
Sementara di kandang ayam ada sesosok manusia langka. Masih memakai sarung kritingnya. Plak, tangan Jupri berhasil menggeplak nyamuk nakal.
“Hap, mayanlah daripada gak ada yang bisa dimakan.”
Malang betul nasib Jupri, biasanya jatah makan dikirim rutin. Sekarang berasa puasa saja, sehari cukup 1x.
“Andai punya istri, byuh enaknya.” Jupri berandai-andai dengan mengusap perutnya yang berbulu.
Tak berapa lama Jupri berujar asal ucap, terciumlah aroma sedap makanan.
“Jup, aku bawakan mie rebus dan aking.” Ucap Sri Dewi Putri sulung Pak Muji.
Dengan perutnya yang semakin membuncit itu. Tampak kewalahan dan kepayahan. Ada rantang makanan dan termos air panas. Dalam benak Jupri pasti itu kopi manis.
“Duh Mbak Dewi ngerepotin saja, sini-sini Jupri Habisin makanannya.” Tanpa babibu Jupri menggasak isi rantang makanannya.
Dengan lahap Jupri menyantap Mie rebus dan Nasi aking.
“Jup, kamu makannya lahap begitu emang rasanya enak?” Sri Dewi baru ingat kalau ternyata bumbu mie tersebut tidak ikut dicampurkan.
__ADS_1
“Nyuam... Nyuam... Nyuam... Enak Mbak selama gratis mah hehehe.” Asal perut tak kosong, karena mati dalam keadaan lapar sungguh memalukan.
“Heheheh, sebenarnya itu tadi makanan buat kerbau yang telat dikasih makan rumput sama bapak, Jup!” Sri Dewi memelankan intonasi bicaranya.
“Uhukkkk,uhuuuukkk hueeekkkkk.” Saking bahagianya Jupri,hingga keseleg sampai muntah.
Dia pikir aku ini macam ternak ya, mentang-mentang aku tinggal dikandang. Wah mau bikin aku celaka juga nich. Asem, asem ternyata aku ini sudah disamain kerbau saja. Tak sudi aku lanjutin makanan ini. Gerutu Jupri dalam hati.
Dengan telaten Sri Dewi mengelap bibir Jupri.
“Jup, sebenarnya mbak kasihan sama kamu. Karena Mbak gak bisa masak, yah begini deh hasilnya. Maafin Mbak ya Jup.”
Tiba-tiba Jupri meleleh bagaikan keju Mozarela yang dipanaskan. Awalnya kesal mau marah, sekarang jadi kalem lembut dan bersayap.
Entah mimpi ketiban kelapa atau buah nangka, seorang Sri Dewi meletakkan kepalanya diatas pundak Jupri yang kekar berotot. Hasil olahan kerja kerasnya dikandang. Membuat tubuhnya menjadi atletis dan modis Cuma jarang mandi saja yang buat kulitnya keling dan kusam. Sendal jepitnya saja dipaku karena sudah putus. Belum lagi sarungnya, sudah pasti nunggu malam Satu Suro baru dicuci. Jadi tak usah tanya kapan disetrikanya ya, karena setrika arang sudah pasti jadi rebutan. Daripada repot nunggu giliran nyetrika barang yang cepet dipakai lagi. Mending Jupri tampil adanya apa hehehe.
“Eh Mbak Dewi jangan nyender-nyender di pundak Jupri, nanti hati Jupri jadi gak karuan.” Menjauhkan kepala Sri Dewi yang menyender..
Wajah masam Sri Dewi tampak menjadi mimpi buruk.
__ADS_1
“Gak mau! Nurut!” Sri Dewi menarik tangan Jupri kuat-kuat.
Dan akhirnya Jupri si pria kandang itu oleng. Cuppp ah, sebuah kecupan mendarat di bibir Sri Dewi.
“Himmmmppp...” bibirnya yang masih perjaka ini telah diperawani oleh istri sah orang lain. Jupri terus memegangi bibirnya yang kenyal bak puding rasa coklat stroberi.
Senyuman manis dari Sri Dewi seolah menyiratkan kemenangan. Jupri yang awalnya tak memiliki perasaan apapun kini menjadi awut-awutan seperti cerobong kereta api.
“JUP... JUPRI... BALIK JUP, AKU ENGGAK GIGIT KOK. SINI JUP!!!” tegur Sri Dewi yang melambaikan tangganya.
Namun Jupri terus berlari dan melaju di kegelapan malam. Dia seolah telah dinodai wanita hamil yang merupakan anak majikannya, rencananya dia ingin menyerahkan kesuciannya untuk calon istri idamannya. Namun sudah direnggut dengan tanpa disengaja baru saja.
“MBAK AYU... KAPAN KAMU PULANG!!!” Jupri berteriak diatas batu di Puncak tebing yang tinggi.
----JAKARTA,
“Uhukkkk... Uhukkkk.” Gustavo menepuk punggung Sri Ayu agak membaik.
“Maaf ya Mbaknya, tadi aku nyuri singkong Mamsky buat kita mangkal rutinan di markas.” Gustavo menyesali perbuatannya.
__ADS_1
“HUUM, HAAASHHH,” usai menenggak air putih dalam botol.
Sepertinya ikatan batin Jupri dan Sri Ayu sangat kental. Hingga jarak yang jauh pun tak menghalangi ikatan batin keduanya. Sebenarnya Sri Ayu ingin sekali mudik, tapi nunggu cuti panjang. Mau kiri. Surat lewat pos, bingung kasih alamatnya yang sekarang. Dibilang tempat tinggal ya iya, tapi kalau ditanya alamat. Masak ditulis Apartemen di bawah jembatan, diatas kali. Enggak kece sekali bukan?