkan sendirian.


"Hmm...coba saya lihat dahulu..." Junta melihat dengan seksama dua gambar foto di selembar kertas foto ukuran A4 itu. Ia mengerutkan dahi sambil menopang dagu dengan tangan kiri sedangkan tangan lainnya memegang lembaran foto tersebut.


"Silahkan mas dan mbaknya diminum ..." ucap pelayan itu tersenyum ramah pada Junta dan Amalia.


Amalia tersenyum ramah sambil mengucapkan terima kasih sedangkan Junta yang sibuk menatap gambar hanya menganggukkan kepala tanpa melirik sedikitpun ke pelayan tersebut.


"Hmm ...saya belum dapat memastikan tapi ini terlihat hampir persis sama...seperti satu orang...ngomong-ngomong darimana mbak dapatkan kedua gambar ini ?"


" Hmm...saya dapatkan ini dari internet pak .." ucap Amalia tampak ragu untuk mengatakan perihal sebenarnya.

__ADS_1


"Kedua gambar ini ?" tanya Junta kembali padanya sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Yang satu saya dapatkan dari internet...dan yang lainnya saya dapatkan dari seorang narasumber tulisan saya. Kebetulan saat itu saya melihat fotonya terpampang dirumahnya,kemudian saya foto dengan camera saya.."ucap Amalia berbohong. Ia masih ragu untuk mengungkapkan yang sebenarnya pada polisi itu. Bukan ia tak percaya pada polisi muda dihadapannya itu. Tapi...ia khawatir keselamatan pak Darsim dan anak semata wayangnya itu.


"Hmm..bolehkah saya minta ini dari anda...saya akan coba dengan staf IT disini untuk mengecek kemungkinan foto ini adalah foto yang berasal dari satu orang yang sama..mungkin ini akan berguna bagi kami juga dalam penyidikan ini.." ucap Junta menatap gadis dihadapannya itu.


"....Dan...jika benar ini orang yang sama maka ini akan menjadi titik terang dalam penyidikan ini mbak Amalia...yang mungkin akan sangat berguna dalam mengungkap pelaku pembunuhan yang sebenarnya..Dan...anda telah membantu kami pihak kepolisian dalam penyidikan ini..."terang Junta tersenyum ramah. Ia menyeruput strawberry milkshake dihadapannya itu.


"Silahkan diminum dahulu, mbak.." ucap Junta pada Amalia. Entah mengapa kini lelaki itu yang merasa sedikit canggung dengan wanita dihadapannya. Ia terbiasa melihat wanita yang jauh lebih cantik dari perempuan dihadapannya ini. Tetapi baru kali ini ia merasa sedikit kikuk dalam hubungan profesionalisme pekerjaan dengan mitranya itu.


Amalia menyeruput es jeruk dihadapannya itu hingga habis.


"Jika anda menemukan sesuatu informasi yang baru mengenai ini...bisakah anda menghubungi saya memberitahukannya sesegera mungkin mas Junta ?" ucap Amalia memberanikan diri. Seperti seseorang yang tengah bernegosiasi, ia tak ingin kehilangan bargain positionnya pada lelaki dihadapannya itu.


"Baiklah..jika ada sesuatu yang baru terkait foto ini...saya akan kabari anda lagi, mbak Amalia", ucap Junta yang tengah menghabiskan pula strawberry milkshake dihadapannya itu.Ia tersenyum melihat keberanian gadis itu padanya.


"Baiklah kalau begitu...terima kasih untuk waktu anda,mas Junta...dan untuk traktirannya...Foto ini boleh anda bawa saja dan tak perlu dikembalikan lagi pada saya...saya memiliki softcopyannya..",ucap Amalia. Ia beranjak berdiri dan berlalu dari hadapan lelaki didepannya itu. Ia menyalami pria itu sambil tersenyum. Sebuah senyuman lebar yang memperlihatkan barisan gigi putih rapinya. Wajahnya tampak semakin bersinar terlihat cantik dihadapan polisi muda itu.


Deg! entah kenapa Junta merasakan sesuatu mengalir didalam dadanya.


Amalia pun berlalu menuju parkiran motornya. Ia menstarter motor maticnya. mengenakan masker dan helmnya kembali. Berjuang dalam kerasnya hidup dan hiruknya ibukota. Ia melajukan motornya meninggalkan gedung kepolisian.

__ADS_1


***


__ADS_2