MAS DERRIS

MAS DERRIS
KODE KERAS


__ADS_3

Suasana kematian tengah menyelimuti dirumah duka. Para tamu yang datang menyampaikan duka citanya silih berganti. Saat Berlian menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti. Dia mencoba menampakkan wajah tegarnya.


“Tidurlah, seharian ini kau pasti lelah.”


“Tidak Pa, aku masih mau menemani jenazah Mama untuk terakhir kalinya.”


Bujukan ayahnya diabaikan karena Berlian. Badannya yang lelah dari perjalanan jauh tak dia rasakan. Kini dia merasa sedih dan sekaligus lega, karena ibunya tak merasakan sakit-sakitan lagi. Tanpa terasa tamu-tamu yang semula berkumpul banyak, kini tinggal pelayan dan ajudan.


“Papa mau ke kamar dulu, mau mengurus hal lain.” Berlian mengangguk.


Sekitar tiga jam Arnoldo tak kunjung jua kembali. Berlian merasa ingin pipis, maksut hati agar bergantian menjaga jenazah mamanya. Namun Berlian terlanjur kebelet dan lari mencari toilet.


“Iya sayang, aku mengerti. Tunggu aku ya, setelah urusanku selesai di sini. Aku janji akan menjemputmu, apakah urusanmu di sana sudah beres?”


Tanpa disadari, percakapan Arnoldo itu dikuping oleh Berlian.


“Sayang?”


Selama ini panggilan sayang hanya ditujukan kepada dirinya. Sedangkan ibunya pun hanya dipanggil nama saja. Niat untuk memergoki ayahnya berbicara dengan orang asing itu diurungkan. Tak ingin merusak suasana kidmat dan penuh kesedihan ini


Hingga pagi pun tiba, ambulans yang mengantar jenazah ibunda Berlian bersiap. Para pelayat yang mengantar dan sanak kerabat sudah datang. Namun yang membuat aneh lagi, ayahnya Berlian masuk mobil lain. Tidak berada di dalam mobil Ambulan bersama dirinya.


*


*


*


“Pah, aku mau bicara!”


Menarik tangan ayahnya yang asik bermain ponsel.


“Berlian, apakah kau sudah kehilangan sopan santunmu? Lekas mandi, aura Pemakaman buruk untukmu!”


Entah itu urusan perkerjaan atau dengan orang yang dipanggil sayang tadi malam. Tapi ayahnya tampak mengabaikan keberadaan Berlian.


*

__ADS_1


*


*


---ADEGAN SRI AYU,


Menjalani rutinitas yang membosankan di Kota besar. Membuat nalar tidak waras Sri Ayu berkembang Biak. Kipas yang berputar-putar di langit-langit kamarnya seolah tahu. Kalau otaknya sedang mencari ide gila.


“Kalau begini terus tidak bisa dibiarkan nih, jenuh sekali aku.”


Akhirnya Sri Ayu berlari keluar, dan menyusuri jalanan. Dia berlari mendekati halte bis, dan penumpang satu per satu turun.


“Eh aku kan lapar, kenapa lari ke Halte Bis?” ucapnya yang tersadar.


Ternyata faktor lapar dapat berpengaruh pada kerja otak. Perut keroncongan, tapi larinya ke Halte. Kini berlarilah dia ke warung Tegal langganannya. Dasar wanita, maunya apa. Tapi yang dituju apa, sungguh naluri yang tak jelas.


“Kenapa Mbak Ayu, apa makanannya berontak. Kok tidak dimakan?”


Ucapan pedagang warung itu membuyarkan lamunannya. Dirinya merasa kosong dan sepi. Mungkin ini yang dinamakan, kosong adalah isi- isi adalah kosong.


“Oh ini nasinya mengingatkanku sama gigi seseorang.” Jawab Sri Ayu sedapatnya.


Pemilik warung itu menyodorkan air putih kepada pelanggannya yang tersedak.


“Minum dulu mas, kadang tenggorokan kering butuh pelumas air.”


Diam-diam Sri Ayu mencuri pandang sosok pemuda yang tersedak saat makan. Perawakannya gagah dengan balutas busana anak muda yang kekinian.


“Mbak, biasanya cewek jika menatapku dari belakang tersenyum. Aku khwatir kau akan jatuh Cinta padaku. Saat aku membalikkan badanku.”


“Ups, setampan apa kamu Mas. Aku sudah ada pria tampan versiku, ku harap ucapanmu tak membuatku kecewa hahaha.”


Setelah pria asing itu selesai makan, barulah Sri Ayu keluar warung. Dia tidak ingin terciduk usil mengintai lelaki dalam warteg tersebut.


“Ikut aku atau bawa aku!”


Pundak Sri Ayu ditepuk seseorang dari belakang, hatinya mau copot dengan ucapan yang baru saja ia dengan. Diperhatikannya wajah pria tampan itu tak asing lagi dimatanya. Dengan berbinar-binar seperti kaca spion yang usai kehujanan. Mereka berdua berpelukan di depan warteg. Disaksikan pemilik warteg yang mengelap piring.

__ADS_1


“Peluk dong!”


Pria itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


“Aku hampir tak mengenalimu, “ ucap Sri Ayu yang memeluk erat.


“Kalau begitu cium dong biar adil.” Sri Ayu menggigit telinga pria yang dipeluknya.


“Awh, kejam!” mengibaskan telinganya kesakitan.


“Hahaha mesum, sudah keenakan dipeluk minta cium. Nih cium tanganku,” menjulurkan tangannya.


“Dasar betina, tidak gigit kenapa.”


Pertemuan itu sudah direncakan sejak lama dan akhirnya terealisasi. Dari dalam mobil Derris menyaksikan momen pertemuan kedua insan yang lama tak bertemu.


“Darimana kau tahu aku berada disini?”


“Tuh,” menoleh ke mobil Derris.


Alangkah terkejutnya Sri Ayu, karena di dalam mobil itu adalah Derris yang melambaikan tangannya. Dirinya malu sekali sudah bermanja ria dengan Jupri. Malunya lebih ke rasa menyesal seolah ketahuan selingkuh oleh pasangan.


“Aku dibantu Mas Derris di Jakarta, eh kebetulan juga Mas Derris ada urusan juga.”


Sri Ayu membatu dan membisu dengan terus melihat Derris berjalan mendekati tempat mereka berdiri saat ini.


“Hai?” sapa Derris.


“Jadi yang berpapasan aku di Sukamager kamu yang Jup?” Sri Ayu mengalihkan pembicaraan dan tak merespon sapa Derris.


“Huum, aku pangling sama Mbak Ayu. Setelah Mas Derris cerita semuanya, baru deh aku percaya. Kalau gadis Tarzan pohon nangka sudah jadi wanita seutuhnya hehehe.” Sambil merangkul bahu Derris yang tersipu malu-malu.


“Jadi Mas Derris sudah ceritain semuanya ya?” Derris mengangguk.


“Sudahlah, secara Mas Derris dan aku bertemu di Jepang pula. Kami sudah akrab dan gantengnya Mas Derris nular di aku lo. Enggak kalah sama siapa tadi, pria tampan idamanmu, siapa namanya?” ejek Jupri.


“Siapa, siapa? Enggak salah denger nih seorang Sri Ayu ada pria idaman?” Derris menjewerkan telinganya seolah salah dengar.

__ADS_1


Hati siapa yang tidak rontek kalau gebetan dan sahabat seakrab itu. Mana si gebetan cuek dan sahabat seolah ngejeknya kebangetan. Sudah kepalang malu ya nanggung juga kalau jujur. Jika pria idaman Sri Ayu adalah Derris, pria yang berdiri didepannya. Jupri yang menyadari tatapan mata Sri Ayu itu, perlahan tahu jika itu bukanlah tatapan kagum.


__ADS_2