
Beruntung sekali Sri Ayu yang memang serius belajar, dari Fajar ketemu Pagi. Soal-soal materi yang udah nempek kayak sayap pembalut. Benar-benar kuar merekat di ingat Sri Ayu. Dengan lincah dan gesit dia mengisi jawaban dengan penuh percaya diri. Yah, percaya diri kalau jawabannya benar saja.
Di sudut lain, tempat Berlian duduk mengadu nasib keberuntungannya. Banyak Panita yang berdiri, yang sekedar berdehem-dehem ngasih kode. Modusnya kasih kartu nama, biar di respon balik sama Berlian. Karena temannya juga tak ingin kalah, mengeluarkan uang pecahan Seratus Ribuan dan ditindihi ponsel. Dan temannya yang belakang lagi gak mau kalah panas juga ya, secara ada mangsa bening mirip batu berlian. Dikasihlah dompet dan kartu nama, makan persaingan semakin sengit saja. Berlian hanya bisa mendesah kesal, tak ada habis-habisnya para lelaki ganjen itu terus menggodainnya.
“Woiiii bubarr, rombongan Bapak Menteri datang bersama Wartawan. Kembali ke posisi Power Rangers buruannnn!!!” Teriak salah satu teman mereka yang giliran jaga pintu.
Grudag-grudug polah Panitia lelaki itu bikin suasana gaduh. Ada yang dari peserta lelaki menyumpah serapah mereka, karena curi-curi kesempatan mendekati Berlian. Sang idola baru tes CPNS.
Rombongan Bapak Menteri sudah dekan dan memasuki ruangan. Dirinya hanya memberi salam dan meminta melanjutkan mengisi soal ujian. Pak Arnoldo yang melihat putrinya seperti kesal. Wajahnya Barbie-nya cemberut sesekali saat menatap soal ujian.
“Apakah sulit?” Dirinya mendekati sang Putri.
__ADS_1
“Tidak Pak, disini banyak nyamuknya. Ganggus konsentrasi,” Pak Arnoldo peham betul, kalau nyamuk-nyamuk nakal tersebut adalah laki-laki yang berada di ruangan.
“Abaikan saja,” Pak Ornoldo berdiri lama di samping putrinya.
Sesekali Pak Arnoldo mendapati pemuda lain, tengah dada-dada saat Berlian menoreh memutar lehernya yang kaku. Jelas hal itu hal sangat yang biasa, buat pak Arnoldo.
Putrinya bisa meminta kemudahan pada dirinya. Hanya saja, sifat Berlian itu keras kepala. Dia mau lulus menjadi PNS dari hari keringatnya sendiri. Bukan karena sponsornya siapa. Berlian sudah mendapatkan gairahnya lagi dan sudah hampir separuh soal ia kerjakan. Sepertinya cara Pak Arnoldo sangat ampuh, yaitu berdiri di samping putrinya.
Teriknya matahari di Jakarta gak bisa diremehin. Rambutnya yang cepak dan keringat bercucuran deras. Dirinya harus berjalan kaki sangat jauh. Dari lokasi parkiran Bajaj mogok. Semoga ayahnya masih disana Setia menunggunya. Rasa haus yang tak bisa dielakkan lagi, mengeringkan tenggorokannya. Sebuat pedagang asongan menghitung pundi Rupiah hasil jualannya. Dirinya memberanikan diri untuk sekedar membeli air minum. Karena termos bambunya sudah kosong. Si kang asongan itu takut, dia pikir Sri Ayu itu preman pemalak. Dan kocar kacirlah dagangannya yang berserakan. Sungguh tragis nasib Sri Ayu di Ibukota. Dia memilih duduk bernauh dibawah pohon rindang, ada sebuah keran air. Dalam benaknya semoga ada air yang bisa diminum. Ternyata keran itu rusak, yang keluar hanya suara angin saja. Dirinya kembali duduk, agar dahaganya bisa sedikit diajak kompromi. Perlahan-lahan dia merasa sejuk, saar membuka matanya. Dia ternyata berada dalam mobil mewah.
“Hai, sudah bangun?” wajah cantik Berlian begitu menyapa. Ketika Sri Ayu membuka matanya.
__ADS_1
Sri Ayu yang masih lemas itu clingak-clinguk. Takutnya dia diculik, sedangkan ayahnya tidak tahu dimana rimbanya.
“Tenang, sopirku sedang mencari keberadaan Ayahmu di parkiran Bajaj. Kau duduklah dengan santai disini.” Menyodorkan minuman dingin dari kulkas mobilnya.
Slruuupppp...”Tet... Terimakasih.” Sri Ayu mengucapkan usai tenggorokannya basah oleh es teh.
“Wah, ada orang yang bilang ‘terimaksih’ kepadaku.” Berlian memelik erat tubuh kecut Sri Ayu.
Kenapa Berlian kegirangan mendengar ucapan sederhana itu? Karena Berlian beberapa kali berteman dengan orang yang salah. Yang memanfaatkan dirinya untuj kepentingan lain. Lalu, ucapan terimakasih yang sesederhana itu. Bisa membuat seorang Putri Menteri tersenyum riang.
“Setiap kali aku ngasih sesuatu kepada orang. Mereka bilang, besok lagi ya. Ada lagi gak nich buat aku bagi-bagi yang lain. Kamu orang pertama yang bilang makasih kepadaku. Makasih ya teman, makasihhhh.” Sri Ayu paham ternyata ucapan sepelenya itu seperti barang berharga bagi sang Dewi Fortuna.
__ADS_1