
“Derr, ayo turun! Temenin aku ngapa?” Lucas meronta.
“Gak!” Acuh mengabaikan.
“Jakarta rawan kriminalitas, aku takut nih kalau turun sendirian.” Merapikan dandanan cantiknya.
“Kamu kan cowok Cas, bogem mentah saja kalau ada yang macem-macem.”
Blaaassss, Lucas membanting pintu mobil Derris. Rencananya hari ini Lucas mau sidak galeri toko ponsel milik Madam Deposit. Disini juga berdiri beberapa konter ponsel dan toko perhiasan yang dikelola ibunya Lucas.
“Kenapa Bos?” tampaknya Gustavo gagal beli ponsel lagi.
“Diusir Mbaknya sama mbak-mbak SPG katanya tidak melayani pembelian ponsel secara tunai.”
“Widih, kan tadi saya kasih uang kontan Bos.” Sri Ayu tercengang dengan penuturan Gustavo.
“Kalau urusan kredit dan cicilan serahin sama Agus Sejagad.” Menepuk dadanta dengan tegap.
Daripada tak dapat ponsel sama sekali, akhirnya Sri Ayu memutuskan Agus. Bermodalkan kartu kredit dalam dompetnya yang berbaris rapi. Agus memakai kacamata agar penampilannya menjanjikan.
“Mbak, saya mau borong ponsel tipe ini ya.” Agus bicara dengan salah satu SPG perempuan yang cantik.
“Oh bisa Mas, silahkan. Mau berapa unit?” ramah SPG menjawab Agus.
“Emb... Saya butuh 5 unit saja Mbak, kalau dibayar kredit bisa kan?”
“Bisa banget Mas, mari kita mulai transaksinya.” Menerima kartu kredit milik Agus.
Dari dalam Toko Agus mengkode urusan lancar ke Sri Ayu dan Gustavo. Alamat punya ponsel baru segera terwujud.
“Mas, kartu kreditnya semua sudah over limited jadi pake uang tunai ya.”
Keringat dingin bercucuran ketika 5 kartu kreditnya ditolak oleh mesin gesek. Rencana awalnya Sri Ayu pesan ponsel 3 unit, karena Agus kepincut ponsel keluaran terbaru juga. Alhasil dia milih 2 unit ponsel baru. Katanya untuk ibu dan adiknya di Kampung.
“Loh kok tangan hampa Gus, ponselnya mana?” wajah lesu Agus berbanding terbalik dengan gaya songongnya ketika hendak masuk.
__ADS_1
“Sudah kelewat batas Yu, maaf ya.”
“Yah sama-sama gagal deh,” Gustavo nyender di mobil yang dibelakangnya.
Tuk... Tuk... Suara kaca diketuk dari dalam. Gustavo yang panik langsung terkaget, setelah diteliti dengan cermat warna dan plat kendaraannya sama.
“Ambil!” mengeluarkan ponsel dari dalam mobil lewat kaca jendela yang di turunkan separo.
Bukannya mengambil atau berterima kasih, Gustavo seolah mengalami kejadian yang sama. Dimana dia menerima sesuatu dari pemilik mobil secara Cuma-Cuma. Saat mobil dan pemiliknya kini ada di depan mata, Gustavo seolah membantu bak Malin Kundang.
“Kenapa Bos?” Sri Ayu menghampiri Gustavo.
Dan keluarlah Derris dari dalam mobil, pintunya terbuka keatas. Matanya masih tertutupi kacamata hitam dengan jaket kulit kasual yang serasi. Derris membuka kacamatanya, kemudian menyibak rambutnya yang belag samping. Kulitnya yang merona karena pantulan cahaya matahari seperti kulit Vampir yang berkilauan.
“Ambillah,” dengan nada yang lebih lembut.
Kemudian Sri Ayu mengambil 3 unit ponsel dari Derris. Setelah ponsel tersebut diterima, Derris memakai kacamatanya lagi dan masuk kedalam mobil. Tak berselang lama, seorang wanita berparas cantik, berambut panjang nan ikal dan memakai kacamata coklat merk terkenal datang. Menenteng tas berwarna putih merk “NGENES” yang harganya mahal terpingkal-pingkal. Setelah wanita cantik itu masuk kedalam mobil Derris. Kendaran mewah itu melaju meninggalkan parkiran.
“Bujuk boneng cakep banget tuh wadon, hemmmmbbb.” Agus ngiler melihat Luciana Lucas.
“Sadar Om, itu wadon berjakun!” Agus lalu tersadar sudah terhipnotis wajah saja.
“Hadeh Gus Gus telitilah dalam mengangumi. Masak laki ijab laki ckckckk.”
Agus menyesal sudah memuji Luciana Lucas sebagai wanita tulen. Sepanjang perjalanan pulang Gustavo yang diberi ponsel Derris awalnya ceria, namun kini sedih. Karena dia ingat dengan uang Seratus Ribu nya dulu belum ia kembalikan ke Derris.
“Mbaknya kenapa terima barang pemberian Masnya tadi,bukannya Mbakya anti gratisan ya?” Dilihatnya bibir bawah Sri Ayu digigit gemas.
Tak bergeming dengan omongan Gustavo. Dada Sri Ayu ikutan berdisko ria, sekian lama dirinya tak bertemu majikan ayahnya. Kini sudah dijumpainya lagi.walaupun tak sempat bertegur sapa.
“Ada-ada saja ulah orang miskin jaman sekarang. Kecil-kecil sudah jadi pencuri, masak ya Derr. Uang hasil nyurinya mau dibuat beli ponsel 5 biji, bayangin.” Lucas bicara dengan Derris.
*
“Ah akhirnya bisa menghemat uang gajiku yang aku tabung. Makasih mas Derris.” Sri Ayu bergeming sendiri yang diperhatikan Gustavo.
__ADS_1
*
“Dan parahnya hanya lagi, ada cowok yang sudah kelebihan batas kartu kredit mau beli 5 unit ponsel sekaligus. Jaman jaman edan, ckckckck.” Derris masih diam tak membalas omongan Lucas
*
“Jadi Masnya tadi namanya Derris ya?” ucap Gustavo.
*
“Derr, ngomong dong ngomong hayukk. Masak aku bicara sendiri sih, sebel!” Derris masih asik mendengarkan musik.
*
“Mas Derris itu mantan majikan ayahku ketika bekerja di Jakarta.” Tutur Sri Ayu.
*
“Tuh Derr, lihat ini rekaman video dari CCTV toko tadi. Nyebelin kan konsumenku yang datang hari ini!” Derris baru meleng sedikit.
*
“Tapi sayang, Mas Derris mungkin lupa sama aku. Padahal dulu dia tinggal lama dirumahku.” Sedih Sri Ayu tak dikenali Derris.
*
“Tadi ponsel sponsor di dalam dasbor udah aku kasih sama anak kecil itu.” Barulah Derris menjawabnya.
“Apa?” Lucas terkejut.
“Hu’um, “ Derris mendowerkan bibir bawahnya sambil fokus menyetir.
Sepanjang perjalanan Lucas mengomel tak terima jika Derris memberi ponsel secara Cuma-Cuma. Bukannya berniat pelit, karena Lucas berpikir Derris terlalu royal untuk orang yang baru ia kenal. Sesal Lucas tadi tidak melayani Gustavo maupun Agus yang hendak membeli ponsel baru di Tokonya. Andai tadi SPGnya tidak sentimen buruk, sudah pasti dapat untung dirinya. Tapi justru, Derris yang memberikan ponsel secara gratis.
“Aku memberikan mereka berdua ponsel gratis karena dari dalam mobil. Aku mendengar percakapan mereka yang ingi membeli ponsel baru. Daripada ponselnya tk terpakai memenuhi dasbor lebih baik ku berikan pada orang saja yang membutuhkan. Lagipula ketika kau mengawasi lewat kamera perekam, itu bukan sikap pemilik usaha. Terjung langsung dan berkomunikasi lah dengan konsumen. Karena yang dianggap miskin dari penampilan, sesungguhnya orang yang mampu membeli tunai. Sedangkan yang penampilannya Bagus, biasanya hidup penuh cicilan.” Derris menasehati sahabat karibnya yang memiliki pandangan sosial yang salah.
__ADS_1
Sebenarnya Derris tak tega keras terhadap Lucas yang berpenampilan wanita. Wajahnya yang memelas ketika dinasehati Derris nampak imut dan menggemaskan. Tapi Derris tetap menganggap Lucas tetap lelaki sebagai sahabat karibnya. Bukan perempuya seperti wujudnya yank baru.