
Suara alunan musik violin terdengar begitu menyayat hati. Krystal bermain dengan lembut seraya merangkai semua kisah hidupnya dari saat Ia kecil hingga saat dewasanya.
Dari saat dirinya hanya orang bodoh bisa berubah menjadi lebih baik saat bertemu dengan ayah Hily yaitu uncle Jeremy. Ia terus bermain dengan penuh penghayatan dan terus mengingat setiap yang diajarkan uncle Jeremy hingga tanpa terasa bulir air mata mengalir di kedua pipinya.
"kau percaya pada kuasa Tuhan kan, jika kau bisa bersabar dan ikhlas pada semuanya...maka, tidak susah untuknya membuat mu menjadi normal lagi melalui seseorang."
Perkataan uncle Jeremy pada Krystal saat berusia tujuh belas tahun, kini masih teringat jelas di ingatannya. Ia kini larut dalam permainan biola nya dengan tangis tanpa suara.
Sedangkan dibawah sana tepatnya dihalaman mansion. semua tamu undangan kini tengah menikmati alunan musik violin yang entah dari mana. Ayu yang mengetahui bahwa suara itu dari putrinya kini menggenggam dengan erat tangan suaminya.
Sepersekian detik Ia menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Ben lalu menangis dengan menggigit bibirnya untuk tidak mengeluarkan suara tangis itu. Jika putrinya menderita, jauh di lubuk hatinya Ia lebih menderita lagi. Terkadang Ia berfikir, seandainya dengan menukar hidupnya maka putri bungsunya bisa hidup normal, pasti dengan senang hati Ia akan melakukannya. Namun, semua sudah menjadi kuasa Tuhan.
__ADS_1
Ben yang merasa istrinya saat ini sedang menahan tangis dengan segera meninggalkan tempat acara dan membawa istrinya masuk mansion.
Harvey dan Harley yang mendengar setiap alunan violin yang bersumber dari adiknya hanya mampu terdiam. Mereka tidak tau harus berbuat apa, karena setiap tahunnya memang selalu seperti ini. Harvey yang tidak tahan dengan situasi sekarang segera berlalu. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang berbicara padanya.
"Kurasa..., orang yang menyiapkan acara ini adalah orang baik. Bahkan sebotol wine ada di atas meja." ucap gadis cantik yang tengah berdiri dengan anggun didekat meja dekorasi. Ia menuangkan wine kedalam gelas dan memberinya pada Harvey.
"minumlah, siapa tau kita bisa bertemu dikemudian hari" ucapnya lagi dan memberikan segelas wine itu pada Harvey yang masih terdiam. Ia kemudian segera berlalu meninggalkan acara itu.
Harvey kini hanya diam ditempat dengan memandang punggung gadis cantik yang memberinya segelas wine. Dengan sigap ia meneguk habis minuman itu dan segera masuk mansion, tujuannya adalah menemui adiknya yang pasti sedang bersedih.
Dikamar utama mansion Murray tampak Ayu sedang memeluk suaminya dengan erat di tempat tidur. Ia belum berhenti menangis karena teringat putri bungsunya.
__ADS_1
"sudahlah, mereka punya takdir berbeda." ucap Ben menangkup wajah cantik istrinya agar melihatnya.
"putri kecil kita itu akan menikah dengan pria hebat." ucapnya lagi lalu mengecup singkat bibir istrinya. Ia lalu memeluknya lagi.
"Dad, Mom.." panggil Krystal yang tiba-tiba masuk ke kamar utama. Krystal berjalan mendekat pada Daddy juga Mommy nya dan dengan segera Ben menuntun putrinya dan duduk di pinggir tempat tidur.
"aku sangat bahagia, karena sudah berulang tahun yang itu berarti aku semakin dewasa kan dad'." ucap Krystal dengan tersenyum. Ben segera memeluk putrinya dan mengusap lembut rambut panjang Krystal.
"Apa Daddy dan Mommy melupakan putra tampannya?" seru seseorang yang berdiri di ambang pintu. Ia adalah Harvey dan disampingnya Harley.
Kedua pria tampan itu pun berjalan mendekati Daddy dan Mommny nya. "apa kau juga ingin dipeluk" goda Ayu pada kedua putranya hingga membuat Harvey dan Harley tersenyum kecut. Ben dan Ayu pun tertawa begitu juga dengan Krystal juga Harvey dan Harley.
__ADS_1
Ayu kini menghentikan tawanya dan memperhatikan wajah suaminya serta ketiga anaknya yang tertawa dengan bahagia. Ia kemudian tersenyum bahagia melihat keluarga kecilnya yang tengah berkumpul.
...TAMAT...