Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 18 : Wawancara Pak Darsim II


__ADS_3

"Bapak, boleh tahu saya kisah perjalanan hidup bapak dengan Ayu ?" tanya Amelia siang itu di mesjid Al-Fatah yang tampak sepi. Hanya ada dia dan pak Darsim setelah beberapa orang tadi ikut shalat berjamaah di mesjid itu. Pak Darsim mengajaknya ke sebuah ruangan kecil di area mesjid itu. Biasa digunakannya sebagai tempat beristirahat ,kala ia menjadi marbot setelah membersihkan seluruh area mesjid.


Amelia menyalakan tombol recorder nya.


"Hmm.. begini kisahnya..." pak Darsim akhirnya menceritakan kisahnya kepada Amelia. Bagaimana dahulu ia pindah ke Jakarta. Tetapi ia tak menceritakan detail mengenai Mursidah, ibu kandung Ayu.


"Jadi setelah Ayu berumur 5 tahun...ibunya pergi meninggalkan saya dan Ayu entah kemana...hingga kini tak ada kabar darinya ..Ayu tidak tahu mengenai hal ini mbak Amel...Saya bilang ke Ayu kalau ibunya sudah meninggal sejak ia berusia 5 tahun...", jelas pak Darsim bercerita mengenai kisah hidupnya hingga ia tinggal di Jakarta.


"Hmm ...bapak tidak coba mencari tahu kemana ibunya Ayu ? Maaf sebelumnya pak..apakah ibunya tak meninggalkan surat atau apa gitu yang memberitahukannya kemana ia pergi ?" cecar Amel sesopan mungkin. Ia merasa janggal dengan pernyataan pak Darsim.. Masa iya ada suami tak tahu sama sekali istrinya pergi kemana dan menghilang bertahun-tahun tanpa kabar. Atau minimal masa tak ada usaha untuk mencarinya sich ?,ucap Amel membatin.


"Hmm..bagaimana ya saya mengatakannya ..." pak Darsim tengah menimbang-nimbang sesuatu. Ia ingin bercerita pada gadis dihadapannya ini tapi ia orang luar yang baru dikenalnya. Hanya...ia merasa gadis ini mungkin dapat membantunya dalam masalah pribadinya ini.


"Kenapa pak ?"tanya Amel tiba-tiba melihat perubahan raut wajah lapak Darsim. Ia tampak tengah berfikir dan ragu-ragu. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ia tahan.


"Ada yang mau bapak katakan ?"tanya Amel pelan.. Ia khawatir terlalu memaksa si respondennya ini.


"Boleh tanpa direkam mbak ?"jawab pak Darsim sambil menatap ke sebuah kotak kecil hitam dengan lampu merah menyala.


Amel mengangguk yang kemudian diikuti dengan mematikan tombol rekaman pada recordernya.


"Sebenarnya... Ibu kandung Ayu dahulu meminta izin pada saya untuk menjadi TKW di Hongkong.. Ia kasihan melihat saya membanting tulang untuk mencukupi kami..Ayu yang mulai beranjak tumbuh, perlahan membuat saya dan istri merasa kewalahan mencukupi biaya hidup di sini..belum ditambah persiapan masuk sekolahnya..." ucap pak Darsim sambil menghela nafas. Ada guratan kesedihan diraut dan nada suaranya saat bercerita.


" Tahun-tahun pertama istri saya bekerja di Hongkong ia masih memberikan kabar melalui surat dan uang yang ia kira lewat wesel..."


"Tapi setelahnya....ia tak mengirimi kabar apapun kecuali sejumlah uang yang cukup untuk membiayai kebutuhan saya dan Ayu sehari-hari serta uang sekolahnya.."


Sejak itu..saya tak mendapatkan kabar apapun kembali darinya..Saya tak tahu ia masih hidup atau bagaimana....saya coba mencari melalui yayasan yang menyalurkannya kesana...tetapi mereka berkata kontrak kerja istri saya dengan mereka hanya setahun saja...setelahnya penyalur tersebut tak tahu menahu kemana Mursidah..dan bukanlah tanggung jawab mereka kembali setelah kontrak tersebut berakhir ..Hingga...",pak Darsim tak dapat menahan airmata dipelupuknya. Ia meneteskan airmata yang sejak tadi coba ditahannya. Ayu mengeluarkan tissue yang selalu ada didalam tas ranselnya. Pak Darsim mengelap airmata yang tiba-tiba saja mengalir deras dari kedua matanya dengan tissue yang diberikan Amel padanya.

__ADS_1


" Hingga sekitar 2 tahun yang lalu...seseorang mengirimi sebuah paket berisi handphone beserta nomornya. Saya pikir istri saya yang mengirimnya agar kami dapat berkontak lebih mudah. Ternyata dugaan saya salah...


Sehari setelahnya, seseorang menghubungi saya. Ia mengaku suami baru istri saya dan meminta saya untuk tidak mengganggu atau mencari keberadaannya kembali.." ucap Darsim pada Amelia.


"Lalu apakah orang itu memberitahukan namanya ?" tanya Amelia kembali.


" Hmm...iya...kalau tak salah ia berkata namanya Lee .."ucap Pak Darsim dengan mata sembab.


" Trus...apakah ada yang lain ?" tanya Amel.


"Hmm...tidak.."jawab pak Darsim singkat.


"Apakah si Lee menghubungi bapak kembali ? Atau mungkin istri bapak ?" tanya Amelia penasaran.


"Hmm...sepertinya tidak. Saya juga tidak tahu mbak..." jawab Darsim ragu.


"Hmm....begini mbak..beberapa bulan yang lalu ada seseorang menghubungi saya. Saya tidak tahu apakah itu orang yang bernama Lee atau bukan. Tapi.. karena pertama kali orang yang mengaku Lee menelepon saya, dan saya tahu cara bicaranya. Suaranya tegas dan seperti ada logat cina. Bahasa indonesianya pun terlihat baku dan kaku. Tapi...yang menghubungi saya beberapa bulan lalu, hanyalah melalui SMS. Saya tidak tahu dapat darimana ia nomor handphone saya. Hanya saja..dari bahasa yang digunakan saya rasa bukan orang yang sama mbak...yang ini tampak kasar bahasanya dan menggunakan bahasa gaul sehari-hari yang kita kenal..


Awalnya ia mengirimi pesan kepada saya dan berkata bahwa ia tahu keberadaan istri saya sekarang dan dengan siapa ia sekarang. Ia pun mengetahui kalau istri saya masih suka mengirimi uang kepada saya. Ia berbicara seolah tahu semua tentang istri saya.." terang pak Darsim pada Amelia.


"Trus...?"tanya saya semakin penasaran mendengar kisah hidup lelaki tua dihadapan saya ini.


"Yah..akhirnya...saya dan pria itu kami sering chat lewat SMS. Hingga suatu ketika ia memaki saya sebagai lelaki yang tak punya harga diri. Memeras istri untuk mencukupi biaya hidup. Saya merasa terhina dan kemudian mengajaknya bertemu. Lelaki itu pun menerima ajakan saya. Ia memberikan spot untuk bertemu...Dan...saat itulah saya bertemu mbak Amel pertama kalinya.." jawab Darsim kembali.


"What ???Maksudnya waktu kita pertama kali bertemu di taman kota itu ??" ucap Amel dengan terkejut.


Pak Darsim menganggukkan kepala. Wajahnya sayu dan tampak sedih

__ADS_1


"Trus...Trus...bapak ketemu dengan orang itu ?", desak Amel semakin dibuat penasaran.


Hmm...itu mbak masalahnya...


"Saya menunggunya ditaman kota...tetapi ia tak memberikan kabar apapun...sampai 15 menit berlalu...Ia bilang ia masih terjebak macet. Ia memberikan saya sebuah nama jalan, ia menyeru saya untuk tunggu disana saja..karena lebih dekat posisinya saat itu dengannya..Tetapi...saat saya sampai disana...saya melihat dari depan gang telah ramai banyak orang disana dan tak jauh dari sana ada banyak mobil polisi disebuah rumah mewah...Saya bingung saat itu...orang itu pun tak memberikan ciri khusus padanya. Ia hanya berkata ia mengenakan kaos putih dan memegang handphone ditangannya..


Saya tak dapat menemukannya saat itu. Saya hubungi kembali ia tak menjawab SMS saya. Saya telepon, handphonenya non aktif. Saya bingung tak mengerti saat itu...


Saya bertanya pada orang apa yang sedang terjadi disana. Mereka bilang seorang pembantu tewas dibunuh..Entah kenapa tiba-tiba jantung saya berdegup kencang, mbak...


Akhirnya...saya memutuskan pulang ke rumah saja saat itu. Saya merasa ada yang tidak beres dari semua ini, mbak...lantas saya baru melihat di surat kabar esok harinya, dari salah seorang tetangga saya yang berlangganan koran, bahwa seorang wanita bekas TKW di Hongkong ditemukan tewas terbunuh dirumahnya.


Entah kebetulan atau bagaimana..Saya merasa curiga mbak. Tetapi surat kabar menuliskan bahwa wanita itu adalah seorang janda tanpa anak. Tetapi nurani kecil saya merasa..., apakah ini ada hubungannya dengan hilangnya istri saya mbak...Saya tidak tahu harus bercerita kepada siapa..mbak Amel adalah satu-satunya orang yang tahu ini...Entah kenapa saat mbak Amel bertanya mengenai istri saya tadi ...saya merasa mbak Amel mungkin bisa membantu saya ...makanya saya bercerita apa adanya sekarang pada mbak Amel...",terang pak Darsim. Ia terlihat bingung,sedih,emosional, semua tampak bercampur dalam aer dan raut wajahnya.


"Hah ???!..." Amelia tampak benar-benar terperangah dengan pengakuan pak Darsim kali ini. Otaknya berputar dengan cepat. Ia merasa pening memikirkan semuanya.


Ia pun merasa ada benang merah antara keluarga pak Darsim dengan kematian wanita mantan TKW itu dari cerita lelaki tua itu.


Kini otaknya seperti dipenuhi sekumpulan potongan puzzle yang ia harus rangkai untuk membentuk sebuah gambar yang utuh. Dan...ia baru teringat..


Yup, teringat dengan apa yang dikatakan pelayan wanita di restoran Tiam tadi. Apakah semua ini kebetulan ? Atau ini skenario Tuhan padanya ? Seperti sekejap mata saja segalanya terjadi..


Baru kemarin lusa ia bertemu pak Darsim..dan sekarang ia seperti telah mengenal lama keluarga ini dan ia benar-benar terjerumus pada sebuah masalah besar ? Haruskah ia terlibat didalamnya atau ia berlalu saja, dan menyuruh pak Darsim laporkan saja ke polisi...biar polisi yang mengurus...


Tapi...jika ini sebuah benang merah yang saling terhubung..mungkinkah nyawa pak Darsim akan terancam pula jika ia menyuruhnya melapor pada polisi ? Jika sesuatu terjadi pada pak Darsim...kasihan sekali...Ayu akan kehilangan kedua orangtuanya sekaligus...Mungkinkah Amelia akan setega itu ? Atau ia harus ikut terlibat dalam masalah keluarga ini ? Bisa-bisa mungkin nyawanya pun akan menjadi taruhannya...Tapi...,jika ia berhasil, ia pun akan diuntungkan...ini akan menjadi sebuah berita besar...yang mungkin belum ada satu pun wartawan yang memiliki informasi ini...Denyut di kepala Amelia terasa kencang. Semakin ia berfikir,semakin ia merasa pening. Seperti ia tengah merangkai puzzle yang terikat untalan benang merah kusut.


Kini ia tengah berfikir keras...menimbang-nimbang segala resiko yang mungkin akan ia tanggung...

__ADS_1


__ADS_2