
Dua puluh tujuh menit Krystal menunggu hingga tak terasa air matanya mengalir membasahi kedua pipinya yang mulus.
" apa dia sudah pergi" lirihnya karena sudah hampir tiga puluh menit dirinya duduk dibangku itu namun Kyle tak kunjung datang. Padahal setiap Ia duduk di danau ini maka tidak lama pula, Kyle akan datang juga seperti angin yang menerpa wajah cantiknya mengirim pesan pada pria tampan pemilik hati Krystal.
" aku tidak suka air mata itu keluar dari kedua mata indahmu" ucap Kyle yang tiba-tiba datang dan mengeluarkan sapu tangan miliknya. Krystal yang diberi sapu tangan bukannya menerima Ia justru berdiri dan segera memeluk tubuh kekar milik pria tampan yang sangat dirindukannya. Ia menangis terisak sembari membenamkan wajahnya di dada bidang Kyle.
Kyle yang tiba-tiba mendapat pelukan dari Krystal, wanita cantik yang menyerupai barbie itu, kini terkejut apalagi saat wanita yang dicintainya itu menangis. Dengan tangan yang bergetar Ia membalas pelukan wanita cantik pemilik hatinya. Jangan tanya karena kenapa, tapi Krystal lah wanita satu-satunya yang berhasil menyentuh tubuhnya karena saat Ia lahir, dirinya sudah tidak memiliki Ibu hingga sampai besar dirinya hanya dikelilingi oleh para lelaki.
" kenapa kau menangis" tanyanya dengan berusaha menenangkan wanita cantik dalam pelukannya.
__ADS_1
" Not. " jawab Krystal dengan singkat dan segera melepas pelukannya. Ia kemudian duduk kembali begitu juga dengan Kyle.
Kyle terus memperhatikan wajah cantik Krystal. Dimatanya wanita itu tak memiliki kekurangan sama sekali.
" tidak adakah yang ingin kau ceritakan" ucap Krystal dengan lembut sembari menatap kosong ke depan. Sebenarnya Ia ingin memberitahu pada Kyle tentang pria yang datang melamarnya namun, Ia tidak ingin jika nanti Kyle tahu maka pria yang dicintainya itu segera pergi meninggalkan dirinya.
" tidak ada. " ucap Kyle dengan tersenyum manis menatap wanita cantik disampingnya yang pertama kali dilakukannya selama hidupnya. Ia sebenarnya ingin mengatakan tentang pernikahannya dengan seorang wanita, namun diurungkan karena tidak ingin merusak suasana saat ini. Toh dirinya juga sudah merencanakan sesuatu untuk wanita yang akan dinikahinya itu.
Waktu berlalu dengan cepat, hingga tak terasa saat ini sudah pukul enam sore yang berarti akan malam. Harley yang bersiap untuk pulang dan seperti biasa dirinya terlambat pulang karena mengerjakan beberapa berkas tambahan. Ia keluar dari ruangannya dan menuju lift, namun langkahnya terhenti saat mengingat Harvey. Ia segera menuju ruangan wakil presdir dan sangat terkejut saat mendapati kakaknya itu masih bergelut dimejanya bersama tumpukan berkas.
__ADS_1
"Ehemmm..." Harley berdehem seraya melangkah masuk keruangan Harvey.
"kau tidak ingin pulang?" tanya nya pada Harvey namun tidak mendapat jawaban karena Harvey tengah fokus pada berkas ditangannya dan sesekali beralih menatap laptop dihadapannya. Kini Harley semakin penasaran mengapa kakaknya itu berubah menjadi orang yang tekun dalam bekerja.
" kau tidak salah makan, kenapa kau jadi berubah seperti ini?" tanya Harley lagi.
" karena terkadang kita harus melakukan perubahan positif dalam hidup" jawab Harvey dengan bijak dan kembali fokus pada pekerjaannya. Harley yang mendengarnya kini melongo. Ia benar-benar dibuat terheran-heran oleh perubahan sikap kakaknya itu. Tanpa ingin bertanya lagi dirinya segera meninggalkan ruangan itu dan segera pulang. Ia tidak ingin lagi memikirkan tentang Harvey karena itu akan membuatnya menjadi pusing sendiri.
▪︎
__ADS_1
▪︎
Bersambung....