MAS DERRIS

MAS DERRIS
BARANG KECEPIT, KALO DIUSIK SAKIT


__ADS_3

“Derr, aku seneeeenggg banget. Tahu gak kenapa?” nemplok di lengan Derris manja.


“Ihhhhh... Apaan sih jijik tau!!” mengibaskan glayutan Derris.


“Aku ngambek loh, aku usir itu anak Pak Muji kalau kamu nolak.” Derris akhirnya iyain aja.


“Nah gini dong baru bener, aku kan kangen banget sama kamu Der. Makin lama kamu makin hot aja dari Kampungnya Pak Muji. Disana kamu ngapain aja, kok sulit dihubungi?”


“Nyari Kitab suci.” Jawab ketus.


Sepanjang perjalanan ke Bandara, Lucas banyak menceritakan petualangannya menjadi sekarang. Lebih tepatnya Lucas sudah gak bisa lagi ngeloni guling bernafas. Karena frustasi dengan kondisi lemah syahwatnya. Lucas sering mangkal di Salon kecantikan. Selain melakukan perawatan dan rileksasi. Teman-temannya juga beraneka ragaman Hayati, Haryanto, Hartatik, Halimah dan Halaman selanjutnya.


*


*


*

__ADS_1


Pikiran Sri Ayu tak tenang, berhari-hari dia mogok belajar. Pikirannya tak fokus mikirin pelajaran.


“Ck...” meletakkan penanya yang sedari tadi di ketuk-ketukkan dikepalanya.


“Apa Bapak balik kampung aja Nduk?” Kelihatannya Sri Ayu lebih berat mikirin kandang ternak dan lahan pertaniannya.


Sudah Dua Minggu tinggal Dijakarta, membawa dampak positif. Yah, selain Sri Ayu tahu alat-alat modern rumah tangga. Dia sekarang punya kemajuan, selain bisa tidur memakai AC. Saat buang hajat juga gak bikin ambrol WC duduk. Dulu saking lugunya, saat buang hajat salah pose. Jongkok di dudukan, alhasil ambrollah WC duduk tersebut. Dan yang lebih antiknya lagi, Sri Ayu kangen mandi di sungai. Karena sungai di Jakarta keruh dan selokan got kotor. Ada alternatif lain, yaitu kolam ikan Koi milik Lucas yang ukurannya besar. Dilengkapi air mancur, batu-batuan dan tanaman khas menambah kesan alami. Terkadang kalau iseng gak ada kerjaan lagi, dia asik mancing ditemani Pak Muji, ayahnya. Ukuran ikan yang besar dan bardaging tebal itu cukup lezat juga ketika di santap. Gak tahu, kalau itu ikan mahal. Taunya Sri Ayu itu ikan Mas ajalah, yang biasa dia budidaya di sawah. Hanya saja ukurannya lebih mini, dan biasanya di panen sebelum padi menguning.


“Pak Satpam, besok saya mau balik di Kampung Sukamager lagi. Sluruuupppp ah.” Menyrutup kopi kental manis.


“Nah itu, setiap hari ada aja ulahnya. Takutnya gini Pak Sat, pas kita meleng dia nyelakain dirinya sendiri. Anakku kan tinggal di Kampung pedalaman kan. Jadi dia masih Tarzan bangetlah, kalau nemu barang-barang yang asing buatnya. Jadi gini, selain saya masrahkeun amanat Mas Lucas. Saya mengatakan bahwasannya, jikalau terjadi apapun nantinya terjadi pada anak saya. Mohon dimaklumat ya...” tetiba Pak Muji sawan ejaan jaman Kemerdekaan.


“Wah... Wah saya gak sanggup lahir dan bathin pak. Mending saya disurug jaga anak anjing aja.” Satpam itu menyilangkan kedua tangannya.


“Loh heh, loh hah, loh hih...” kok anaknya dibandingin sama anak anjing oleh Satpam kurang ajar itu.


Mencak-mencaklah Pak Muji, diawali adegan siraman kopi di wajah Satpam tersebut.

__ADS_1


“Eh Pak, kopi ya emang Bagus buat masker wajah. Tapi gak diadonin pake air panas lah, slreeeppp.” Nyesepin lelehan air kopi yang masih menempel di area wajahnya. Dengan menjulurkan lidahnya.


Pak Muji yang nyiram air kopi itu, dianggap bercanda oleh Satpam. Baru setelah dia nyusupin sendal ke mulut satpam itu, kejadian adu gelut dimulai. Nah adegan inilah yang paling ditunggu.


“Blueeehhhh... Pak pait nich.” Meludah-ludah karena sendal masuk ke mulutnya.


“Heeemmm berani-beraninya nyama-nyamain anakku sama guguk.” Geram mplinti-mplintir kumis rebondingnya.


“Ciaaaaatttttttt rasakan pembalasanku ini, Mujionooooo”. Menusukkan ujung pentungan di bokong pak Muji.


Blessss... “Wataw ambien-kuw mpluberrrrrrrr, kampretttttt.” Pekik pak Muji gak keenakan.


“Ha...hahahahahaha gimana Pak? Sedap-sedap linu ya kwkwkwkwk, gimana pak brutunya udah jebol, gak perawan lagi?” tawa penuh kemenangan Satpam.


“Hidihhh... Main belakang,” Pak Muji meleng dan menendang tendangan Tsubasa tepat pada sangkar burung Pat Satpam yang seimut Tweety.


“Aduh burungku retak cangkangnya humph.” Menekam selakangannya yang berjuta rasanya kayak mau lahiran hahahah.

__ADS_1


__ADS_2