
--KANTIN,
Jam makan siang kesempatan para pegawai untuk mengisi bahan bakar enegri. Dan up date berita terkini seputar obrolan dalam lingkup lingkungan kerja maupun topik yang sedang hangat dibicarakan.
“Wah haaaa si Agus gayanya kayak kepala proyek.”
“Wih mentereny sekali si Agus naik mobil jip, kayak penjelajah alam.”
“Bisa hemat nih anak kalau di daerah pedalaman. Enggak kepincut lagi sama belanjaan.”
“Tapi suasana kantor jadi kurang seru kalau Agus pergi, yang berani membantah Pak Boi kan Cuma dia seorang.”
Selentingan dari percakapan pegawai sampai ditelinga Sri Ayu. Dia duduk dan merenung, kenapa Agus tidak pernah masuk kerja hampir setengah bulan. Pikiranya, Agus sakit atau ikut seminar diluar kota. Ternyata Agus pindah tugas, sesuai arahan atasan mereka tempo lalu.
“Pak, kenapa Agus perginya tidak pamitan ya?” tanya Sri Ayu saat menyerahkan dokumen keuangan.
“Terakhir saat teleponan sama saya, Agus bilang dari tempatmu Yu. Katanya mau ngadain acara spesial loh. Sampai pinjem tikar kantor.” Jawab salah satu pegawai di kantin.
“Oh begitu ya.” Berpikir keras.
Entah kenapa meja kerja Agus yang sekarang kosong menjadi daya tarik tersendiri bagi Sri Ayu. Terbayang keisengan Agus saat jenuh bekerja.
“Gus, kamu tahu enggak sih sahabatku di sini tuh Cuma kamu.” Mendelungsupkan tubuhnya diatas meja.
Kepergian Agus yang tak berpamitan dengannya seolah menjadi cacatan kecil. Jarang sekali Agus bersikap cuek kepada dirinya. Ketika berselisih pah pun, mereka masih saling mengirimkan perhatian lewat pesan.
*
*
*
---RUMAH SAKIT,
Ditemani Lucas sahabatnya, Derris pergi ke Rumah Sakit guna memeriksakan giginya secara berkala.
“Kenapa Derr?” tanya Lucas yang melihat Derris serius menatap layar ponselnya.
__ADS_1
“Mamaku kirim pesan kalau istrinya Om ku kecelakaan. Dirawat dirumah sakit yang sama ini. Kamu kira-kira keberatan enggak kalau sebentar membesuk kerabat Mamaku?”
Tanpa memberikan jawaban, Lucas langsung menggandeng lengan Derris dengan manja.
“Yuk ah jalan.” Terik Lucas.
Dari informasi yang di dapat dari Resepsionis, pasien yang dirawat ini seorang VVIP. Ada 2 orang penjaga berpakaian dinas yang berdiri di pintu masuk. Nampak seorang wanita paruh baya yang terbaring.
“Om, bagaimana kabar Tante Cantika?” Derris menyapa suami kerabat ibunya.
“Parah Derr,” jawab sang suami yang tangannya memakai gips.
Dari cerita yang ditangkap, tante Cantika mengalami kecelakaan berat. Beliau mengalami gagar otak dan serangan jantung. Suami tante Cantika juga mengalami luka yang serius berupa cidera lengan tangan yang patah.
“Semoga tante Cantika lekas sembuh ya Om, oiya begitu juga dengan Om Arnoldo semoga lekas pulih dari sakitnya.”
“Iya, makasih ya Derr atas doanya. Kamu diberitahu mama mu ya?” tanya suami Cantika.
“Iya Om, tadi mama berpesan kalau masih sibuk tur album barunya. Kemungkinan bulan Desember balik lagi ke Indonesia.” Jawab Derris.
“Tante Cantika tahu Om penggemar berat Mama saya?” tanya Derris.
“Om sudah punya anak?”
“Sudah, dia sedang berpamitan dengan keluarga besar Rumah sakit sini. Dia akan dipindah tugaskan ke pedalaman untuk mengabdi.”
“Anak Om laki-laki apa perempuan? “ sahut Lucas yang agak cemburu.
“Anak Om perempuan satu-satunya. Cantik seperti Mamanya Derris, karena saat hamil. Om selalu membeli poster dan albumnya Mamanya Derris.”
Kerabat ibunya Derris ini entah memang terlalu Cinta apa mengidolakan ibunya Derris sudah akut. Tapi tindakan Arnoldo sudah seperti fans yang menjerumus ke obsesi. Keharmonisan ayah dan ibunya Derris memang sudah renggang. Hal ini terjadi ketika Derris kecil Mamanya sibuk membangun karirnya yang redup ketika mengandung dan melahirkan. Karena kesepian itulah, ayah Derris menghabiskan banyak waktunya di luar Negeri melebarkan sayap bisnis propertinya.
“Derr, kamu merasa ada yang janggal enggak dari kecelakaan istri Om Arnoldo ini?” bisik Lucas.
“Mana ada suami tega mencelakai suaminya. Ash___” Merintis sakit karena perutnya tertabrak meja dorong.
“Ma_maaf Mas,” ucap pegawai kebersihan.
__ADS_1
Melihat Derris terluka oleh pegawai kebersihan yang teledor. Lucas mengomel-ngomel tak karuan. Sehingga seisi lantai tersebut mengalihkan pandangannya ke Lucas.
“Maaf ya Mas saya tak sengaja, maaf ya Mbak kalau saya nabrak temennya.”
Pegawai itu ketakutan karena dimarahi Lucas. Tampak seorang gadis cantik memakai jas berwarna putih datang mendekat.
“Coba aku periksa mana yang sakit?” tawar Berlian.
“Kamu Dokter apa? Kencatikan ya?” ketus Lucas.
Sembari memicingkan matanya, Berlian menunjukkan kartu identitasnya bahwa dia Dokter Umum. Derris tak keberatan jika Dokter cantik ini memeriksa tubuhnya. Dipandangnya wajah dokter Berlian saat memeriksa perutnya.
“Tidak kenapa-kenapa kok heboh.” Ucap Berlian usah memeriksa perut Derris.
“Kan kamu yang mengajakku kemari.” Menutup kaosnya.
“Kan temanmu yang nyolot, bikin panik saja.”
Berlian merapikan stetoskop, dan membuka tirai pemeriksaan. Wajah lucas yang kalut tak bisa di sembunyikan lagi. Saat Berlian duduk berhadapan dengannya, lucas sudah merasa kalau Dokter cantik didapannya ini bakal jadi saingan beratnya.
“Kenapa kok menatapa saya sinis gitu?” Berlian merasa canggung.
“Habis nyentuh roti sobek sehat ya!” ketus Lucas.
“Aku hanya menjalankan tugas sebagai Dokter. Jika yang sakit perutnya maka yang dibuka celananya kan salah.” Celoteh Berlian.
“Heleh, bilang saja kalau lapar mata kalau lihat barang Bagus. Dasar Dokter lapar mata iuuuuhh.”
Rambut Lucas yang memang panjang bergelombang sengaja dia kibas-kibaskan. Agar menyindir Berlian yang memeiliki rambut bergelombang diunjungnya. Hanya saja Berlian menguncirnya, jadi terkesan lebih rapi dan anggunh.
“Kamu ini ya, enggak sama laki atau perempuan gelut terus! “ protes Derris.
“Habisnya sih kamu gans, coba kamu burik.” Balas Lucas.
“Ya orang ganteng tidak boleh dijamah Dokter, kan Cuma diperiksa saja Cas. Bukannya mau macem-macem, ih kamunya iniloh ngeri.” Derris bergidik ngeri dengan kecemburuan Lucas yang tingkat Dewa.
“Pokoknya mulai sekarang kamu tidak diijinkan diperiksa Dokter Cewek titik!” bentak Lucas.
__ADS_1
Daripada menimbulkan konflik dan kesalahpahaman. Derris meminta Lucas untuk keluar lebih dahulu. Karena ada beberapa hal yang ingin Derris konsultasikan. Dengan jaminan ponsel Derris dinyalakan terus. Suara percakapan mereka bisa Lucas dengarkan. Namun Derris tak hilang akal, dia berbalas tulisan satu sama lain menggunakan kertas dan pulpen. Seusai keluar dari ruangan kerja Dokter Berlian. Derris sikapnya berubah jadi kaku dan dingin. Jangan-jangan ada hubungan diantara mereka berdua?