
"Mis..giliran kamu..." ucap Rian kepada salah seorang kawannya dibalik dinding berbilik bambu itu.
Misa tampak gugup dan cemas. Ia berjalan dengan masih mengenakan celemek di baju pelayannya.
"Silahkan duduk..."
"Dengan Nona siapa saya berbicara ?" tanya Junta dengan senyum khasnya. Wajahnya tak terlalu tampan. Tapi Junta memiliki wajah karismatik dengan body yang tinggi atletis. Junta membetulkan posisi video camera yang ia bawa dengan sebuah tripod pendek diatas meja makan itu.
" Misa, Pak.." jawab wanita itu.
" Baiklah Nona Misa...tanpa saya banyak berbasa-basi..anda pasti sudah tahu dari kawan anda mengenai kedatangan saya. Kalau begitu bisa anda jelaskan apa pekerjaan anda disini dan bagaimana anda bisa bekerja di Cafe ini ?"
" Sss...ss..saya...baru bekerja disini belum lama, Pak. Kira-kira baru 9 bulan yang lalu. Saya bisa bekerja disini karena saat itu saya membutuhkan pekerjaan. Saya mencari lewat internet. Saya tahu Cafe Tiam saat itu salah satu tempat makan baru yang lagi viral. Saya mencoba peruntungan saya, dengan memasukkan surat lamaran ke sini. Beberapa bulan kemudian saya dihubungi langsung oleh seseorang. Namanya Mbak Ani. Yang dikemudian hari, saya baru tahu, mbak Ani adalah salah seorang pegawai kepercayaan ibu. Tapi saat itu ia akan menikah dan akan ikut suaminya pulang ke Riau. Jadi ia mencari seorang pengganti untuk posisinya kala itu sebagai seorang pelayan di Cafe ini. Jadilah atas suruhan Bu Rumayyah, mbak Ani yang memasang iklan di salah satu media sosial dan membuat sebuah email khusus untuk penerimaan karyawan penggantinya kelak.." jawab Misa pada investigator dihadapannya itu.
"Hmm..trus ? "
"Yah...begitu pak. Saya kemudian datang ke tempat ini sesuai yang mbak Ani minta. Kemudian saya juga bertemu dengan Bu Rumayyah. "
" Apa yang saat itu Bu Rumayyah tanyakan padamu ?"
Misa tampak sedikit gugup. Keringat mengalir dari dahinya. Ia masih tak berani menatap langsung ke arah Junta. Matanya menatap ke dinding disamping Junta. Untuk mengalihkan pandangannya dari sorot mata tajam lelaki dihadapannya itu.
" Saat itu mbak Ani terlebih dahulu yang mewawancarai saya. Ia hanya bertanya seputar CV yang saya kirimkan. Kemudian ia mempertemukan saya dengan Bu Rumayyah.."
"Bu Rumayyah tidak terlalu banyak bertanya,Pak..beliau hanya menjelaskan ia mencari seorang pelayan yang cekatan dan jujur. Jika saya memang ingin bekerja beliau juga berkata gajinya tak terlalu besar disini, tapi jika saya serius ingin bekerja disini, saya bisa langsung memulai besok.." ucap Misa.
" Hmm...baiklah. Lalu kau bekerja disini esoknya hingga sekarang. Jika memang gajinya tak terlalu besar, kenapa kamu mau bekerja di Cafe ini ?"
"Hmm...karena saya membutuhkan pekerjaan pak. Saya punya 3 orang anak. Suami saya satpam di sebuah mall. Kami masih mengontrak rumah.Jika saya mengandalkan penghasilan suami saya, tidak akan cukup,Pak. Makanya saat ada kesempatan ini,saya ambil pak." ucap Misa tertunduk.
"Hmm..saya mengerti. Bagaimana sikap Bu Rumayyah selama kau bekerja disini ?"
" Bu Rumayyah cukup baik, Pak. Meskipun ia seseorang yang keras dan kadang pemarah..ia tidak pernah memecat kami.."
__ADS_1
" Kau pernah dimarahinya ? bagaimana kalau Ibu sedang marah ?" tanya Junta pada wanita dihadapannya.
"Yah..pernah,Pak. Namanya orang bekerja, pasti pernah dimarahi atasan. Ibu pernah memarahi saya. Saat itu ada seorang pelanggan datang ke tempat ini. Saya tidak tahu, ia seorang pelanggan disini. Tetapi, karena saat itu kondisinya ramai. Saya sedang melayani pengunjung yang lainnya. Pria itu memanggil ibu lantaran lama dilayani ditempat ini. Ibu lantas datang memanggil saya. Kemudian...beliau memarahi saya habis-habisan dihadapan tamu itu.."
" Apakah sering beliau begitu kepada karyawan lainnya ?"
"Iya,pak. Hampir dari kami pernah mengalami hal seperti ini.. Hmm...Ibu Rumayyah seorang yang perfeksionis. Pelanggannya pun kadang orang-orang terkenal. Jadi wajar...ibu pengen semua tampil sesempurna mungkin.Tapi..ibu tidak pernah memecat kami pak.."
" Hmm..Mbak Misa...Menurut anda apakah sebelum kematian Bu Rumayyah, ia menunjukkan sikap yang aneh atau mencurigakan ?"
"Hmm...tidak. Tapi kalau tidak salah saya ingat, beberapa hari sebelumnya, beliau sempat bilang akan pergi ke dokter untuk berobat masalah insomnianya yang akut.."
"Oh,ya ? Apakah beliau menyebutkan nama tempatnya ?" selidik Junta antusias. Ia seperti mendapat secercah cahaya dari investigasinya ini.
" Hmm...beliau pernah menyebutkannya saat kami menanyakan ia akan berobat kemana. Sebentar pak..saya coba ingat-ingat....apa ya..hmm...kalau tak salah...ada Cahaya-Cahayanya gitu.." ucap Misa tampak mengernyitkan dahinya. Ia mencoba mengingat kejadian dahulu. Ketika bosnya itu izin untuk pergi siang itu.Karena sudah berhari-hari ia tak dapat tidur nyenyak karena masalah insomnianya.
" Ah...iya..saya ingat Pak. namanya Klinik Cahaya Pelita ", jawab Misa tampak senang karena dapat mengingatnya dengan jelas.
"Baiklah, Nona Misa. Terima kasih untuk wawancaranya hari ini. Jika ada yang saya perlukan kembali dari anda, saya akan menghubungi anda kembali. Oh iya, boleh tuliskan nama dan nomor telpon anda yang dapat saya hubungi ?", Junta menyodorkan sebuah buku note sebesar telapak tangan, yang didalamnya sudah tercatat nama pegawai sebelumnya yang ia wawancarai,yaitu Rian. Misa hanya mengangguk sambil menuliskan nama dan nomor telepon genggamnya. Ia menyerahkan kembali notebook itu sambil menundukkan kepala tanda pamit dari hadapan pria itu.
***
Reni.
"Silahkan perkenalkan nama anda ?" ucap Junta ketika seorang wanita lainnya berdiri dihadapannya.
" Saya Reni. Usia saya 22 tahun."
"Apa pekerjaan atau jabatan anda di restoran ini dan sudah berapa lama anda bekerja?"
" Saya bekerja sebagai chef/koki didapur,Pak. Saya biasa menyiapkan semua pesanan pengunjung. Saya sudah bekerja disini 1 tahun lebih pak."
"Apakah anda menyukai pekerjaan anda disini ?" tanyanya kembali.
__ADS_1
"Hmm..saya suka bekerja menjadi chef sejak dulu."
"Hmm..Berarti anda seorang chef berpengalaman sebelum bekerja disini ? Bisa anda ceritakan pekerjaan anda sebelumnya sampai anda bisa masuk dan bekerja disini ?"
" Iya Pak. Saya dahulu seorang chef di sebuah restoran hotel berbintang 5. Saya bekerja disana selama 3 tahun lebih. Kemudian, kondisi perekonomian yang tidak stabil membuat hotel ditempat saya harus memangkas pegawai mereka. Saya adalah salah satu pegawai tersebut. Kemudian saya mencari lowongan pekerjaan melalui media internet. Saya menemukan restoran ini membutuhkan pegawai. Saat itu, saya lihat restoran Tiam merupakan salah satu restoran yang cukup bagus. Pengunjungnya pun banyak publik figur dan tokoh-tokoh ternama.."
" Hmm...jadi saya coba peluang tersebut dan saya diterima disini., dengan bayaran yang cukup besar. Meskipun tentunya tidak sebesar saat saya bekerja direstoran hotel bintang lima. Tapi, untuk sekelas restoran yang baru berdiri, bayaran saya masih memenuhi standar UMR di ibukota ,Pak. Selain itu, Ibu Rumayyah cukup royal. Koneksinya luas. Beliau pernah mengajak saya jalan-jalan ke Bali.." ucapnya lagi.
"Oh ya, terus ?" tanya Junta mendengarkan cerita Reni dengan seksama.
" Ya...saat itu saya pernah diajak beliau jalan-jalan ke Bali. Hanya saya saja seorang pegawainya,Pak.. Saat itu beliau hubungi saya lewat telepon Jum'at malam. Ia bilang, ia butuh seseorang untuk menemaninya ke Bali besok pagi. Ia memilih saya, karena saya salah satu pegawai yang cukup cerdas dan berpengalaman diantara pegawainya yang lain. Saya mengiyakan keinginan beliau itu. Akhirnya malam itu saya packing. Pagi-pagi ibu Rumayyah menjemput saya bersama seorang supir menuju ke bandara. Kami berangkat dengan pesawat yang jam 7 pagi. Disana, saya tidur sekamar bersama Bu Rumayyah. Kami pulang hari Minggunya dengan pesawat malam pukul 9 kalau saya tak salah ingat,Pak.." ucap Reni yang kemudian menghentikan ceritanya.
" Hmm ...Apakah Bu Rumayyah memberitahukanmu tujuan perjalanannya kesana ?"
"Iya,Pak. Ibu bilang dia berniat membuka cabang cafe Tiam ini di Bali. Perjalanannya ke sana untuk melihat kondisi tempat yang cocok serta prospek lainnya ke depan. Ibu bilang kenapa ia memilih saya, mungkin nantinya jika saya berminat, beliau akan memberikan saya opsi untuk bekerja dan memegang alih kendali untuk restoran yang di Bali," ucap Reni yang tiba-tiba suaranya terdengar pelan.Seperti menahan tangis. Ia melap airmata yang tertahan dimatanya itu.
"Hmm..jadi maksudnya ibu menawarkanmu untuk kenaikan jabatan ? maksudnya untuk menjadi manajer yang menjalankan usaha restoran cabangnya yang nanti akan dibuka di Bali itu ?" tanyanya lagi.
"Yah..kurang lebih seperti itu,Pak.." jawabnya mengangguk tertunduk.
"Bagaimana pandanganmu tentang sosok ibu Rumayyah ?"
" Hmm...ibu orang yang tegas,mandiri, disiplin dan cukup royal sebenarnya.."
"Tapi ...beberapa bulan belakangan ibu sedikit lebih keras dan tegas bahkan cenderung pemarah kepada setiap pegawainya,Pak...mungkin..karena beliau seorang perfeksionis dan cafenya termasuk terkenal..membuat dirinya mempush seluruh pegawainya untuk bisa memberikan pelayanan nomor satu dan terbaik kepada seluruh pelanggannya..Makanya ibu jadi mudah pemarah jika kami berbuat kesalahan kecil saja..."
"Hmm..Apakah menurutmu ada kejanggalan yang ditunjukkan sebelum-sebelumnya sebelum ibu Rumayyah meninggal ?" tanya Junta sambil menghela nafas berat. Ia telah cukup merasa letih. Otaknya masih terus berfikir sambil mata dan lidahnya jeli memperhatikan setiap kalimat yang keluar dari lawan bicaranya.
"Hmm...apa ya ? Ibu belakangan tampak stres sepertinya. Ia pernah bercerita pada saya kalau ia punya masalah gangguan tidur dan mudah cemas/panik saat stres. Makanya ia selalu meminum obat penenang yang diresepkan dokter padanya."
"Dan...sepertinya ibu memang terlihat stress belakangan. Tapi saya pikir hal yang wajar saja..apalagi saya tahu ia akan membuka cabang di Bali...mungkin itu salah satu penyebab stresnya.." jawab Reni kembali.
" Baiklah Nona Reni bisa anda tuliskan nama dan nomor kontak anda disini ? Jika ada sesuatu yang ingin saya tanyakan, saya bisa hubungi anda kembali. " ucap Junta sambil menyodorkan note book yang tadi ia telah berikan kepada orang sebelumnya. Reni mencatatkan nomor telepon selulernya kepada Junta yang ada dihadapannya itu. Tak lama ia pun berlalu dari hadapannya itu. Tinggal Anto dan Putri yang menunggu giliran. Mereka berdua tampak gugup dan gelisah. Reni yang telah selesai tampak menatap kedua kawannya yang lain. Ia hanya tersenyum sambil mengedipkan mata. Memberikan sebuah kode.
__ADS_1
"Giliranmu..", ucapnya.
***