
“Ih... Pak Muji nakal ya, ngasih makan Derris beginian. Apaan nich jeroan, usus, gajih dan ini apa coba kayak sikat maskara (ceker). “
“Resek ni anak mulai!” Derris yang makan menjadi terganggu dengan komentar nyinyir Lucas.
“Nih banci pemula sok jijik-jijikan pula, cluuppp.” Menyumpalkan daging bebek yang berbalur bumbu sedap.
“Ummmmbbbb rasanya seperti pengen mampos Derr...” mata Lucas merem melek kayak klimaks.
Ketiganya mulai royokan potongan terakhir makanan olahan pak Muji.
“Argghhhhhh...kenyang.” pak Muji menyerah pada ronde ketiganya.
“Ternyata makan bebas itu nikmat ya, pikiran tenang, hati senang dan perut kenyang.” Mengelus perutnya yang buncit terisi makanan.
“Makanya gak usah gegayaan diet-diet segala. Makan kok kayak kebo ajah!!” tegur Derris kepada Lucas yang masih ngelus-elus perutnya.
Daritadi mereka bertiga pesta pora sampai jelang malam. Saat hendak tidur, pak Muji seolah mencari-cari sesuatu. Terlihat gelisah dan mondar-mandir kebingungan.
__ADS_1
“Nyari apaan lagi sih pak, ayo tidur. Sudah jam 11 malam ini hoaaam.”
“Mas aku kok merasa ada yang belum ketemu ya. Apa gitu kok, sepertinya aku lupa naruh. Tapi udah aku cek kok semuanya komplit semuanya.”
Mikir punya mikir sampai diulang-ulang lagi. Ah apa ya itu, apa mungkin lupa bawa KTP. Kan sopir Si Prapto udah jadi jaminan di Restoran tadi. Tapi apa ya...
“Yawdah semoga lekas ketemu ya Pak, aku tidur duluan dulu. Soalnya jadwal penerbanganku diajukan.” Derris menutup pintu kamar tamu.
Pencarian pak Muji sampai di dapur, ternyata ada Lucas yang memotong buah mentimun. Untuk dijadikan masker wajahnya. Karena stoknya banyak yanh dibawa dari kampung. Maka Lucas membuat beberap olehan dari timun juga. Seperti rujak, jus, masker air dan lulus mentimun.
“Ini timunnya kok bagus-bagus ya pak, tanahnya pasti subur.” Puji Lucas.
“Pak Muji ada ternak apa aja buat kompos?”
“Ada ayam, sapi, kambing dan kebo. Tapi, anak bapak yang bungsu itu paling hobi piara kebo, setiap hari angon kebo di sabana.”
Eng ing eng... Pak Muji beru inget Sri Ayu ketika bahas kebo.
__ADS_1
“Waduhhh... Anakku!!!” histeris memanggil anaknya.
“Apaan pak?” kan daritadi datang sama Derris kan.” Lucas gak ngeh juga kalau pak Muji bawa anak.
Kelabakan Pak Muji mencari-cari dimana Sri Ayu. Sekeliling rumah dan semak-semak taman rumah Lucas tak ditemukan juga. Lalu sang satpam datang dengan kesal.
“Dasar gembel gemblung, kalau bawa mobil kok gak bisa masuk. Malah bikin tenda diatas kap mobil.” Yang dimaksut itu past Sri Ayu.
Bergegaslah Pak Muji keluar dan taraaaa... Diatas mobil sedan milik Prapto itu sudah berubah tenda darurat.
Bang.. Bang... Kabin mobil itu di getok oleh Pak Muji. Keluarlak Sri Ayu dari tenda yang dia buat diatas kabin. Hanya menggunakan lembaran sarung milik Jupri itulah jadi bilik tenda, dia berlindung dari terik panas dan udara dingin. Ternyata dia sedang tidur tadinya, setelah seharian dia kelaparan. Masih ada bekas bara arang, sisa bajar singkong. Perutnya hanya terganjal beberapa potong ubi singkong kayu. Belum ketemu nasi, dikatakan juga belum makan alias kenyang.
“Ampun Nduk, maafin bapak sampai lupa tujuan Bapak kemari itu nganterin kamu. Malah Bapak telantarin kamu,” memegangi kedua pipi Sri Ayu yang dingin.
Adegan dramatis itu dilihat oleh Lucas dan Derris.
“Pffffttttt... Ini tahun Millenial tapi kelajuan Kolosal.” Ucap lucas pada Derris yang masih mengucek bola matanya kantuk.
__ADS_1
“Hah itu dah biasa kalau disana.” Derris auto melenggang masuk lagi. Kantuknya sudah tidak bisa ditoleransi lagi.
“Wah idenya kreatip sekali ya, jarang-jarang lo ada orang kemping diatas kap mobil.” Lucas yang takjut dengan ide kreatif bungsu pak Muji.