MAS DERRIS

MAS DERRIS
TIKUS PUN SUNGKEM


__ADS_3

“Mas...” Derris menoleh wajah pak Muji.


“Udah, gak apa-apa Pak. Cuma sebulan aja kok.” Tersenyum simpul.


“Tapi Mas Derris mau agenda kemana, setelah balik dari Inggris?”


Jangankan rumah, kendaraan saja Derris sudah tak punya. Hanya bermodalkan bunga Deposito bulanan saja dia bertahan hidup. Jika hidup di Kampung, jiwanya sulit untuk mengembangkan hobinya. Tapi kalau maksa tinggal di Kota besar, siapa yang mau mengurusnya? Sedangkan ayahnya masih Di New York, tak kunjung kembali. Ibunya yang sibuk Tour album barunya, juga promo ke berbagai Negara.


“Yang harus bapak khawatirkan itu Putri bapak. Besok dia akan tes CPNS kan,” Pak Muji baru ngeh soal cita-cita Ari Ayu.


“Tapi Mas Derris sejak kecil udah bapak rawat, seperti kedelai hitam (Malika).”

__ADS_1


Usaha Pak Muji untuk meyakinkan Derris, berujung sia-sia. Karena Derris sepertinya belum memberikan jawaban. Niat hati pak Muji itu, masih ngajak Derris tinggal di Kampungnya sampai orang tuanya kembali ke Indonesia. Namun, ketika hidup di Kampung. Banyak adaptasi yang membuat hidup Derris kesulitan.


“Derr, aku besok mau pergi liburan ke Bangkok. Apa bisa bujuk Pak Muji untuk tinggal disini?” Lucas nongol tiba-tiba.


“Yah tanya saja sama doi langsung.” Mengernyitkan dahinya.


“Kayaknya bisa mas, kan anak saya mau ikut tes seleksi ujian CPNS di sini. Tapi masalahnya ngrepotin gak?”


Oh iya lupa, kalau si Sri Ayu itu penampilannya emak laki banget. Beruntunglah memiliki dada rata, jadi bisa leluasa lah tinggal di rumah Lucas.


“Yawdah Pak, aku mau lanjutin senam pilatesku.”

__ADS_1


Keteguhan hati dan niatnya menjadi PNS sangat kuat. Setiap hari jika ada kesempatan digunakan untuk belajar.


“Nduk, kamu di sini itu nyamar jadi laki ya. Soalnya yang punya rumah itu penjajal wanita, kamu gak mau kan kayak mbak mu jadi hamil itu.” Menasehati anaknya yang masih segel ketuban.


Beruntunglah Sri Ayu mengerti dan mau menuruti nasehat ayahnya. Sekarang Pak Muji bisa bernafas lega, anaknya mau diajak kompromi.


Keesokan harinya Derris dan Lucas berangkat bareng ke Bandara. Tinggal Pak Muji dan Sri Ayu dirumah. Kebiasaan mager Pak Muji yang udah mendarah daging, bahkan masuk ke sum-sum tulang. Masih santai berleha-leha di gazebo belakang rumah yang rindang. Sedangkan Sri Ayu yang tak terbiasa suara bising perkotaan. Memilih belajar di lonteng rumah Lucas. Selain sunyi dan tenang, lonteng itu sudah menjadi gudang penyimpanan barang-barang.


Ciiiiiitttt.... Suara tikus mendadak muter balik. Seperti ketakutan melihat sosok hitam dan besar berada di kawasannya.


“Ckckckckck,” Sri Ayu bergeming dengan ekspresi tikus yang kabur melihat sosoknya.

__ADS_1


Nah sudah tahu kan betapa ngerinya tu tikus lihat sosok Sri Ayu di lonteng. Sejak kejadian itu, Sri Ayu dibantu ayahnya membersihkan lonteng itu. Untuk lebih layak ditempati manusia. Dan menaruh kasur matras, untuk rebahan ketika lelah berpikir. Karena semua kamar di rumah Lucas memakai pendingin udara. Terkadang Sri Ayu kedinginan dan masuk angin. Terakhir dia tidur di pos satpam, sambil gelar tikar. Hubungan Sri Ayu dengan kehidupan Kota sepertinya kurang begitu harmonis. Terakhir dia membuka pintu kulkas sampai patah gagangnya. Dan telapak tangannya terbakar, saar tanpa sengaja membantu ayahnya masak. Ya wajarlah, di Kampung masaknya pakai tungku kayu bakar. Paling elit kompor minyak tanah. Itupun harus dengan ijin ibunya saat mendesak. Biasanya digunakan saat musim hujan, saat sulit memperoleh kayu bakar. Dengan syarat hanya goreng telur sebagai lauk. Selebihnya akan memasak nasi jagung dalam partai banyak, agak sekali masak untuk sehari. Very amazing bukan?


__ADS_2