
“Nah sudah cakep hehehe,” Sri Ajeng mendandani kakaknya.
“Sudah siap belum pengantin wanitanya, pak penghulu sudah datang lho.” Bu Muji muncul dari balik pintu.
“Bungkus bu heheheh,” pekerjaan merias sudah selesai.
Saatnya menggiring calon pengantin bersanding di depan penghulu. Prapto muncul dengan memakai baju gamis ala Timus Tenggara Selatan Barat Daya.
“Wan... Gawat wan... Wan Abu gawat...” si supir ketakutan seolah dikejar setan.
“Ava maksut enthe ganggu acara pernikahan Anna?” melototi supirnya yang lari terbirit-birit.
“Itu Wan.... Umi... Umi dataaang kemariiiii.” Istri sah Prapto menyusul datang ke kampung.
“Ava? Enthe gak salah lihat kalau bini Anna datang kemari?” Prapto terkejut istrinya memburunya sampai kepelosok daerah.
“Kamu ini jangan macem-macem mau pergi ya, urusannya bisa sampai polisi lo!” pak Muji menarik kerah gamis Prapto.
__ADS_1
“Baik... Anna akan segera menikahi anak bapak secepatnya, pak penghulu segera bacakan ijab qobulnya!” Prapto menyuruh cepat sampai intinya.
“Ssseeeelllloooowww aaaaajaaaaaa masssss-nnyyaaaa, kkkaaaaaallllauuu sudahhhh sahhhh suaamiii istriiiii mauuuu ngapaiin yaaa ter serser aaaahhhh.” Penghulunya benar-benar slow motion bicaranya.
Geram dengan ke-slow-an penghulu akhirnya pak Muji berinisiatif menikahkan langsung.
“SAH” semua serentak mengucapkan tanda sudah resminya hubungan suami istri secara agama.
“A B U L A T U P!!!!!!” Teriakan gahar istri pertama Prapto.
Wanita berbadan besar, mamakai cadar hitam masuk keruangan bekas acara sakral.
“Berani-beraninya enthe kabur dari rumah Anna?” menarik lengan Prapto hingga tubuhnya setengah berdiri.
“Ammmm... Ampun Umi, Abi hanya mengikuti Sunnah Rasul. Un-untuk menikahi gadis yang butuh per-pertolongan.” Kakinya bergemetarr dan bibirnya kalut.
“Umi tidak perduli, pokoknya Abi harus kembali ke rumah!”
__ADS_1
Tidak ada yang berani mengganggu prosesi menciduk Prapto dirumah Pak Muji. Istrinya membawa algojo yang gede dan ngeri perawakannya. Sehingga Prapto lebih memilih untuk pasrah dibawa ke kota bersama istrinya. Pergilah rombongan istri Prapto pergi dari kampung Sukamager tercinta ini.
“Wan... Wan Abu tunggu... Saya ketinggalan...” Supir Prapto ketinggalan beserta mobilnya.
“Hahahahaha majikannya pergi, ninggalin supirnya.”
“Yah baru aja nikah udah dibawa kabur tuh lakinya, gak bisa empit-empit cruut dong ntar malah hahahaha.”
“Kasihan ya anaknya pak Muji, sekalinya nikah eh bukan sama perjaka. Tapi suami orang hahahahaha.”
Para warga yang handir ikut mencibir kejadian memalukan tadi. Alhasil Sri Dewi masuk ke kamar, lalu diikuti oleh ibunya. Di dalam kamar, Sri Dewi menangis sejadi-jadinya. Bukan karena ditinggal pergi suaminya, tapi malu di cap sebagai perebut suami orang.
“Hoaaammm,” Sri Ayu yang awalnya tidur nyenyak kini harus terbangun lagi. Suara berisik dari kamar sebelahnya tidur itu mengganggu ketentraman mimpinya.
Dengan berbungkus selimut ditubuhnya dia pergi mandi di kali, tempat biasa ia memandikan kebo-kebonya. Byuuurrrrrr kricik-kricik.... Suara aliran sungai yang terpecah oleh hantaman tubuh Sri Ayu yang terjun bebas....
“Ahhhhhh...” kepala Sri Ayu muncul ke permukaan air sungai yang jernih.
__ADS_1
Diperhatikan suasana alam sekitar masih sepi, setenang biasanya. Dia berenang kesegala arah tanpa ada gangguan. Hanya suara alam yang menyatu dengan keharmonisan satwa liar.
Berbeda dengan kondisi genting dalam rumahnya. Pak Muji membubarkan barisan tamu yang bergosip bagi wanita. Dan barisan tukang habisin prasmanan bapak-bapak dan anak-anak. Kondisi rumah yang tidak kondusif inilah yang membuat Sri Ayu memilih kabur. Daripada dirumah yang berisik dan penuh intrik.