
“Mas... Mas Derris ayo bangun hehehe,” Sri Dewi sudah memakai daster midi yang menampakkan belahan dadanya.
Dalam tidurnya yang pulas Derris sedang bermimpi naik sepeda motor.
“Ngeng ngeeengg ngeeeenggg bruum bruum,” begitulah suara dari mulut Derris.
“Hihihihi mas Derris lucu, pasti mimpi naik motor.” Sri Dewi tersenyum-senyum karena tanang Derris di pundaknya.
Dalam alam bawah sadarnya, Derris sedang menggeber kuda besinya. Stang tangan yang ia plintir-plintir itu adalah pundak Sri Dewi. Sontak membuat Sri Dewi mendesah keenakan karena terangsang oleh sentuhan Derris yang masih tidur.
“Auuuhhhh uhhhh uhhhh isssshhhh uuuhhhhh,” Tiba-tiba telinga pak Muji mendadak terkontaminasi oleh suara sakral khas orang berkembang Biak.
Cangkir kopinya yang habis itu hendak dibawa ke dapur untuk dicuci, saat melintas di depan kamar Derris kok ada suara absurd. Seolah ada wanita yang berjuang keenakan apa meronta-ronta gitu.
“Eh mas Derris kok udah mukai puber ya hihihi, nguping ah.” Pak Muji menempelkan daun telinganya di pintu.
Suara erangang Sri Dewi begitu teratur dan samar-samar. Membuat pak Muji semakin asik membayangkannya.
“Ckckckckc asik tuh ntar malam buat tempur sama istri hihihi.” Mesam-mesem seorang diri sambi menguping suara anaknya sendiri.
“Pakkkkk!” suara Sri Ajeng membuat aktifitas ilegal pak Muji rusak.
__ADS_1
“Ssssttttttttt,” Pak muji mengisyaratkan agar putrinya diam dan ikut nguping.
Lantas benar saja, Sri Ajeng dengan polosnya juga ikut menguping bersama bapaknya. Dari ruang tengah bu Sri Kantil datang, dia juga melihat sikap kedua anggota keluarganya berbuat janggal.
“Dag dig dug dueeeerrrrrr,” bu Sri Kantil menempuk kedua punggung ayah dan anak.
“Sssssstttttt... Mumpung seru bu, ayo ikutan nguping.” Ajak keduanya.
Dan benar keluarga agak gesrek, mau-maunya aja ngikutin ajakan sesat nan ngepenginin itu. Remasah tangan Derris di pundak Sri Dewi berhenti. Membuat protes anak gadis sulung pak Muji itu.
“Mas Derris ayo lagi hhuuuuuhhhh,” gerutu suara anak gadis di dalam kamar.
“Eh bu, kok suaranya mirip anak kita si Sri Dewi?” Pak Muji bicara lirih kepada istrinya.
Panas hati Sri Ajeng kalah start dari saudari sulungnya.
“Mbakkkk!!!” terjengkanglah Sri Dewi yang awalanya duduk di bibir ranjang.
Derris masih tertidur dan tidak bergeming, preeeeeeeeeeetttt. Memiringkan tubuhnya dan kentut. Tepat di depan wajah Sri Dewi gas amoniak itu disemprotkan langsung dari kawah perut Derris.
“Hukkk hueeeekkkkkkk,” aroma khas sampah dari perut itu menyeruak dan membuat mual.
__ADS_1
“Pak anak kitaaa,” istri pak Muji kaget dan memegang lengan suaminya.
“Tenang bu, semoga gak seperti dugaan kita saja.” Mencoba menenangkan.
“Hoeeeeeeyyy apaan?” protes Sri Ajeng yang masih polos dan belum polkadot pikirannya.
Dalam benak orang tua, jika mendengar desahan dan pakaian anak gadianya itu. Pastilah muncul pikiran macem-macem ala-ala kecelakaan hasil produksi cucu.
“Dinda, kamu bantu Sri Dewi yang muntah-muntah ya. Kanda mau bangunin si bajindul ini yang pura-pura tidur ini.” Pak Muji berubah mimik wajahnya.
“Pak, bapak mau ngapain mas Derris-ku?” tangan Sri Ajeng menahan badan bapaknya yang murka.
“Heh pemuda pemupus harapan orang tua kaum wanita. Bangun!!” pak Muji menendang ranjang tempat tidur Derris.
“Hwaaaaaa gempaaaa,” Derris gelagapan terbangun.
Dia sangat terkejut melihat mata pak muji melototinya dan memintir ujung kumisnya yang lurus usai di rebonding.
“Mas Derris, anda manjadi terdakwa kasus pencabulan Putri bapak yang sulung!” dakwa pak Muji yang naik salah satu kakinya di ranjang.
Gluk, menelan ludah “Aku tadi mengendarai motor sport pak, pas ada tikungan perutku mulas. Dan akhirnya boker dibawah pohon nangka. Tiba-tiba terjadi gempa, mana ada aku berbuat cabul.” Derris menceritakan perihal mimpinya yang asik turing motor sport.
__ADS_1
“Gak bisa, mas Derris pokoknya harus tanggungjawab. Besok mas Derris harus segera ruwatan buat nikahin anak bapak!” desak pak muji.
“Apa? Bermodalkan daster saja mbak Sri Dewi bisa nikahin mas Derris, tidaaaakkkkkk.” Lunglai sudah tubuh Sri Ajenh mendengar ucapan bapaknya.