
Sesosok makluk bersepatu kulit buaya, yang memakai topi koboi keluar dari mobil sedan itu. Ternyata oh ternyata itu adalah Prapto. Mantan kekasih Sri Dewi yang pulang ke kampung.
“Haesss, saatnya menyambangi mantan.” Begitu kang mas Prapto membuka kaca mata hitamnya yang menutupi setengah wajahnya.
Bu Muji yang memang bermata Rupiahan itupun menggelar karpet merah. Untuk menyambut tamu Agung yang datang kerumahnya. Pak Muji yang tetap jaga gengsi itu masih memilin manja kumis rebondingnya.
“Syelamat syiang batal calon mertua anaaa,” mendadak aksen bicara Prapto ke Arab-arab-an.
“Se-selamat siang nak Prapto,” ucap ragu bu Muji.
“Heheheh dulu nama anda memang Vrapto, tapi sekarang nama anda Abu Latup. Raja rentalan mobil dan travel syalalalala lala.” Memperkenalkan identitas barunya si Prapto.
“Oh iya nak Abu Latup, si-silahkan duduk. Mari,” Prapto masuk kerumah tanpa melepaskan alas kakinya.
Hidih, si kampret kutu kupret ini songing syekali. Paling modal rental semua gegayaan jadi sultan dari Asia Tenggara. Nginjek-nginjek ubin yang baru kelar di pel susah payah, dasar tamu tak bermoral!!! (Sri Ajeng membatin kelakuan mantan pacar kakanya).
“Nak...Sri Ajeng, tolong panggilin kakakmu kemari. Katakan padanya ada tamu spesial, pake ban bundar datangnya. Bukan modal tampang doangggg!” Sembari menyindir Derris dengan perkataannya.
“SENDIKO DAWUH KANJENG GUSTI SIMBOK, (baik laksanakan bu)” Sri Ajeng berlagak bak pemain ketoprak.
Di dalam kamar Sri Dewi yang tak dikunci, adiknya menerobos masuk.
“Jiaaaaaa hahahahha, ketahuan kan!” sontak suara itu mengagetkan Sri Dewi yang baru saja mengecek alat tes kehamilan.
“Eh apa ini, kok ada penggaris mini ya, ini untuk apa mbak?” memegang salah satu ujung alat tespek.
__ADS_1
“Iya dek, mbak abis ngukur alis makanya pake penggaris. Tuh rapi kan heheheh.”
****** ya gobloke dech sekalian aja, ntar urusan bisalah beli lagi nitip si Jupri. Yang penting urusan aman dulu lah. Gumam dalam hati Sri Dewi.
Yang semula dikira penggaris itu dipakai Sri Ajeng untuk membuat pola alisnya juga. Dengan polos dan telaten berkaca di cermin riang Sri Dewi.
“Tadi kesini mau bikin alis ya dek?”
“Oh iya ampe lupa, mbak Dewi di cari Abu Latup. Sultan dari Tenggara katanya hahaha.”
“Huwae bapaknya mas Derris mau melamar mbak ya. Duh kok jadi keki begini ya rasanya. Panas dingin gini keluar keringat di ketek mbak duuuhhh.” Sri Dewi gelojotan tak karuan.
Sedikit membenahi dandannya, dan tak lupa memakai jaket.
“Hallo darling,” melambaikan tangannya.
Yahhhh si Prapatan Toko (Prapto) kirain calon mertua datang (hatinya sedikit lesu mengetahui tamunya adalah bekas pacarnya).
“Hemmmmm,” menyunggingkan bibirnya kecut.
“Hallow darlinggggg?” mata Prapto berkedip-kedip.
Dari luar anak-anak kampung Sukamager masih rame mengelilingi mobil Prapto yang terparkir.
“Hai syupir, vinggirin itu onta ana ke bawah pohon yang rindang. Bisa lecet catnya kalau kena vanas matahari!”
__ADS_1
Supirya keluar dan memindahkan mobilnya.
“Hussshhh hussssttt minggir... Minggirrr ini mobil mahal. Dasar anak kampung norak!!!” ucap supir Abu Latup alias Prapto.
Dari Jendela kamarnya Derris melihat sikap arogan sang supir pribadi itu.
“Cih, sombongnya orang baru kaya itu. Kerjain ajalah, mumpung gak ada kesibukan.” Tiba-tiba di kepala Derris muncul ide iseng.
Sepertinya supir itu kesulitan untuk memutar balik arah parkirnya.
“Yukkkk... Yukkk terussss lagi terussss, prrriiiitttt.” Derris meniup peluit bak kang parkir dadakan.
“Eisss asik, ada kang parkirnya. Gini dong asikkk.” Supirnya merasa terbantu untuk mengarahnya mobil.
Mobil sudah terparkir di bawah pohon jambu air, yang kebetulan buahnya sudah masak. Sesuai arahannya si Derris, anak-anak kampung itu di suruhnya naik ke atas pohon Jambu. Dan menaiki mobil sedan tersebut sebagai pengganti tangga pemanjat. Alhasil anak-anak yang tadi kecil hatinya dihina oleh supir dengan cacian. Sekarang riang gembira, berpesta pora makan jambu air diatas mobil sedan milik Abu Latup alias Prapto.
“Setelah puas, langsung pulang ya dek. Jangan berisik oke,” begitu Derris menuturkan nasehatnya.
“Baik mas ganteng heheheh.”
“Siap mas ganteng muaaaccchhh,”
“Ayo makan yang banyak, jangan lupa plorotan di mobil ini.” Ucap bocah yang paling Badung.
Dalam hati Derris sangat puas melihat kebahagiaan anak-anak kampung Sukamager ini. Andai saja jalan Desa ini dibenahi dengan baik, pasti anak-anak ini tak menghirup asap knalpot kendaraan. Selain tidak baik untuk paru-paru juga bisa membahayakan diri. Karena pengendara mobil bisa kapan saja melaju atau berhenti tanpa aba-aba.
__ADS_1