
Deg.
Ayu yang sedang berbicara dengan Pak Herman menatap sekilas pada Ben, dan Ben yang sejak tadi memperhatikan Ayu kini pandangan matanya bertemu dengan Ayu yang lebih berfokus menatap mata hijau nya.
Ayu yang melihat mata hijau Ben membuat jantungnya mendadak berpacu dengan cepat. Ia kemudian mengingat mimpinya saat menjelang pagi tadi— dimana seseorang berkata bahwa jodohnya akan datang menjemput.
Ayu langsung mengalihkan pandangannya pada Pak Herman dan berpamitan pulang. Ben yang melihat sikap Ayu hanya mengerutkan keningnya— merasa heran karena wanita itu memberikan pandangan yang tidak biasa.
Ayu yang kini sudah mengendarai sepeda motornya diam seribu bahasa. Ia terus mengingat mata hijau itu, hatinya merasakan getaran tak biasa tapi dengan cepat Ia menepisnya. Ayu sudah bertekad bahwa Ia tidak akan jatuh cinta pada pria manapun karena Ia sudah tidak percaya dengan makhluk bernama pria.
Meski Ayu memang mengagumi pria bule, dan memimpikan sebuah hubungan juga— bukan berarti dirinya sungguh menginginkan hal itu. Karena sebenarnya Ia hanya sebatas mengagumi dan memimpikan, tanpa harus memiliki.
***
__ADS_1
Malam pun tiba, pukul sepuluh malam Ben kembali ke hotel setelah dua jam nge-gym. Ia merasa itu cukup untuk hari ini. Dengan segera Ia membersihkan tubuhnya, membuka pakaiannya dan melempar asal ke tempat tidur. Hanya butuh beberapa menit Ben sudah selesai dengan ritual mandinya dan segera tidur karena besok adalah hari penting menurutnya yang akan bertemu dengan pemilik perusahaan yang memiliki banyak cabang fitness.
Baru saja Ben mendaratkan bokongnya pada tempat tidur, bunyi bel menghentikan rencananya yang ingin merebahkan diri. Dengan wajah kesal Ben berjalan membuka pintu, namun keningnya berkerut seakan sedang mengingat seseorang yang ada di hadapannya. Sedangkan seseorang yang di tatap oleh Ben, matanya kini membulat sempurna dengan jantung yang berdetak tidak karuan.
" Kau yang di tempat fitness tadikan?" tanya Ben setelah mengingat wanita di hadapannya.
Namun yang di tanya hanya diam dengan memandang mata hijau milik Ben, tapi dengan segera Ia memutus tatapannya dan menunduk.
" Masuklah." ucap Ben dengan ekspresi datarnya.
Ayu pun masuk dan mulai memungut pakaian di dalam kamar Tuan Ben, dan ketika selesai Ia yang hendak pergi di tahan oleh siempunya kamar. Ben yang sudah ahli dalam urusan wanita memegang pergelangan tangan Ayu dan ingin memulai aksinya.
" Kau pasti tertarik padaku kan, sejak melihatku di tempat fitness aku melihat tatapan itu." ucap Ben dengan percaya diri.
__ADS_1
" Aku?" tanya Ayu dengan bingung dan mengempaskan tangan Ben.
" Maaf Tuan Ben, aku kemari ingin mengambil pakaian kotor untuk di laundry. Permisi." ucap Ayu lagi dan bergegas pergi meninggalkan kamar Ben.
Ben yang tidak pernah mendapat penolakan dari seorang wanita sangat emosi. Ia hanya mengepalkan tangannya dan memandang Ayu yang mulai menghilang dari balik pintu. Ia tersenyum tipis dan masih menatap arah pintu yang sudah tertutup
Dengan segera Ben mengambil ponselnya dan menghubungi asisten kepercayaannya.
" Cari tahu wanita yang mengambil laundry hari ini juga." perintah Ben pada Tony saat sambungan telfon terhubung. Ia lalu mematikan telfonnya.
Berbeda dengan yang di seberang sana. Tony mengumpat bos nya dan menghela nafas berat karena bos nya itu menghubungi di saat padatnya pekerjaan yang dihadapi, padahal hanya untuk mencari tau wanita tukang laundry. Dengan malas Ia menghubungi seseorang dan segera mencari tau tukang laundry yang dimaksud Tuannya.
Bersambung....
__ADS_1