
Sembari menunggu Pak Muji, Berlian mengajak Sri Ayu untuk mengakrabkan diri masing-masing.
“Sebelumnya aku ingin menyebut siapa namamu, perkenalkan Namaku Berlian Arnoldi.” Berjabat tangan.
“Aku Sri Ayu, Ayu saja.” Nada yang rendah.
“Waw, namamu Bagus sekali.” Tapi pada kenyataannya Sri Ayu tomboi sekali.
“Hmmmm,” menundukkan saja kepalanya.
Keduanya berbincang-bincang yang banyak di dominasi oleh Berlian. Tak dinyana sikap pendiam Sri Ayu sukar hilangnya. Dia hanya membalas dengan anggukan dan deheman. Beruntungnya Berlian cukup paham kondisi kejiwaan teman barunya.
“Nduk?” Pak Muji antusias bertemu lagi dengan putrinya.
“Ba-bapakkkkk...” mengalungkan rangkulan di leher ayahnya.
Seperti mukjizat yang datang dari Tuhan, mulut putrinya tak lagi terkunci lagi. Keharuan Pak Muji itu tertumpah ruah dalam emosionalnya.
“Pak, sudah.” Pinta Sri Ayu.
“Hiks hiks hiks Bapak terharu Nduk.” Menyeka air matanya dengan lengan kemejanya.
“Maaf, kalau boleh tahu sebenarnya ada apa?” Berlian memotong adegan ayah dan anak.
__ADS_1
Mereka memilih tempat untuk makan bersama. Karena dasarnya perut kampung. Pak Muji tahu di mana tempat yang cocok untuk bersantap bersama.
“Waw lalapan!” Berlian Histeris.
“Maaf nona, itu pesanan untuk Putri bapak. Di Kampung kami sudah terbiasa makan sayuran dan hasil bumi kami. Jadi anak saya belum bisa adaptasi dengan makanan instan.” Jelas Pak Muji.
“Itu keren Pak, aku bosen makan makanan kekinian. Kurang sehat dan oplosan; Pelayan, aku pesan makanan seperti itu juga ya!” Berlian tidak salah apa menjajal makanan baru, atau dia memang ingin menjaga perasaan teman barunya yang bersalah dari Kampung saja ya?
Semua menu yang terhidang diatas meja sangat menarik mata. Selain warnanya yang cantik dan bervariasi. Aromanya sudah menusuk-nusuk hidung.
*
*
*
Sambil rebahan dan mendengarkan siaran Radio, yang tinggal sedikit salurannya. Yang penting kontennya berita dan Dangdut sajalah. Si Jupri yang rebahan di atap kandang ayam petelur itu, menatap langit pagi yang Indah. Berwarna biru muda dan gundukan awan-awan seperti bunga kapas kering.
“Oh Mbak Ayuuu... Kapan kau pulang, aku rindu. Rindu setengah matii, mati mati matinya aku bukan karena gantung diri. Diri diri dirinya aku ini tak ada yang mencintai... Huooo huooooo namun semuaaaa tinggalahh dustaaa... Hati yang lukaaaaa huwoooo huwoooo.” Jurpi merusak lirik serta mencampur adukan genre musik. Seenak lidahnya jeplak.
Grempyang...”Jupraiiii, ngapain kamu di atap kandang! Turun gak kamu, ayo turun!”
Istri Pak Muji marah cek... Doi membawa tutup panci dan wajan. Saling diadu untuk mendapatkan suara gemuruh. Sejenak kedamaian diatap kandang itu terusik, oleh kehadiran Mak Nyungir.
__ADS_1
“Hemmmbb, hai pembaca yang budiman dan budiwati. Kalau manggil anak buah itu gak usah adu panci dan wajan ya. Cukup pancing pakai uang apa makanan. Punya ibu majikan kok gak ada waras-warasnya ckckckkc.” Jupri curhat.
Suiiiiiingggg... Plukkk!!! Sendal bakiyak kayu sudah melayang, tepat mengenai wajah Jupri.
“Wasssssshhhhhh duuuhhh,”
Benar-benar ngajak perang kan dan part 1 nich, ibu majikannya.
“Iyayayaya iniloh mau turun!” Jupri meloncat dari atap.
Yang awal perkiraan dia akan mendarat di tumpukan sak berisi pakan. Dia salah mendarat.
Brukkkkk... Haduuuhhhhh, encok bu Sri Kanthil salah urat.
“Ups, maaf bu.” Jupri lekas berdiri usai menimpahi istri Pak Muji.
“Bener-bener ya kamu Jup, orang tua kamu lindes-lindes. Haduuuuhhh, haduhhhh encokku.” Berjalan membungkuk nyeri kesemutan.
“Aku bantu bu, jalannya.”
Kiiiieeeekkkk krutug, Jupri meneggak tubuh bu Sri tanpa ilmu.
“Adududududu... JUPRIIIIIIII.... Mau ngebunuh saya!!!” merintih kesakitan akibat ulah Jupri.
__ADS_1
Encoknya semakin sakit dan linunya luar biasa. Bu Sri yang tadi sempat bisa berjalan pelan, kini sudah tak bisa bergerak lagi. Betapa kejamnya si Jupri, walaupun tidak sengaja. Jupri ingin rasanya tertawa puas, bisa membalas majikan ibunya. Setiap hari hobinya marah-marah dan suka berkomentar negatif.