
---POS KAMPLING
,
“Malam Jup?” sapa seorang pria dari Surau.
“Malam Mas, sendirian aja?” pertanyaan memancing keributan.
Sambil mengelus dadanya yang terbalut baju koko putih “Jup, kamu tahu gak. Selain senjata yang bisa menusuk tanpa bekas?” Semoga logika Jupri berfungsi, dah itu saja.
“Emmm... Cinta mas!!!”
“Yakin?” Karena mas Vit yang usai ibadah dalam mode Malaikat tak bersayap.
“Iyalah Mas, yakin seyakin-yakinnya. Gak pake ragu sedikitpun, seperti matahari yang tugasnya menyinari bumi. Dan mengeringkan cucian baju di kali!!!” makin yakin aja si Jupri.
“Kalau tebakanmu salah, kucabut bulu kakimu ya!”
“Orkes!”
Sreeeetttt... “Awwwww.... I feel jutttttt...!!!” teriak Jupri mau mati kepayahan.
__ADS_1
“Hal yang membunuh ialah ‘Perkataan’ Jup. Jaga ucapanmu, sebelum dosamu banyak dan menyesal.”
Benar juga perkataan Mas Vit baru saja, perkataan adalah senjata pembunuh yang mematikan daripada alat.
“Mas Vittttt, kalau Typo apakabar? “ Jupri tidak terima dengan kekalahan ronde pertama.
“Itulah Jup, deritaku kalau nulis suka typo. Kadang ngantuk-ngantuk dan sibuk kerja. Ini jari tidak sinkron dengan otak dan mata.” Akhirnya dalam sejarah penulis vitamin a ngaku kelemahannya.
Sekian lama Poskampling ini terbengkalai. Warga memilih mager daripada melakukan kegiatan keamanan lingkungan. Karena dirumah mereka juga jadi tempat singgah saja, jangan berpikir tentang perhiasan dan barang mewah ya. Ini kampung terisoli sekali. Jika ada maling mau beropasi, mau nyuri hewan ternak apa hasil bumi. Ya, sama aja nyari capek sendiri. Sudah repot akses transportasi dan medan yang sulit.
Pak Muji kembali ke Kampung tercintanya, dan mendapati istrinya yang sakit encok. Akibat ditimpahi Jupri dari atas atap kandang. Sekarang tugas Pak Muji angon Kebo di ladang. Yang bisa nyantai sambi leha-leha dibawah pohon Nangka keramat milik Sri Ayu. Kerbau-kerbau hasil ternakan anak bungsunya memang tak segempal dan gemuk saat dipelihara Sri Ayu. Mungkin yang pelihara orangnya ogah-ogahan dan mager.
“Jeng, Bapak minta dengan sangat. Mulai besok kamu berhenti ngider cari pelanggan salonmu!”
“Loh Pak, nanti Ajeng dapat uang saku dari mana. Ajeng suka motong rambut orang, karena itu keinginan Ajeng. Bapak jangan gitulah, aku sudah mengerjakan tugas rumah sejak Fajar. Dan mengirim konsumsi untuk si Jupri di Kandang ayam. Aku tidak setuju, kalau Bapak menyuruhku berhenti dari hobiku!!!” Sri Ajeng merasa pak Muji tidak adil. Padahal di sebutkan pula, salah satu pasal di pancasila keadilan sosial. Tapi ayat itu tidak berlaku untuk pak Muji.
“Hehehehe, kejutan!!!” Pak muji memberikan hadiah kado ulang tahun untuk Ajeng.
Ketika pak Muji hendak kembali ke Kampung, beliau sempat mampir ke sebuah pasar. Dia kasihan melihat perjuangan Sri Ajeng yang berkeliling kampung setiap hari. Hanya untuk menjajakan jasanya potong rambut. Bahkan tak sungkan-sungkan pula. Sri Ajeng juga mau memangkas tanaman agar lebih aestetik. Saking cintanya dalam dunia perpotongan.
Rasa haru itu menerima kado dari ayahnya dilupakan denga tangisan bahagia.
__ADS_1
“Mulai sekarang, kamu buka salon di rumah saja ya Nak. Bapak akan renovasi tempat bakal bangunan salonmu.”
“Hiks hiks iya Pak, makasih.” Pelukan sayang anak kepada orangtuanya. Pak Muji ingin satu per satu anaknya maju. Karena dia tidak mau kecolongan lagi.
“Kamu bisa buka salon dirumah, kapan pun kamu sempat. Kalau warga lagi nunggu Sinetron, barangkali ada yang tertarik untuk pangkas rambut. Ini bapak belikan gunting cukur untuk pria. Jadi lebih rapi dan modern.”
“Hehehe iya pak, bagusss ya. Tapi cara pakainya bagaimana?” Nah ini, akibat anak kurang sentuhan tekhnologi. Pasti gagap fungsional alat. Pak Muji menyadari kepolosan warga Desa yang sering di cemooh kampungan.
“Kita ada Jupri yang bisa jadi bahan uji coba. Hehehehehehe.” Pak Muji tersenyum sinis.
*
*
*
Masih bersama mas Vit di Poskampling tadi. Jupri usai membakar semak belukar yang mengotori bangunan terbengkalai itu. Dia mulai rehat sejenak duduk di batu besar.
“Kenapa Jup, kok mandeg? Udah loyo ya?” Tanya mas Vit yang masih menyapu atas Poskampling yabg dipenuhi rumah laba-laba.
“Tetibanya daku tergigit lidahnya bagian belakang. Apakah daku ini ada yang mau bicarain ya. Apakah mungkin, daku akan dicelakai ya Mas. Kok hatiku berdetak kencang, seperti genderang mau perang....”
__ADS_1