MAS DERRIS

MAS DERRIS
JUPRI, AKU PADAMU


__ADS_3

Sepasang merpati tua sedang menimang cucu mereka di teras rumah. Menyambut tamu undangan acara kenduri cucu pertama mereka.


“Pak, sepertinya kita kedatangan tamu dari Jepang.”


“Jup-Jupri!”


Benar saja, yang datang ialah Jupri. Pak Muji berloncat girang dan memeluk bocah kesayangannya.


“Jup_Jup... Bapak pikir kamu tidak akan pernah kembali lagi ke Indonesia. Bagaimana keadaan orangtuamu?”


“Mereka baik dan sehat Pak, ini ada oleh-oleh dari Jepang.” Menyodorkan bingkisan yang terbalut kain.


Di teras rumah inilah Jupri ikut duduk bersantai sambil belajar mondong bayi. Hitung-hitung belajar gratis, kalau dia menikah nanti tidak kagok.


“Wah, sayang sekali Jup. Ayu baru saja balik ke Jakarta, diantar sama temannya.”


“Siapa?”


Wajah Jupri tadinya antusias kini mulai lesu, dia tadi sempat sepintas melihat wajah Sri Ayu. Mungkin Jupri hanya rindu jadi sedikit berhalusinasi.


“Diantar ke Kota naik Vespa si Agus, pegawai Kecamatan yang temannya di Kantor Pusar.” Jelas Sri Ajeng.


Deg, ternyata Jupri kalah telak dengan sosok Agus tadi. Jupri sedikit mengalami hambatan ketika kembali dari Jepang. Karena orangtuanya berpesan jika Perusahaan sedang berkembang dan butuh pegawai. Rencananya Jupri akan dijodohkan dengan anak pengusaha rekanan keluarga. Namun, besar cintanya kepada Sri Ay membuatnya kabur sebelum hari peresmian.


“Lalu kapan Mbak Ayu balik kesini lagi?”


“Entahlah, dia kan ditugaskan di Pusat.”

__ADS_1


“Susul saja, Jup. Toh kamu disini juga sudah tidak punya kandang kok.” Sahut Bu Muji.


“Maksutnya?”


“Begini Jup, waktu Prapto dan Ayu balik dari Jakarta. Mereka membawa korban banjir yang terdampak. Karena tidak punya data lengkap, jadi mereka diusir dari pengungsian. Nah daripada tak ada tempat menampung, jadi Prapto dan Ayu mengajak mereka main ke Kampung sini.” Tutur Pak Muji.


“Iya, karena keasikan jadinya mereka tinggal di Kandang yang disulap rumah panggung. Dan mereka disuruh mengelola kebun dan ladang.” Potong Bu Muji kesal.


Naluri ibu rumah tangga memang tiada duanya. Niat anaknya mau mengangkat derajat warga bawah kolong jembatan. Namun, pihak keluarga merasa mereka adalah parasit. Yang harus kembali ke asalanya. Jupri yang dulunya sempat ditolak keberadaannya pun ikut berempati. Dia meminta ijin usai acara kenduri, lalu singgah dirumah panggung yang disebut tadi.


*


*


*


“Maaf Bu, apakah benar ini rumah dulunya bekas kandang ayam milik mbak Ayu?”


“Masnya, siapanya ya?”


“Saya Jefri, nama kampungnya Jupri. Dulu saya bekerja sama mbak Ayu di kandang ayam.”


Heran dan mencoba meneliti apakah pria muda ini anak baik atau jahat. Karena risih dan ditatap Brenda dari segala penjuru mata angin. Jupri berlari pergi ke pohon nangka, dia naik tangga dan masuk kedalam rumah pohonnya. Diambilnya kotak Pandora yang masih tergembok. Klik, kotak telah terbuka dan ditemukan beberapa foto jaman dahulu.


“Ini saya dan mbak Ayu, kami akrab sejak duduk di bangku terakhir sekolah lanjutan akhir.”


Kemunculan foto-foto lawas mereka menjadi bahan tertawaan dan guyonan penghuni rumah panggung ini.

__ADS_1


“Aku pikir ya, dunia ini orang mati-matian memperbaiki diri. Eh ini Masnya malah memperburik diri sendiri hahahaha.” Kekeh Brenda.


“Masnya kenapa milih kemunduran jaman. Sedangkan di Jepang semuanya pakai robot?”


“Karena di Jepang serba mahal, dan udara yang segar dan masih alami hanya ada disini. Penduduknya juga sangat ramah dan baik. Walaupun terkadang jiwa nyinyir dan bergosip masih mendarah daging hehehe.” Menjawab pertanyaan Gustavo.


Mereka akhirnya menikmati foto kenangan Jupri dan Sri Ayu waktu jaman ingusan. Kini Jupri bisa menilai dengan kacamatanya sendiri, bahwa warga yang dibawa dari Kota ini adalah orang baik. Hanya saja kurang mendapat perhatian saja.


“Masnya, tidak balik kerumah Pak Muji?”


“Tidak, disana ada bayi yang suara tangisannya seperti konser musik Rok. Aku butuh kedamaian dan ketenangan, oiya apakah kalian melihat radio kompo?”


Benda keramat Jupri yang menemaninya ketika tinggal di Kandang.


“Sedang diperbaiki oleh Calistha Mas, katanya banyak kabel yang coplok.”


“Hohoho iya, pada londet semua karena sering aku goncangin kalau hilang frekuensinya.”


Jupri melihat makanan pokok mereka yang tinggal di rumah panggung ini berasal dari ladang semua. Dirinya memang tidak masalahkan hal itu, asal perutnya kenyang sudah beres.


“Kalian kan tinggal di Kota kenapa doyan makanan singkong bakar dicocol pakai sambal?”


“Walapun kami tinggalnya di Kota, tapi perut kami setelan orang kampung Mas. Di tepi sungai Mamsky menanam umbi-umbian dan sayur untuk makan sehari-hari. Karena kalau makan nasi, otomatis biaya konsumsi kami menggendut hehehe.” Jawab Gustavo polos.


“Aku terharu dengan kalian, ijinkan aku beberap hari tinggal di sini. Untuk membetulkan hunian baru kalian.”


Mereka yang mendengar niat baik Jupri sangat terharu. Selama ini keluarga Pak Muji mengucilkan keberadaan mereka yang numpang hidup. Jupri menjelaskan besok akan dibuatkan saluran sanitasi dan ventilasi. Lalu hari berikutnya memberikan sekat untuk setiap kepala keluarga. Dan mulai membuat bibit dapur untuk stok pangan mereka. Memulai kehidupan di Kampung sama sulitnya ketika tinggal di Kota besar. Namun kelayakan hidup dan ketentraman hati tiada tandingannya.

__ADS_1


__ADS_2