Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 13 : Kisah Cinta Darsim


__ADS_3

Mursidah masih berusia 16 tahun saat menikahi lelaki yang usianya terpaut 10 tahun lebih tua darinya. Darsim kala itu memiliki kedai warung bakmi di kota Wonosari. Tempat kelahirannya. Ia bertemu Mursidah yang merupakan salah satu pelanggannya yang kerap mampir ke kedainya. Mursidah tinggal tak jauh dari rumahnya. Bisa dikatakan Mursidah adalah salah seorang tetangganya.


Beruntunglah Darsim, kala itu orang tua Mursidah hanya seorang petani dan buruh tukang cuci menilai Darsim merupakan salah seorang tetangga yang dikenal baik dan santun. Di kampungnya, orang tua Darsim juga memiliki toko sembako yang cukup laris bagi para agen ataupun tengkulak mengambil barang untuk dijual kembali secara eceran. Pada masa itu di kampungnya, hal ini dianggap sebagai tanda kemakmuran dan kesuksesan. Hingga tanpa perlu susah payah Darsim akhirnya bisa menikahi Mursidah.


Mursidah kala itu sama seperti kebanyakan wanita Jawa pada umumnya. Ia memiliki kulit sawo gelap karena terbiasa membantu ayahnya di sawah ataupun di ladang, tubuh yang montok berisi, wajahnya khas perempuan Jawa dengan hidung kecil yang tak mancung, bibir tebal berisi, alis hitam


yang cukup lebat, pipi bulat dan bentuk wajah oval telur. Wajahnya biasa saja bagi Darsim kala itu. Tetapi, sifat penurut dan manut pada orang tua serta sopan santun dengan tutur kata lembut menjadi daya tariknya bagi lelaki itu. Ia menikahi Mursidah tanpa perlu halangan berarti.


Saat itu Darsim yang memiliki warung kedai bakmi menjadikan tempat mata pencahariannya itu sekaligus tempat tinggal membangun rumah tangga bersama Mursidah. Ia membangun tingkat kedainya dengan hasil tabungannya sendiri. Sebuah tingkat hanya untuk membangun sepetak kamar tidur untuk dapat ditinggalinya bersama istrinya itu.

__ADS_1


Tahun berganti tahun...


Saat itu Mursidah telah memiliki seorang anak perempuan. Seiring berjalan waktu ia tumbuh besar. Bayi yang dinamakan Ayundra Cantika pun perlahan tumbuh besar. Usianya perlahan beranjak memasuki 2 tahun. Mursidah mulai merasa begitu sempit tinggal dikamar sepetak dilantai 2 kedai bakmi suaminya. Belum lagi saat ia harus membantu melayani para pelanggan saat ramai...Ia harus menggendong anaknya dipundak belakangnya. Tidak mungkin ia tinggalkan sendirian dilantai 2.


Akhirnya Mursidah membujuk suaminya untuk pindah saja ke Jakarta mencari penghidupan yang lebih baik. Setelah dengan berbagai pertimbangan, Darsim mengikuti kemauan istrinya itu. Ia menjual kedainya dan membeli sepetak rumah sederhana di kawasan pinggiran Jakarta.


Hingga tepat ketika usia Mursidah 21 tahun, dan anaknya Ayu berusia 5 tahun, Mursidah mendapatkan panggilan dari yayasan tempat penyalurannya itu untuk bekerja menjadi TKW di Hongkong. Darsim yang sebenarnya ingin menghalangi kepergian istrinya itu,tak dapat berbuat apapun. Ia menyadari harga dirinya sebagai lelaki yang tak sanggup menafkahi istri dan anaknya, membuatnya tak bisa menahan kepergian istrinya itu.


Awal-awal Mursidah di Hongkong, ia masih mengirimi surat dan uang ke suaminya melalui wesel. Tapi setelah setahun berlalu, Mursidah tak mengirimi apapun kecuali uang sekolah untuk kebutuhan Ayu pada suaminya itu. Ia pergi tanpa kabar apapun. Menghilang begitu saja. Darsim coba mencari melalui yayasan penyalurnya, tetapi menurut kepala pengurus yayasan, Mursidah memiliki kontrak dengan mereka hanya selama 1 tahun. Setelahnya mereka tidak memiliki tanggung jawab apapun terhadapnya. Mereka pun mengatakan kala habis kontraknya itu, Mursidah tidak mau balik ke Jakarta dan ia telah memiliki pekerjaan sendiri disana yang akan ia urus semuanya sendiri.

__ADS_1


Darsim merasa marah, sedih, kecewa, semua bercampur aduk saat itu. Ia bahkan tak tahu status hubungannya dengan Mursidah. Menikah lagi ? pernah terlintas hal itu didalam dirinya. Tetapi ia urungkan niatnya mengingat perekonomiannya saja yang masih sulit untuk membiayai dirinya dan Ayu. Bahkan ia masih mendapatkan asupan bantuan uang untuk mencukupi biaya kebutuhan sehari-hari dan sekolah putri semata wayangnya.


Darsim terduduk diam bersandar di dipan kayu sederhananya dengan alas kasur kapuk yang telah tepos dan kumel itu. Ia termenung menyesali hidupnya. Seandainya ia masih berada di kampungnya itu...kehidupan rumah tangganya tak akan sepelik ini. Mungkin mereka hidup bahagia meskipun tidak mewah, tapi Darsim yakin bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan kedai bakmi yang dimilikinya. Mungkin juga ia telah menjadi pengusaha bakmi sukses di kampungnya. Bisa membuka cabang disana-sini.


Seandainya ia tak memperturuti kemauan istrinya itu untuk pindah ke Jakarta....dan berbagai andai-andai lainnya yang datang melintas dibenak lelaki tua itu...


Darsim tengah membuka layar handphonenya membaca setiap chat lama yang ia baca dari seorang lelaki yang mengaku suami baru Mursidah. Ia mengancam dirinya untuk tidak lagi mendekati wanita itu dan memeras uangnya.


Bangsat! Kau kira aku sebejat itu memeras uang dari seorang wanita!Ada kau yang telah merusak rumah tanggaku!Dasar laki-laki biadab!umpat Darsim dalam hati.Ingin rasanya ia membunuh laki-laki itu seandainya ia tahu siapa pengirim SMS ini...

__ADS_1


__ADS_2