MAS DERRIS

MAS DERRIS
HEBOH ANTRI


__ADS_3

Dan setelah selesai ritual kecantikan ala mamsky Brenda. Tibalah saatnya negosiasi harga sewa Apartemen tidak mewah ini.


“Jadi mau bayar dimana?”


Sri Ayu yang Cuma megang uang selembar dan satu-satunya jimat ini, menelan ludahnya yang mengering.


“Em... Dibayar habis terima gaji Mams.” Setengah ragu jawabnya.


“Kalau itu Mamsky kurang setuju lah, mode lain coba.”


“Saya tambah setiap pagi nyapu.” Tawar Sri Ayu.


“Ckckckckc warga kami mayoritas pemulung. Jangankan plastik bekas sedotan jatuh saja jadi rebutan. Ganti-ganti” sepertinya Mami Brenda agak susah dirayu.


“Saya punya pandangan tentang visi mis...” ucapan Sri Ayu terhenti.


“Hassss... Mamsky tidak suka visi misi, mamsky Cuma mau Cik (uang kontan) biar besok roda perekonomian berjalan.” Potong Mamsky Brenda.


“Tapi Mamsky, saya Cuma anak Rantau dari Kampung nan jauh disana. Selain saya hidup sebiji kurma di Kota. Baju sayang Cuma ada 3 potong. Itupun sistem cuci kering pake, kalau mulai lecek dilindes bawah bantal. Seharian belum makan, tubuh bergetaran. Bukan karena gempa, hanya cacing dalam perut suka Demo brutal menyentil-nyentil dinding usus 12 jari.” Ucapan Sri Ayu ini di iring musik Calista dari kecrekan.

__ADS_1


Karena ucapan Sri Ayu yang mendayu-dayu seperti Rayuan Pulau Nestapa. Akhirnya Mamsky Brenda kasih keringanan bayar sewa kontrak. Dengan jaminan Sri Ayu bersedia mengabdi dan pulang ke Apartemen tepat waktu.


“SIAP, BERJALAN.” Suara lantang Sri Ayu menggelegar.


Ini anak maksudnya apa kok siap berjalan, kan laksanakan. Entahlah dasar Sri Ayu-nya yang sudah mulai konslet kabelnya karena lapar. Atau bisikan Calistha yang memang berupa mantra Jarang Goyang.


“Tapi ingat, selama tinggal disini harus irit. Karena hemat pangkal kaya, jadi irit pangkal pelit!” pernah Mamsky kepada penghuni baru.


“Mamsky, malam ini mbak-nya tidur dimana?” Tanya Calista yang mengekor Sri Ayu.


“Karena dia anak baru, wajib tinggal di loss paling bawah ya. Oiya nich gratis krim anti nyamuk. Disini nyamuk sudah kayak saudara sendiri, suka ngisep darah hahahaha.” Apa pula maksut mamsky ini.


“Maksutnya gini mbak-nya, kadang kalau kita punya segalanya. Yang ngakuin saudara itu banyak, Cuma buat ambil untung. Seperti si nyamuk itu, ngisep darah, pergi dan tak bilang makasih woi hahahaa.” Sebuah perumpamaan yang tepat untuk kondisi sosial saat ini.


Calista mengantar Sri Ayu ke kamarnya. Sesekali memperhatikan penghuni Apartemen bawah tanah yang jauh dari kata nyaman. Penghuninya juga jarang mandi. Mereka mendapa jatah mandi ketika pagi hari. Karena saat malam hari, air sulingan dan saringan dari sungai belum mengendap sempurna. Jadi tak jarang mereka sering kutu air, panuan, kutu rambut dan kurapan. Kesehatan kulit mereka tidak diperhatikan, asal mereka bisa makan dan tidur tenang. Semua problematika kehidupan bagaikan mimpi buruk kemaren.


“Nih Mbak-nya kamarnya.” Calista membuka kamar tidur yang tebuat dari triplek bekas proyek.


Seolah mengingatkannya dengan huniaan kandang ayamnya dikampung terkadang Ayu harus tidur ditumpukan zak dan kardus. Karena dikandang semua kenyamanan itu dibatasi. Asal tidur dan tenaga pulih, beralaskan apapun tak masalah.

__ADS_1


Tokkkk tokkk tokkk petokkkkkkkk, suara alarma yang keluar dari ayam betina milik Gustavo. Satu-satunya ayam yang diistimewakan warga Apartemen disini. Warga yang berdinas pagi hari mulai menganti dikamar mandi. Mamsky Brenda sebagai aparatur Apartemen menjaga jatah air mandi. Biasanya ada yang curang menghabiskan jatah air di ember. Terutama Calistha si Diva jalanan Ibukota. Dia paling suka mandi lama dan melakukan konser tunggal saat mandi.


“Wah, ngalamat telat kalau antriannya panjang.” Sri Ayu mengalungkan handing dilehernya.


“Mbaknya kan bisa mandi strobery di Kantornya, buat apa ngantri panjang begini.” Calista asal ngomong tapi bener juga.


Segera, Sri Ayu mengemasi perlengkapan mandinya. Dan gas nguing ke Kantornya untuk numpang mandi.


“Mamsky, karena si anak baru mandi diluar jatahnya buat Calistha ya.” Sambil berkedip-kedip manja.


“Ecieeeee... Ngarep! Bayar dulu dong, kan kemaren kamu kasbon pinset bulu ketek sama Mamsky.” Ingatan utang Brenda memang juara.


“Oh gimana, oke-oke Bos. Sekarang ya, oke menuju lokasi.” Calistha pura-pura mendapat telepon orderan nyanyi palsu. Agar terhindar dari tunggakan dan tagihan Mamsky Brenda.


“WOI NUR KHOLIS JANGAN KABUR!!!” Mamsky Brenda melempar sendal bakiyaknya.


Tuakkkk!!! Tepat mengenai pundak preman. Yang meminta jatah keamanan dan uang pangkal.


“Mamsky, Suryono pingsan?” Calistha mengecek keadaan preman bengis yang bertato panuan full kadot (totol-totol).

__ADS_1


__ADS_2