
Saat menjelang tidurnya, Lucas mendobrak pintu kamar Derris. Dia mengutarakan protes terhadap sikap Derris yang sibuk dan hanya pulang ke rumahnya ketika jam tidur. Dan paginya Derris pergi lagi entah kemana.
“Derr, kamu masih sering mengunjungi mahkluk bawah tanah itu?” teriak Lucas.
“Hu’um,” dehem saja.
“Aku tidak suka ya kamu bergaul dengan mahkluk kotor seperti itu, kamu tinggal dirumahku yang mewah dan bersih ini. Aku tidak rela jika kau membawa bibit kuman dan penyakit dari sana.”
“Lalu jika kau melarangku lantas aku akan menurutmu? Besok aku akan pindah dari rumahmu.” Ucap Derris datar.
Lucas ketakutan setengah mati mendengar ucapan Derris yang akan meninggalkan dirinya seorang diri.
“Derr, tinggal disini ya. Aku enggak mau pisah sama kamu lebih lama.”
Tubuh Derris yang sudah terbungkus selimut digelayuti Lucas. Ada rasa risih ketika sesama lelaki saling bersentuhan. Walaupun ada kain pembatasnya.
“Hiiissss minggir! “
Kaki dan tangan Derris direntangkan agar tubuh Lucas menjauhinya.
“Jangan gila ya kamu Cas, aku ini pria normal. Sikapmu ini sungguh keterlaluan!”
Lucas memohon dan meminta kepada Derris agar mengurungkan niatnya pergi dari rumahnya. Sudah kepalang emosi dan badannya yang letih seharian. Derris malam itu juga mengemasi barangnya lalu pergi dengan mobil kesayangannya.
“Bosnya, itu kok mirip mobil Masnya ya?” ujar Calistha.
Saat kembali beraksi seharian dijalanan Calistha bersama Gustavo pulang bersama. Tak seperti biasanya mobil itu ditunggui pemiliknya didalam. Mesinya masih menyala dan Derris tampak gusar.
__ADS_1
Tokk... Tokk... Mengetuk kaca jendela dan berkata “ Masnya, enggak turun saja?” lamuna Derris ambyar.
“Oh,” melepaskan sabuk pengaman.
Pintu mobil terbuka dan Derris keluar untuk menyapa kedua penghuni Apartemen bawah tanah. Tampak canggung dan salah tingkah Derris saat ini.
“Aku hanya iseng kemari, kalian dari mana?”
“Kami dari bekerja harian lepas Masnya,” sahut Calistha.
“Masnya nyari Mbaknya?” tanya Gustavo.
Tetapi Derris menggelengkan kepalanya yang artinya tidak. Akhirnya Derris yang setengah mengantuk mengajak mereka sebagai teman ngopi. Bukannya di Kafe mewah, melainkan di Taman Kota.
“Masnya ayo duduk lesehan.” Ajak Gustavo.
Selama ini Derris yang tidak tahu tata cara duduk dan ngopi harus diajari. “Bersila begini mas, ngesot gini, rebahan gini dan lesehan gini.” Calistha sambil memperagakan jenis dan gaya duduk ngopi kelas pinggiran.
“Oh...” Antara takjub dan takut bajunya kotor.
Karena Calistha tahu Derris anaknya super bersihkan, dia berinisiatif menggelar tisu untuk alas Derris. Kopi yang diseduh di emperan pun tak Derris sentuh. Takut perutnya mulas, dan akhirnya Derris minum soda kalengan. Cerita kehidupan dari Calistha dan Gustavo silih berganti ia dengarkan. Hingga akhirnya hujan turun membubarkan konfrensi ngopi malam.
“Kopi 2 gelas, air soda 1 kaleng dan 1 rol tisu ya, jadi semua 100 Ribu.” Ucap si Penjual kopi.
“Hoey Paknya, kenapa ada totalan tisunya. Kan tisu sudah termasuk dalam paket penjualan kan. Paknya ini kalau ngasih harga suka ditambah ada mbah in anggarannya. Kayak yang di duduk dikurai onoh sambil tiduran!” protes Calistha.
“Ya Lis, namanya juga penglaris. Tisu biasanya buat ngelap mulut. Cuma selembar cukup, lah ini buat tiker Masnya. Tekor dong Lis kalau tidak ikut ditotal.” Dalih si Penjual kopi.
__ADS_1
“Yawdah Paknya, ini sayang bayar 50 rb, anggap saja yang 50rbnya lagi utang kasbon Calistha ya. “ gustavo membayar memakai uang dari dalam topinya.
Topi Gustavo memiliki beberapa fungsi yang macam-macam. Mulai dari tempat menyimpan uang, ponsel, buku notes dan pulpen ketika sekolah dadakan.
“Hehehe kau ini seperti Doraemon memiliki kantong ajaib.” Puji Derris.
Bagi Gustavo yang lahir dikalangan menengah tiarap. Kesulitan ekonomi adalah teman karibnya. Jadinya dia harus lebih pintar mengolah otaknya. Bagaimana agar semuanya prakti dan ekonomis.
“Masnya yakin enggak mampir temuin Mbaknya. Kayaknya juga Masnya kan sudah lama tak berkunjung kemari? “ tanya Gustavo.
“Tidak, sampaikan salamku pada Sri Ayu kalau besok aku akan kembali ke Eropa lagi. Hujan sudah mulai deras, cepat kalian masuk ke dunia kalian. Terimakasih sudah mentraktirku tadi, lain kali aku gantian yang traktir kalian.”
Berpayungkan plastik bekas banner baliho. Gustavo dan Calistha kembali ke Apartemen bawah tanah kebanggaan mereka. Setelah itu Derris menghubungi seseorang lewat ponselnya. Dan mobilnya melaju ke Perumahan elit. Ketika sampai pada kediaman tersebut, nampak seorang gadis yang membawa payung menghampirinya.
“Kenapa datangnya larut malam, kan besok bisa aku antar sampai ke Bandara.” Derris merangkul gadis yang memayunginya sambil tersenyum simpul.
Keduanya masuk kerumah mewah bergaya Jawa kuno. Rumah joglo nan asri ini sangat hangat karena ada unsur kayunya. Didalam rumah ini, Derris di jamu wedang ronde dan singkong goreng keju. Makanan tradisional yang asing dilidahnya.
“Itu masih bisa dimakan Derr, aku mulai adaptasi makanan ini. Agar tidak kaget sebelum kesana. Hehehe.”
Sambil menikmati senyuman manis gadis yang menyajikan kudapan itu. Derris mulai merasakan hangat pada tubuhnya yang dingin. Hujan sangat deras dan petirnya menyambar bersahutan. Sembari melihat air hujan yang terjun bebas dari genteng. Derris berdiri di depan jendela, dengan kedua tangan masuk kedalam saku. Dari belakang datanglah gadis itu membawa selimut tebal. Tubuhnya dibalut dengan selimut lembut nan Wangi bunga lavender.
“Terimakasih,” ucap Derris.
“Biarkan aku memelukmu 5 menit seperti ini.” Tangan gadis cantik itu melingkar di badan Derris.
Kepalanya menempel dipunggung Derris dengan manjanya. Gadis itu seperti mengobati rasa rindu dan ingin memiliki Derris. Di sisi lain Sri Ayu sedang khawatir dan was-was karena debut air sungai sudah mulai meninggi. Dia menghimbau agar warga Apartemen bawah tanah segera mengemasi barang-barang berharganya. Di takutkan terjadi banjir yang akan menerjang hunian mereka. Hingga pada akhirnya, banjir itu terjadi dan merusak tatanan dunia semi permanen tersebut.
__ADS_1