
Kehadirannya seolah tak diterima ibu dan kakak-kakaknya. Sri Ayu menjadi minder dan memutuskan untuk membawa rombongan dari Kota mengungsi ke tempat lain. Dia teringat kandang ayamnya yang bisa ditempati warga Brenda. Di kandang ada gubug untuk hunian sementara dan gudang penyimpanan logistik pakan ayam.
“Hadeh capek betul bersihin kandang bekas ayam ini. Hemmb setelah dijual kok jadi lega betul seperti losmen.” Keluh Pak Muji saat beristirahat menyapu.
Dari luar dia mendengar suara pintu dibuka. Dan seorang gadis cantik berponi berambut hitam yang kulitnya kuning langsat tersenyum.
“Bapak, ini Ayu pulang.” Peluk erat ayahnya.
“Eh aku pikir bidadari turun dari pohon nangka. Ternyata anak bungsu Bapak, kamu sekarang kok cantik Yu. Makan apa di Jakarta?”
“Masih makan harapan palsu Pak, kenyang tidak tekanan batin iya hehehehe.” Guraunya.
Berbada dengan keadan dirumah, suasana kandang ayam lebih hening dan tenang. Walaupun jauh dari perkampungan warga.
“Pak kemana si Jupri?”
“Balik ke Jepang, sejak kerbau dan ayam dijual otomatis si Jupri nganggur di Kampung.”
“Apa?” pingsan mendengar kabar terjualnya hewan piaraannya.
Dibantu warga yang sedari tadi duduk di luar kandang. Pak Muji membaringkan Sri Ayu di kasur lantai. Setelah siuman dan mulai menerima kenyataan pahit. Pelan-pelan Pak Muji menceritakan kebangkrutannya. Seperti berdongeng, Pak Muji menjadi dalang yang menceritakan kisah kerbau dan ayam itu.
“Andai Bapak mau mendengerakan Jupri, dan tidak asal-asalan pasti hewan ternakku tidak begini.” Pak Muji merasa bersalah kepada putrinya.
“Maafin Bapak dan ibumu ya Yu, kami sudah gagal meneruskan usahamu.”
__ADS_1
“Iya Pak, sudah terlanjur juga. Lantas uang hasil penjualannya ada dimana?”
“@%-#&@downshielnagxosnagdokxbsgzbfvudnxjdkwnBxgsk zvsj” membisikkan rahasia keuangan.
“Oh begitu ya Pak, baiklah kalau begitu besok uangnya biar Ayu yang pegang ya.” Pak Muji mengangguk.
Pak Muji mempersilahkan rombongan Gustavo dan Calistha untuk menggelar terpal dan tikar seadanya untuk istirahat. Warga hunian yang iku pindah sekitas 16 orang tidak termasuk Gustavo, Calistha dan Mamsky Brenda.
“Apakah mereka boleh tinggal disini Pak?”
“Tentu saja boleh, kenapa memangnya. Kan ini kandang kamu yang punya bukan. Jadi hak kamulah, tapi ibumu tahu tidak kamu bawa rombongan pengungsi banjir ini?” Sri Ayu menggelengkan kepalanya.
“Ibu dan kakak-kakakku meledekku lagi Pak, hiks hiks hiks.” Menelungkupkan kepalanya.
“Bapak, kalau boleh jujur ya sebenarnya Ayu mengalami tekanan mental ketika kecil. Dan berubah menjadi pendiam karena sering di cemooh. Rasanya Ayu seperti kotoran yang berjalan. Mereka tak pernah berhenti menghinaku sampai aku sulit menerima diriku sendiri. Itulah kenapa aku menjadi pendiam. Karena jika aku membalas omongan buruk meraka. Memang kenyataannya Ayu jelek, bukan?” ternyata Pak Muji baru tahu alasan putrinya menjadi aneh tak lain karena tekanan verbal. Yang mengakibatkan penyakit mental yang sulit disembuhkan.
“Tapi sekarang Ayu sudah berangsur sembuh dan percaya diri Pak.”
Tampak jelas aura percaya diri Sri Ayu yang sekarang lebih bersinar. Sudah diputuskan bahwa kandang akan direnovasi dan akan dirumah menjadi rumah hunian sementara. Sebagian yang lain memelih untuk mencoba untuk tinggal di Kampung Sukamager mencari nafkah.
*
*
*
__ADS_1
Setibanya Pak Muji dari Kandang, beliau mendapati istrinya tengah menyiapkan hidangan kenduri.
“Bu nanti usai acara kenduri cucu kita, ada yang ingin Bapak diskusikan dengan anggota keluarga.” Wajah kaget istrinya kaku.
Kenapa bisa suaminya sikapnya berubah usai dari kandang.
“Mungkin Bapak sawanan kali Bu.”
“Sembarangan, Bapakmu itu sama demit saja malas. Mana adalah sawanan, tapi dari roman-romannya Bapak kalian mau bicara serius.”
“Heleh, mau seirus apa Darius juga enggak ngaruh Bu. Toh aku lahiran ya tanpa suami, sama kan seperti ibu dulu. Cuma baiknya Bapak tidak main serong kayak si Prapto pencinta janda tua.” Umpat Sri Dewi.
*
*
*
Kieeet, lidah Prapto tergigit ketika menyantap nasi goreng di warung.
“Atah atah, lunak, lincah dan fleksibel tapi sakit juga kalau dijepit.” Meringis kesakitan
“Wah kalimatmu buat otakku berfantasi ke hutan, liar.”
“Laki kalau ngomong selain bola ya itu nyrempet-nyrempet ah.”
__ADS_1