
--- MALAM PENGADILAN,
Tok... Tok... Suara ketukan pintu bersahutan. Bu Sri Kantil memanggil calon mantu yang ditangkap dadakan siang tadi. Entah bagaimana bisa seorang Derris Hadijaya yang lagi tidur pules bisa membuntingi anak pak Muji? Seumur hidupnya saja gaulnya sama barang-barang game dan lelaki. Paling Mentok ketemu wanita ya ibunya. Itupun dalam hitungan biji Salak frekuensinya. Nasib sial menimpa dirinya yang jatuu miskin, dititipin hidup di pak Muji.
“Aku ini siapa? Aku ini dimana? Darimana asal-usulku? Siapa yang bisa menolongku!!!” Derris bicara didepan cermin kamarnya.
Dia gusar hendak keluar kamar, nanti masa lajangnya kelar. Tinggal dikamar kalo dihajar, ya masa muda bubar. Maju mundur bingung, maju mundur nanggung.... Syahroni syahroni ayeeee....
“Mas Derris ayo buruan turun!” Jupri nongol bawa golok.
Ternyata Jupri disuruh naik kekamar Derris lewat pohon jambu air. Yang rantingnya dekan dengan jendela kamar Derris.
“Hastagahhh...setan wajah jelekkkk!!” Derris kekagetan lagi.
Ternyata manusia, kaki Jupri menyentuh lantai. Syukurlah ternyata mahkluk ceking dan berambut kriting ini manusia jenis krempeng-krempeng layang-layang. Sekali dihempas angin terbang melayang-layang diudara hahahahaha.
__ADS_1
“Pfffffttt...aku pikir kau ini bukan manusia,” Derris masih sempat terkekeh melihat penampakan Jupri.
Sembari membenarkan sarung kebesarannya yang sudah kriting mirip rambutnya itu. Dikalungkan dilehernya seperti syal opak-opak korewa yang keculunan hahahah.
“Ayoh turun, sidang segera dimulai!” Jupro menyeret lengan Derris dengan paksa.
“Haissss... Kotor tanganmu, banyak bibit cacingnya.” Mengoleskan hand saniteser merata ampe leher-leher.
“Heh mas, biar hitam dekil kriting gini. Kalo ngasong di Pantai Kuta bisa jadi idola loh. Gini-gini jenis buruan laki idaman gadis-gadis Eropa loh mas. Cuma cewek lokal aja seleranya kayak mas Derris aja. Jadinya saya gak laku.”
Kampret bener, si Sri Dewi dapet door price macam si Derris ini. Duh nyesel aku gak mandi di curug biar awet muda. Heeemmmmm. Rintihan hati bu Sri Kantil yang matanya menyorot tajam Mas Derris turuni anak tangga.
“Matanya ituloh ndukkkkk!!!” Sindir pak Muji sambil memintir kumis rebondingnya.
“Apanya pak?” sahut Sri Dewi.
__ADS_1
“Matanya ibumu lo nduk, kayak bola bakso aja. Hemmmmmbbbbb,” kasih kode nyindir istrinya yang lapar mata sama Derris.
“Oh ibu ya, aku pikir hehehehe.” Sri Dewi mulai baper mau dikawinin sama Derris.
Seperti rutinan, setiap hari warga setelah jam 7 malam. Mereka berbondong-bondong datang kerumah pak Muji. Dengan berbekal tikar dan bantal. Mereka siap menikmati hiburan lewat saluran Televisi Nasional. Jadwal tontona yang seru malam ini adalah sinetron yang sudah jutaan episode yang berjudul “Ternungging”. Yang menceritakan penderitaan wanita miskin yang menikah pria kaya, jalur warisan orang tua. Memiliki ibu mertua macam Mak Lampir berkonde. Dan bapak mertua botak kepalanya macam Hakim Roda Mas huahahahahahaha.
“Kang mas, kita serius nich ngadain rapat keluarga akan berencana?” tanya gusar istrinya.
“Napa emang?” pak Muji tak mau ngalah.
“Apa gak bisa ditunda dulu sampai besok aja? Kalau kita pas bicara mereka nguping gimana?”
“Dinda gak usah khawatir, ini ada kertas buat corat-coret. Kita rapatnya gak pake suara tapi nulis menulis. Jadi gak ada istilah suara keluar dari mulut.”
“Tapi dari vantat kan pak dhe?” Jupri menyambar omongan.
__ADS_1
“Tuutttt preeettt dong hahahaha,” ucap Derris sambil mengibaskan rambutnya yang gerah.