
...HALLO READERS TERCINTAKU, MAAF YA UNTUK BAB 73 ITU NASKAH NOVEL "TANGKAP AKU, BOS" YANG SALAH UP DATE. DAN INI...
Perjalanan yang semula memakan waktu berhari-hari kini hanya berlaku dalam hitungan jam saja. Karena jalan beraspal yang melancarkan mobilisasi ke daerah-daerah terpencil.
“Yok yok yok pada turun yok!” Prapto membuka bak truk.
“Loh mas Prapto yakin nih kita sudah sampai di Sukamager?”
Setengah sadar Sri Ayu terbangun sambil mengucek kedua bola matanya yang masih mengantuk.
“Awalnya Mas juga ragu Yu, tapi setelah lewat warungnya mbok Sriyem memang betul jalan ke Kampung sudah dibenahi.”
Dan benar, di depan sudah tampak gapura Desa kebesaran Sri Ayu. Jalan aspal yang masih hitam hangat-hangat ini tergolong masih baru selesai tahap pengerjaannya.
“Lah terus kita kenapa parkir disini Mas, kan rumah Ayu masuk jauh.”
“Ya ini masalahnya Yu, kita mesti parkir di sini. Karena lagi musim panen, jalanannya berubah fungsi jadi tempat penjemuran umum.”
Warga Mamsky Brenda diajak turun dan mulai berjalan berbondong-bondong. Mereka berjalan kurang lebih 5 KM dengan jalan kaki. Dan benar seperti kata Prapto tadi di parkiran depan gapura Desa. Sepanjang jalan di gelar terpal yang khusus untuk menjembur padi, kacang-kacangan, jagung dan terakhir adalah baju. Alasan warga menjemur baju di aspal tak lain karena lebih cepat kering daripada di tali jemuran.
“Mbaknya yakin ini Desa kelahirannya?”
“Iya Bosnya, tapi kok mereka santun begitu ya. Biasanya kalau ketemu sayang pada teriak-teriak.”
“Emb... Ada yang berubah tapi bukan Ultraman. Ada yang memperhatikan, tapi tidak menyadari.” Gustavo berguman seraya melihat Sri Ayu dari atas kebawah.
“Bosnya sedang apa?”
“Mbak Ayah seperti namanya sekarang.” Wajah Sri Ayu merona merah.
__ADS_1
Dan akhirnya rumah panggung yang menjadi kediamannya sudah tampak. Begitu ramai kondisi rumah orang tuanya kini seolah ada hajatan penting.
“Itu rumahku, ayo bergegas lebih cepat.”
Langkah rombongan pengungsi dari Kota Jakarta ini dipercepat. Karena Gustavo sudah kelelahan, maka dia di dudukan di gerobak dorong oleh Calistha.
“Bapak-Ibu... Ayu pulang.” Teriaknya kegirangan.
“Ssssttttt ada bayi yang lagi bobo.” Ucap Sri Dewi yang duduk di ruang tamu.
Ada begitu banyak warga yang berkumpul di rumah Pak Muji. Mereka hendak melakukan kenduri untuk merayakan hari kelahiran cucunya.
“Mbak Dewi sudah lahiran? Wah imut sekali.”
“Mbak ini siapa ya?” belum menyadari jika dia adalah adiknya yang kumuh dulu.
“Bu... Ibu kemari cepat, aku lagi bermimpi nih tolong bangunin aku.” Teriak Sri Dewi.
“Apa Wi?” melihat sosok Sri Ayu keheranan.
“Ibu,” menyosor pipi ibunya.
“Idih Mbaknya siapa ya? Kok main nyosor-nyosor saja. Ketemu lagi sekali sok akrab hi.” Mengelap pipinya yang dicium Sri Ayu.
“Ini Ayu masak Ibu tidak mengenali anak sendiri.”
Keduanya memeriksa tanda lahir dan KTP gadis cantik yang mengaku sebagai anak bungsu.
“Hahahahaha enggak mungkin, enggak mungkin kamu ini Ayu. Ini bisa saja kamu penipu yang nyopet dompet anak saya, wajah kalian saja beda kok. Mbaknya, saya kasih tahu ya. Kalau anak saya Sri Ayu itu jelek. Gendut, kakinya pecah-pecah, kulitnya hitam, rambunya kribo dan wanita maskulin. Beda jauh sama Mbaknya ini yang cantik seperti model TV.” Ucap Ibunya.
__ADS_1
Hati Sri Ayu semakin pedih ketika dia mendengar celaan dari ibu kandungnya sendiri. Seolah memutar kembali ingatan buruk waktu kecilnya dulu.
*
*
*
---PUTAR ULANG WAKTU SRI AYU KECIL.
“Bokong wajan... Bokong wajan... Bokong wajan... Bokong wajan.”
Suara anak-anak kecil menyoraki Sri Ayu kecil ketika bermain.
“Mbak Dewi, Ayu boleh ikut main?”
“Tidak boleh, mbak malu punya adek kayak roda ban. Sudah, bulat, hitam dan pendek pula. Malu aku malu, sana sana pergi angon kerbau ke sawah.”
“Hiks... Hiks... Mbak... Ikut main ya.” Rengek Sri Ayu kecil.
“Sini kamu!” gertak Sri Dewi.
Sri Dewi menyeret Sri Ayu kecil masuk ke kandang ayam yang gelap dan kotor. Dari luar Sri Dewi mengunci Sri Ayu sendirian. Pintu kandang digedor-gedor tapi tak ada yang mau bersimpati.
“Lo mbak, Ayu kenapa?” tanya Sri Ajeng yang kebetulan datang memberi makan ayam di pekarangan.
“Biasa, si bokong wajan mau ikut bermain. Daripada mbak dapat ejekan karena punya adek jelek, mendin Mbak bawa kamu saja kan.”
Sakit betul memang mendengar hinaan fisik dari saudara sendiri. Jika orang laing yang mengejek, Sri Ayu masih tahan. Tapi ini saudara kandung begitu tega mencemoohnya. Dari dalam kandang ayam itu, Ayu kecil mulai akrab bermain binatang yang terkunci bersamanya.
__ADS_1