MAS DERRIS

MAS DERRIS
SUMBER INSPIRASIKU


__ADS_3

--- ADEGAN DERRIS,


“Dari sini saya dapat jelaskan, bahwa arena permainan ini akan lebih menarik dan menantang. Karena saya sudah menambahkan gambaran tentang kehidupan alam.” Derris sedang menjelaskan bagian lokasi dalam Game buatannya.


“Dan ini hewan apa? Bentuknya mirip kuda nil tapi bertanduk. Dan ekornya sangat panjang?” ucap sang pemilik perusahaan Game.


“Oh hewan ini ya, ini adalah kerbau. Hewan mamalia yang masih satu genesis dengan sapi. Hewan ini cenderung pemalas dan menyukai kubangan lumpur. Jadi setiap pengguna Game ini akan mendapatkan kesulitan untuk naik level selanjutnya.”


“Hahaha memang benar kalau kita tambahkan kesulitan dalam Game ini. Agar penggunanya lebih tertantang. Dan ini gadis yang berada di atas pohon fungsinya apa?” lanjutan menunjuk karakter gadis berkulit hitam dalam Game.


“Kalau ini adalah sebagai penunjuk misi. Jika sukses melewati tantangan dengan baik, gadis ini akan memberikan petunjuk. Jika beruntung akan mendapatkan hadiah tambahan berupa senjata.” Ucap Derris bangga memperkenalkan karakter dari inspirasi Sri Ayu.


Melihat sketsa Game nya yang mengambil lokasi di Desa Sukamager. Derris menyentuh layar display, dirinya mulai rindu dengan kampung halaman Pak Muji. Dimana dia memperoleh ide-ide untuk Game yang akan segera diluncurkannya. Kini Derris tengah berkarir di sebuah perusahaan Gaming tersebesar. Rasanya bekerja di Perusahaan bonafit ini membuatnya ingin kembali ke Indonesia. Jiwa malas-malasannya sudah terforsir dengan bekerja di sini.


“Kenapa masih berdiri disini?” Seorang pelayan yang membersihkan meja bekas rapat.


“Aku sedang terbawa suasana alam saja. Kira-kira sekarang bagaimana ya keadaan di sana?” Derris memutarkan tubuhnya dan menghadap lawan bicaranya.


“Desa itu sangat Indah, tapi sayang masih terkucilkan. Seharusnya kau bisa meminta sponsor, untuk mendanai sarana yang kurang disana!” Pelayan itu memberikan pendapatnya.


“Kau benar, saat aku tiba di sana jalanannya sangat buruk hahahaha.” Derris tersenyum dengan aura ketampannya yang memancar.


“Jika kau mengembangkan Game baru dengan detail dan baik seperti ini. Aku sarankan untukmu mengambil cuti saja. Bos pasti setuju jika kau menggunakan alasan pengembangan Game lanjutan. Bagaimana?” Celoteh pelayan yang sudah selesai dengan pekerjaannya.


“Kau mau kemana usai bekerja?” Derris menahan lengan Pelayan yang membawa nampan berisi gelas.


“Seperti biasa, aku akan menggambar desain perhiasan.” Pelayan itu membalas senyum simpulnya.

__ADS_1


“Baiklah, semoga kau suka dengan hadiahku ini.” Derris menyodorkan sebuah tas berwarna hitam.


“Kedua tanganku sedang membawa barang, tak bisakah kau membawakannya sampai dapur? Heheheh.”


Derris mengiyakan permintaan Pelayan tersebut, dan di dapur keduanya membuat kudapan roti panggang.


“Kau tahu apa yang aku sukai dari Desa Sukamager?” Pelayan memulai percakapan.


“Apa?” Derris masih mengunyah rotinya.


“Gadis berkulit gelap itu, apakah kau tahu dia bisa menjadi ikon baru dalam dunia Game hahahaha.”


Derris tergelitik dengan ide tersebut, kedepan Derris akan meminta ijin langsung dengan Sri Ayu karena sudah menggunakan dirinya sebaga karakter dalam Game ciptaannya.


*


*


*


Masih di semak-semak pinggiran kali tempat Calistha bersembunyi.


Kiiiitttt, rongga mulutnya tergigit saat makan singkong bakar.


“Kenapa Mbak-nya?” Ucap Gustavo yang juga ikut menyantap singkong bakar.


“Tergigit nih mulutku, pasti ada yang bicarain aku dibagian bumi sebelah sana.” Sri Ayu mencoba menerka-nerka siapa gerangan orang tersebut.

__ADS_1


“Mbak... Mbak... Yang digigit itu daging singkongnya bukan daging mulut sendiri. Salah-salah nanti mbaknya makan giginya sendiri tuh hahahahah.” Calistha menertawakan ulah Sri Ayu yang sembrono.


“Ya lagian pula sih mbaknya, deket kok sama si Agus. Deket itu sama yang gantengan dikit tuh!” jari telunjuk Gustavo menunjuk papan yang ada tulisan hurup dan angka.


“Heleh, Bosnya aja kali yang tidak benar. Masak sekian tahun sudah nyari Plat mobil itu belum ketemu juga. Susah bener... “ Sindir Calistha.


“Lah kamu lebih gak bener lag, sekian puluh tahun hidup sebagai lelaki kenapa pake rok, gincuan dan pake kecrekan. Makanya susah bener jodohmu Lis Kholis Calistha hahahaha.” Gustavo tak mau kalah dengan serangan trlak Calistha.


“Jangankan Calistha yang puluhan tahun melajang dan beralih haluan jadi banci. Aku saja belum pernah merasakan jadi wanita.” Keluh Sri Ayu yang mendongakkan kepalanya ke langit.


Baik Derris dan Sri Ayu sama-sama mendongakkan kepalanya ke langit. Mereka berada dibawah langit yang sama, namun dibagian bumi yang berbeda.


“Gustav... Oh Gustav, tadi Mamsky naruh singkong di plastik kresek dekat bantal tidur dimana ya Nak?” Teriak Brenda yang terdengar sampai semak-semak.


Sontak ketiga orang yang lagi bakar-bakaran di semak-semak tertegun.


“Bosnya nyolong singkong Mamsky Brenda ya?” Calistha menghentikan makan singkongnya.


Sedangkan Sri Ayu yang memegang singkong bakar di kedua tangannya molotot. Jangan-jangan ini singkong yang mau dibuat opak.


Rumput ilalang yang menutupnya semak-semak kini di singkap oleh tangan Brenda.


“Brakakakakakaka KETAHUAN KAN KALIAN YANG HABISIN SINGKON JATAH OPAK MAMSKY!!!” Brenda berhasil menciduk ketiga pelaku.


“MAMSKY!!! KABURRRRRRR!!!”


Ketiga manusia yang asik makan singkong bakar tersebut meninggkan markas mereka. Calistha nyebur di kali dan berenang sampai ke tepi seberang. Gustavo digendong Sri Ayu macam anak tuyul ditarik paksa lalu dikempit dipinggang.

__ADS_1


“Ckckckckckck,” Brenda hanya bisa mengelus dada melihat polah penghuni Apartemennya.


__ADS_2