MAS DERRIS

MAS DERRIS
AGUS BICARANYA TAK BAGUS


__ADS_3

---APARTEMEN,


Kegiatan Brenda menjelang pagi dan petang ialah menyiapkan sabun mandi untuk penghuni Apartemennya.


“Mams, itukan sabun cair cuci piring kenapa dioplos pake air?” Calistha memergokinya.


“Hai para daki berjalan, sadarlah diri kalian ini. Mulai melek – merem kalian pernah sadar debu dan asap polusi nempel di baju, rambut dan kulit kalian? Kalau Mams menyediakan sabun dan sampo sudah pasti tekor lah, selain bisa jadi sabun cair. Ini juga bisa jadi sampo nyahhhh berbuih kan dikepalamu Calistha. Nih Mamsky tambahin lagi buat sabun wajah biar kinclong kayak ubin masjid.” Ngibulin si Calistha agar tidak banyak curiga.


Keduanya tertawa bahagia dan saling membaluri ramuan sabun cair ala Mamsky Brenda. Kehidupan keras membuat Brenda selaku kepala hunian harus memutar otak agar penghuninya tetap menjaga kebersihannya. Walaupun dengan catatan seadanya dan semampunya. Daripada tidak sama sekali memakai pembersih badan. Hal ini Brenda lakukan bukan tanpa sebab dan alasan. Sebab dia juga memiliki anak yang tentunya kebersihan dan kesehatannya harus ia perhatikan. Gustavo adalah sosok anak yang gigih mencari uang, dan ketika malam datang dia belajar di rumah pintar. Cita-citanya Gustavo tak muluk-muluk, dia hanya ingin menjadi orang biasa dengan harta yang luar biasa hehehe.


“Mams, aku mau nyusul Mbak Ayu ke pasar.” Pamit Gustavo dengan sendal jepit kebesarannya.


“Iya sayang, hati-hati dijalan. Nanti makan dirumah ya, jangan makan di jalan. “ teriak Brenda.


“Ih si Mamsky emang Bos-nya itu apaan makan jalan.” Celoteh Calistha.


“Eh bukan begitu Lis Kholis, maksutnya Mamsky itu makan dirumah saja, jangan jajan ketika diperjalanan. Hih otak kamu lama-lama pekok karena enggak peka!”


Seperti pesan Sri Ayu tadi pagi, nanti sore ketemuan di Pasar. Gustavo yang memang tepat waktu anaknya sudah berjalan menyusuri jalanan trotoar. Saat tiba di lampu merah, dia berhenti dan melihat barisan mobil.


“B 19 BOS, apa ya hemmmbbb. Sepertinya pernah lihat mobil ini tapi dimana ya?” Gustavo mikir lambat.


Ketika lampu sudah hijau, dia belum juga mendapatkan jawabannya. Masih berpikir kerasa itu adalah mobil yang familiar bagianya. Tapi apa, coba dia pikirkan lagunya secara baik-baik. Kelamaan berfikir hingga lamou hijau menyala.


“Woi berhenti, ini uangmu aku kembalikan!” teriak Gustavo sambil berlari.

__ADS_1


Derris yang asik mendengarkan musik dari dalam mobilnya asik berdendang.


“Anak yang ceria banget ya Der,” Imbuh Lucas melihat Gustavo dari kaca spion.


“Apa?” Derris tak begitu jelas mendengar ucapan Lucas.


“Itu anak jalanan berlari-lari bahagia sekali. Sendalnya kegedaan apa coba yang dikejar itu, sampai ngos-ngosan gitu hehehehe.” Lucas tak tahu jika mobil Derris lah yang dikejar Gustavo.


Hanya senyuman tipis yang terlempar dari bibir Derris. Dirinya tetap melajukan mobil sportnya dengan kencang ketika jalanan lengang. Pupus sudah harapan Gustavo mau mengembalikan uang Derris.


*


*


*


Uang hasil saweran pertarungan Agus dan atasannya masih sisa sedikit. Setelah dikurangi bayar orkes keliling.


“Kita mau ngapain sih Yu kemari, cantik-cantik gini kalau ketempelan debu sayang loh.” Agus menutupi bagian wajah Sri Ayu yang mejadi asetnya.


“Nunggu Bos Gustavo, tadi sudah aku janjikan mau beli sesuatu.” Nampak gelisah wajah Sri Ayu yang tak kunjung melihat penampakan dari Gustavo.


“Jaman sudah modern ya beli ponsel lah, kalau lewat telepati sudah gak jaman. Kan baru gajian kan, kenapa tidak belikan hadiah ponsel saja.” Ujar Agus.


“Ponsel pintar bila salah sasaran hanya membuat pemakainya bodoh. Tidak tahu kegunaannya, salah-salah harapan memudahkan hidup. Eh jadi kemunduran taraf hidup. Contohnya kamu!” lirik Sri Ayu kepada Agus.

__ADS_1


“Hahahaha kok langsung aku ya kalau soal jelek-jeleknya.” Salah tingkah.


“Semua sudah tahu kalau kau pengguna ponsel pintar yang keblinger. Orang luar negeri pakai ponsel pintar untuk membuat karya dan memudahkan pekerjaan. Sedangkan kau sibuk tebar pesona dan pamer. Benar bukan?”


Mau tidak mau Agus harus mengakui kebiasaan buruknya. Sri Ayu sering memperingatkan dirinya agar tidak berlebihan memakai ponselnya. Tetapi, dasar si Agus yang bebal dan keras kepala. Dia asik bermain aplikasi tak penting dan nonton konten yang kurang berfaedah.


“Kamu bilang gini karena belum tahu rasanya punya ponsel pintar sih Yu. Coba deh nanti kamu beli ponsel pintar, kan timbul kecanduan bermain sosial media. Apalagi kalau banyak pengikut, widih top banget rasanya.” Kecap Agus bangga.


“Jangan terlalu berlebihan dalam memakai tekhnologi. Ingat dampak negatifnya bagi tubuh bila sering terpapar radiasi. Medan listrik dan elektri magnetiknya juga bisa mempengaruhi kesehatan. Belum lagi kesehatan mata, semakin bertambah usia, kwalitas tubuh kita menurun Gus.” Bibir Agus ndomble dinasehatin Sri Ayu.


Akhirnya Gustavo muncul, turun dari angkot yang mengantarnya. Wajahnya sumpringah cerah dan kaosnya basah oleh keringat yang bercucuran. Walaupun tapk berhasil mengejar mobil Derris sampai dapat, tapi dirinya sudah dekat dengan orang kaya sombong itu.


“Mbak Ayah lama ya nunggu aku?” Gustavo menyapa Sri Ayu.


“Ya lumayanlah kalau dibuat makan bakso hehehe.” Kelakar Sri Ayu.


“Hessss dasar bocah tengil,” Sindir Agus yang menggerakkan gigi-giginya.


“Mas-nya kalau cepirit dari kamar mandi saja.” Celoteh Gustavo yang tidak suka dengan Agus.


“Iya, toiletnya lagi direnovasi jadi tak tahan sampai pulang!” Bantah Agus lagi.


Sifat jutek dan tengil Agus ini memang tak kenal siapa lawan bicaranya. Usai duel dengan atasan kantornya, kini balik menyerang bocah kecil. Bukannya Gustavo anak kecil yang ingusan, tapi kenapa Agus sewot? Ternyata Agus tidak menyukai Gustavo yang tumbuh di lingkungan kumuh. Serta pekerjaan Gustavo sebagai pedangan asongan keliling. Menurut Agus pribadi, Gustavo hanya memanfaatkan Sri Ayu untuj kepentingan Gustavo dan ibunya Brenda.


“Yu, beli sabun mandi geh yang banyak. Tuh lihat rambutnya di bocah kecil ini lepek dan aroma matahari hiiiii wekkk,” Gustavo seolah diejek dengan kalimat kasar Agus yang keterlaluan.

__ADS_1


“Woi Mas-nya yang katanya Aparatur Sipil Negara. Jangan belagu ya,gaji kamu ya berasal dari pajak yang kami bayar. Artinya kamu bisa bergaya dan foya-foya dari kami orang yang dianggap bakteri oleh kaum elit macam kalian!” Gustavo menyerang balik omongan Agus yang tinggi diri.


__ADS_2