
“Mbak Ayuuuuuukkkkkk, kamu lolos seleksi!!!”
Terdengar suara Jupri melengking memecahkan ketentraman dunia. Burung-burung yang mematuk biji padi berhamburan terbang. Katak-katak kembali masuk ke sarangnya, yang lagi asik menangkap belalang untuk santapan. Dan kebo-kebo yang digiring Jupri melengoh “mbooooo” seolah kompak memanggil majikannya.
“Ck,” Sri Ayu mendecit kesal, ritual mandinya terpotong adegan Jupri.
Buru-buru Sri Ayu memakai celana kolor selutut dan kaos sponsor bibit jagung. Dia mengambil selimutnya berwarna coklat tua. Dan menunjukkan wujud aslinya yang tanpa masker menutupi seluruh permukaan kulitnya.
“Idiiih, mbak Ayuk lagi ritual buang sial ya.”
Hanya melengos dan tak menjawab pertanyaan Jupri.
“Ini mbak surat panggilan tes, yang dikirim di alamat kandang ayam.” Sri Ayu membaca dengan seksama isi surat yang dibawa Jupri.
Melipat kembali surat dan memasukkan kedalam amplop. Sri Ayu lantas berlari pulang dengan mengikatkan kedua ujung sudut selimutnya di leher seperti jubah.
Wusssssss..... Sri Ayu berlari pulang.
“Woiii mbak Ayu, sendal mu ketinggalan hahahaha.” Jupri memungut sensal karet dari ban mobil milik Sri Ayu.
__ADS_1
Karena majikannya para kebo-kebo ini akan pergi lama, Jupri punya dobel pekerjaan. Urusan kandang biar di jaga Pak Muji, yang kerjaanya Cuma mager-mager aja dikandang.
*
*
*
“Kang mas.... Kandang udah dibersin belum, kok njuijijik i begini kayak pikirannya Kang mas!!!” istrinya ngomel-ngomel.
“Eh kok yayang kemari? “ Pak Muji masih rebahan di ayunan sambil kipas-kipas cari angin.
“Kang mas ini gimana tho, orang ayam udah jamnya dikasih katul malah endehoy.” Mengangkat karung pakan ayam.
“Owh jadi karena suasananya ngajak mager, Desa Kita yang dulunya Sukamaju jadi Sukamager gitu ya? Ulah-ulahanmu ya gini Mas... Masss.”
Datanglah Sri Ajeng dengan membawa rantang bekal makanan untuk konsumsi orang kandang.
“Pak, kok masih disini aja?” Sri Ajeng juga geram dengan sifat malas bapaknya.
__ADS_1
“Emang kenapa?”
“Ayuk kan mau ke Jakarta, bapak gak takut adik perempuanku yang gagah itu kenapa-kenapa!” Bentak Sri Ajeng yang gregetan dengan sikap selow bapaknya.
“Eh Mas Derris!!!”
Auto berdiri tegap dan menyebut majikannya. Pak muji mengayuh sepeda listrik milik Sri Ajeng, pulang kerumah.
“Ckckckckckck aslinya bapak itu ayahnya Mas Derris apa calon mertuanya Mas Derris sih.” Gumam heran Sri Ajeng.
“Gundulmu salto goyang gergaji kalau ngomong suka benerrrrr.” Bu Muji ikutan ngetril menjawab.
“Lah kalau udah terlanjur sayang seperti anak sendiri ya, jadiin mantu aja sekalian. Hehehe aku kalau ngarep gak suka mundur bu.” Mengusap bokong ayam yang hendak mengejan mengeluarkan telur.
Procroootttt... Yang keluar bukan telur tapi sambel trasi hangat-hangat dari ***** ayam.
Prooookkkkkk kokokokokoooookokooookoooo petoookkkk petooookkkk kokoko (rasain lu, anget kan? Makanya jangan suka ngeselin nebok-nebok bokong eyke). Kurang lebih seperti itu terjemahan si ayam petelur.
“Bukkkkk... Kok malah adonan mateng sih hueeeekkkkk.” Mendengus tangannya yang bau.
__ADS_1
“Hahahaha siapa suruh ngelus-ngelus bokong ayam. Ngelus itu ya kaki ibu ini, auto surga yang kau dapat.” Menjelojorkan kakinya yang pecah-pecah.
“Hiiii surga kok pecah-pecah, mending aku cara surga versi berumah tangga sama Mas Derris ajah. Aku kasih surga dunia sama dia, dia beri aku surga di akheratt...” Ngayal tingkat mang Oding.