MAS DERRIS

MAS DERRIS
PANIK


__ADS_3

Misako menatap tajam pira yang duduk di depannya. Dengan lahap pria itu memakan hidangan yang tersaji di meja.


“Enak?” ucap Misako menyindir.


“Hehehe maaf aku sangat menikmati hidangan enak ini.”


“Setelah selesai makan, lekas tanda tangani surat perceraian kita. Dan hutangmu lunas, kau bisa kembali ke Indonesia dengan selamat.”


“Lalu kau? “


Keduanya lantas menghentikan agenda makan bersama. Diketahui jika ayah Derris sudah bangkrut. Sehingga memilih tinggal di New York dan bekerja di Perusahaan koneksi Misako. Ayah Derris begitu terpukul mendapati istrinya menggugat cerai dirinya.


“Aku sadar diriku tak lagi sejajar denganmu, tapi kita harus mempertimbangkan Derris.”


“Simpan ucapan konyolmu itu, apa kau pikir Derris selama ini merasakan keluarga utuh? Jangan bermimpi, bukankah kita hanya menikah dan memiliki anak saja. Setelah itu menjalani kehidupan masing-masing seperti semula.”


Lelaki yang mulai terlihat ubannya itu meremas lembaran-lembaran kertas. Dia seolah dicampakkan oleh seluruh Dunia, istri yang dianggap Setia disaat susah dan senang hanya kiasan janji dimulut saja.


“Aku tidak akan menyetujui perceraian ini!”


“Jika kau tidak menyetujuinya aku masih bisa menggugatmu dengan tuduhan yang bisa aku rekayasa. Ingatlah, selama ini Derris tidak bisa hidup susah. Kau tahu tidak, karena mu juga. Putra tunggal ku harus terusir dari rumah dan hidup di Kampung kumuh. Dia bahkan harus bekerja di Perusahaan asing. Kau tahu tidak, jika pendidikan Derris itu tinggi lulusan luar negeri. Kau pikir masa depan putraku hanya makan Cinta dan janji busukmu!”


Deg! Ucapan Misako seperti pedang yang menusuk-nusuk tubuhnya. Ingin rasanya menjadi tuli, agar tidak mendengarkannya. Hinaan dan cemoohan istrinya tak bisa ia toleransi lagi. Harga dirinya seperti terinjak-injak oleh cercaan Misako.


“Uhukkk, lepaskan!” lehernya tercekik.


“Lebih baik kau mati tapi masih berstatus istriku,daripada kita harus bercerai hidup.” Terus mencekik leher Misako kuat.


Prang, suara guci pecah dihantam kepala hingga tak sadarkan diri. Nasib baik Misako dirinya terselamatkan dari cengkeraman maut.


“Sekarang kau sadar bukan, bahwa aku bisa memberikan hidup lebih baik untuk kalian berdua.” Mengusap pipi Misako.

__ADS_1


Wanita yang sudah lemas tak berdaya itu hanya duduk dan menyandarkan tubuhnya di kursi mobil limosin mewah. Sedangkan Ambulan dihubungi agar segera mengurus ayah Derris yang pingsan.


*


*


*


---SUKAMAGER,


Kegiatan warga sekarang bertambah, setiap sore berkumpul di jalan beraspal sambil mencari kutu untuk perempuan. Dan kaum lelaki menggendong anaknya sambil menyuapi makan. Untuk yang lanjut usia mengadakan siraman rohani sambil menggelar karpet empuk. Jalanan ini sepertinya salah fungsi dari penghubung aksen mobilisasi pergerakan ekonomi. Menjadi ajang kumpul dan mencari hiburan.


“Pak Kepala Desa, sepertinya warga perlu dibuatkan taman bermain.”


“Mas Agus ini bisa saja, yang ada malah tamannya jadi kebun sayur-mayur. Warga disini lebih tertarik dengan sayuran bukan bunga-bungaan. Hehehe.”


“Tapi bagaiman mobil dan kendaraan mau lewat kalau setiap hari warga memadati jalan? Desa ini dibenahi agar menjadi baik dan maju. Agar bisa mengikuti perkembangan jaman.”


“Saya tahu mas Agus, tapi saya lebih senang kalau warga Sukamager ini menikmati kebahagiaannya mempunyai jalan beraspal. Selama ini mereka seolah berjalan di sungai kering hahahah.”


Sekian lama Agus bertugas di Kampung, sikapnya menjadi kearifan lokal. Menjunjung tinggi nilai kesederhanaan dan menghormati keanekaragaman.


“Duh Pak, sakitttt__” keluh Sri Dewi.


“Pak Bapak, mbak Dewi ngompol!” ucap Sri Ajeng.


“Ibumu mana?”


“Ibu pergi ke ladang membajak.”


Kelimpungan tindakan apa yang harus Pak Muji kerjakan dahulu. Karena dari ketiga kelahiran putrinya, beliar berada di Jakarta.

__ADS_1


“Pak ayo cari ojek apak kek, aku mau lahiran ini aduh uh uh uh mana tahan ih ih ih ih.” Rintih Sri Dewi.


“Mbak kok tahu mau lahiran, kan Cuma ngompol di celana kan.”


“Lihat kepala bayinya sudah nongol Jeng!” mengintipkan di jalan keluar bayi.


“Ahhhh,” pingsanlah Sri Ajeng melihat kepala manusia yang mau lahir.


“Pak tolong tarik kepalanya, aku sudah tidak kuat ahhhhhhh.” Sri Dewi mengejang kuat.


Brolll keluarlah isi perut Sri Dewi berisi bayi lelaki yang sehat bersama air ketuban dan darah. Pak Muji sudah kehabisan ide dan akal kembali kedapur dan mengambil wajan dan spatula.


Teng, teng teng “Bagi warga yang mempunyai pengalaman beranak-pinak dimohon segara datang kerumah saya. Ada imbalan menarik.” Seperti sayembara dengan iming-iming yang menggiurkan para lelaki maupun perempuan berbondong-bondong datang kerumah Pak Muji. Setelah melihat kondisi anaknya lahiran dan bayi yang masih berada diluar pada kabur.


“Woi kalian tidak mau uang?” Pak Muji memanggil mereka agar kembali.


“GAK PAK, NGILU SAYA MAH. “


“Auto sawan Pak.”


“Minta tolong sama dokter saja Pak.”


Berbagai macam jawaban yang terlontar dari mulut mereka membuat Pak Muji geram. Dia mengayuh sepedanya menuju Puskesmas terdekat. Alhasil ketika ada wanita yang hendak memasang alat kontrasepsi dihentikan Pak Muji. Dokter itu dibawa kabur dengan sepeda merah muda milik Sri Ayu.


“Ayo Bu, keburu anak saya kehabisan darah.” Menggenjot pidal sepedanya.


“Tali pusarnya sudah digunting belum Pak?”


“Belum Bu, emang tali pusarnya mesti dipotong kayak peresmian gitu ya?” tanya Pak Muji dengan terus mengayuh.


“Iyalah Pak,” jawab Dokter.

__ADS_1


Kayuhan sepeda Pak Muji itu melaju dengan kencang. Melewati lembah, gunung, sungai, sawah, pematang kebun dan bendungan. Akhirnya tibalah di kediamannya. Alangkah terkejutnya apak Muji anaknya masih tergeletak namun bayinya raib.


“YA TUHAN CUCUKU DIGONDOL LEAK HUAHAHAHAHA HIK HIK HIKS.”


__ADS_2