MAS DERRIS

MAS DERRIS
AKU YANG BARU


__ADS_3

“Wiw... Selamat ya Derr, kamu dapat promosi dari Perusahaan Game.”


“Wah kayaknya tebel tuh isi amplopnya?”


“Buka dikitlaaahhh...”


“Udah, kalian juga dapet amplop masing-masing bukan, aku mau masuk kamar.” Niatnya sudah bulat untuk rebahan.


*


*


*


Memang dasar si Derris, niat awal rebahan di kamar sambil tiduran. Eh tahunya lepas baju lalu pakai kolor. Byurrrr... Doi berenang gaya dada, bayangin ajalah potongan roti sobek ngambang. Mana isi celana boxer nyemplak pula. Suatu dosa mata yang tidak boleh dilewatkan, eh salah harus tutup mata ya hahaha.


“Bos, saya mau memberikan penawaran.” Derris disapa dari pinggir kolam renang.


Si Bos Perusahaan Game itu sudah duduk manis dengan bermain game virtual. Karena emang dasarnya udah hobi main, ya keterusan bikin perusahaan Game terkemuka. Setelah acara salaman, tukar menukar identitas dan makan-makan. Mereka mengungkapkan maksut dan tujuan masing-masing. Ada beberap hal yang Derris ajukan sebagai syarat setelah usai menjalani masa tugasnya. Sebagai Bos besar hal itu kecil.

__ADS_1


“Aku tidak butuh mobil seharga milyaran dan rumah mewah. Berikan aku uang saja.” Derris mengembalikan kunci dan amplop besar sebuah kepemilikan rumah.


“Hemmmbb... Apakah hadiah yang aku berikan tidak menarik?” merasa tersinggung dengan sikap Derris yang jual mahal.


“Aku sebenarnya bergabung dengan tim dari China. Tapi asalku dari Negara Indonesia.” Ungkap Derris.


“Uhukkkk...uhukkk apa?” Bos Game tersedak mendengar nama Indonesia.


“AKU BERASAL DARI INDONESIA!!!” gertak Derris.


“Negara apa itu?”


“BALI,” kata kunci yang Derris gunakan.


“Owh Bali, ibukotanya Indonesia ya. Oke-oke, kalau itu aku tahu. Aku sering berjemur disana, Negaranya kecil juga ya hehehe.”


Si Bos itu mulai berceloteh tentang Indonesia. Alis Derris naik satu, menandakan dia mulai jengah. Diaaakkkk!!! Kaki panjang yang berbulu itu menendang bawah meja. Semua benda yang berada diatasnya lantas meloncat gaya kutu.


“Ups...” Bos itu berhenti bicara dan mengelus dadanya. Jantungnya kaget dengan ulah kaki Derris.

__ADS_1


“Indonsia itu luas Bos-ku, kau hanya mendatangi satu Pulaunya kecil. Jika kau punya Atlas, kusarankan buka dan hafalkan nama Propinsi dan Ibukotanya.” Dengan mel engga ko lenggok Derris menjauhkan bokongnya dari kursi.


Dirinya berjalan sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Nah adegan seksi gini cih yang bikin hidung cewek-cewek muncrat mimisan.


I...from sexy in my life...from sexy in the world...begitulah lagu latar yang mengiringi jalan Derris.


Lantas bajimane dengan tawaran si Bos Game itu? Santai aja kali, namanya berlian tak akan pernah ditukar dengan batu kerikil. Tawaran itu tetap berlaku, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang diberikan oleh Derris. Sepulang turnamen dari London, Derris langsung singgah ke Negara si Bos tadi. Adalah Negaranya, pokoknya author gak mau spoiler. Berbagai kegiatan Derris lakukan, mulai dari mencoba beberapa game keluaran Perusahaan Game terkemuka itu. Dan melakukan beberapa pemotretan iklan dan beberapa souvenir, yang di produkai oleh Perusahaan tersebut. Tak dirasa dan dinyana, waktu yang berbulan-bulan terasa singkat. Dirinya menjadi semakin terkenal diantara pengguna game on line. Selain sebagai penguji dan komentator, Perusahaan juga mendapuk Derris sebagai bagian pencetus ide-ide. Untuk dikembangkan lagi agar lebih variatif dan menarik pasar global.


*


*


*


THAILAND,


Lucas yang awalnya berlibur saja kini sudah terkontaminasi dengan pergaulannya. Satu bulan dia bicara kemayu, lalu setelah fasih bicara ganti memakai baju-baju kemayu. Dan yang terakhir, dia memakai penyumpal dada palsu. Dan sepertinya dia tahu cara menjadi wanita rakitan. Wajah cantiknya sudah terpoles oleh make up yang sempurna, rambutnya memakai wig bergelombang dengan warna coklat alami. Serta gaun panjang dengan belahan kaki yang tinggi. Cuma saja, Lucas lupa cukur bulu kaki hihihi.


“Sawadikap, LUCIANA LUNA.” Sapa seorang pelayan di sebuah bar tergenders terkemuka di Bangkok.

__ADS_1


__ADS_2