
“Hadeeeuhhhhh...” memegangi encoknya.
“Sakit ya bu?” tanya Jupri santai kayak di pantai Losari.
“Kagak Jup, rasanya kayak kontrak lulus view awal. Tapi belum di Acc dan muncul levelnya. Ya sakitlahhh... Sumbu merconnnnn!!!” Bu Lampir Muji nyemprot Jupri.
Radio kotak Hitam jaman jadulnya sedikit mengalami lecet-lecet. Hanya antenanya yang bengkong, seperti otak Jupri yang gak ada lurus-lurusnya hahahaha.
“Fiuuhhh... Untung kamu gak rusak.” Memutar saluran untuk mengecek gelombang frekuensi stasiun Radio.
Terdengar suara kresek-kresek seperti isi dompet Author-nim saat ini.
“Haduuhhh.... Jup Jup... Bantuin ibu berdiri napa. Bopong sampe rumah kek!” sambil mencari pegangan yang dapat dijangkau.
“Jiaaaaaaaaaaaa!!!” Jupri teriak sekencang-kencangnya.
Bu Muji gak tahu kalau yang diraba, ditekan dan ditarik adalah tombol masa depan Jupri. Perjaka kampungpolitan ini seorang di sunat lagi.
“Upssa... Maaf Jup, ibu meleng gak lihat kalau ada ranting pohon hihihi.”
__ADS_1
Bu Muji emang cari kesempatan dalam kesepian, apa memang udah saatnya dibuahi lagi. Kok gak ada Pak Muji jadi seenak tangannya asal gaet sekitarnya.
Kedamaian kandang ayam yang tentram terusik oleh teriakan kaum buruh seperti saat Demo kenaikan upah. Pekokokokok...pekokokokokkk... Pekok... Suara ayam itu satu suara menyuarakan pekoknya memeliharanya. Ayam yang otaknya kecil itu aja tahu, kelakuan memeliharanya memang gak ada yang waras. Terkadang Jupri memberi mereka makan mie, roti bantal, pisang kepok dan krupuk udang. Sungguh ayam yang prestisius. Itu dilakukan Jupri agar si ayam-ayam gembira ria. Terkadang Jupri menyetel saluran Radio Siraman Rohani. Yang menceritakan tentang azab-azab hidup. Dengan maksut agar para ayam mengerti, jika mereka tidak menyetorkan telurnya. Jalan lainnya adalah dijual di pasar, atau berakhir jadi opor ayam. Disitulah awal mula ayam-ayam yang malas bertelur jadi rajin setor buah bokong mereka.
*
*
*
LONDON,
Tim sudah melakukan persiapan untuk turnamen. Jari-jari Derris yang mulai kaku karena di Desa Sukamager jarang berlatih.
“Apa?” Derris emang polos, sepolos aku hehehe.
“Yawdah yuk, kita lagi berkumpul kok, klik.” Kawannya menggaet Derris pergi.
Suasana kompetisi sudah dimasuki para pendukung dan pencari berita. Beberapa sponsor besar datang mencari bibit bermutu. Jika sponsor memiliki tim yang menang kompetisi. Mereka tak segan-segan menggelontorkan banyak hadiah dan uang.
__ADS_1
“Gimana Derr, mantap kan?” tanya teman Derris yang mengajarinya senam jari.
“Hemmmbb...” hanya memerhatikan jarinya yang usai bermain senam jari.
“Ah kamu ini, ntar juga terbiasa.” Goda kawannya yang rada-rada mencurigakan.
Sepanjang turnamen, tim begitu rusuh karena Derris terlalu dominan. Sampai-sampai kawannya tadi mengumpat.
“Hehehehe ajaranmu emang, hemmm.” Mengacungkan jempol keatas, namun diputar balik kebawah.
“Sombong!!!” Kawannya merasa sia-sia mengajak Derris tadi.
Seorang sponsor game terkenal melihat kepasitas Derris yang gesit. Dia melirik Derris dan akan mengontraknya sebagai brand ambassador produk game-nya.
“Aku mau dia!!!” pengawal bos game terbesar itu bertitah kepada pengawalnya.
Suara gemuruh stadion game e-sport muali riuh dan konveti bertebaran. Suara kemenangan dan dukungan menggema. Para cewek-cewek bule yang memang antusiasnya lebih ekspresis melemparkan dalamannya ke arah pemain idolan.
“Puihhh,” kawan yang mengajak Derris itu, auto dapat karma.
__ADS_1
“Hehehe, makanya kalau ngajak hal buruk dapatinnya barang burikkan!!!”
Derris menjelaskan, bahwa tak perlu sesumbar untuk mendapat pengakuan. Semua hal bisa diraih karena ada kesigapan dan keyakinan bisa. Tim Derris mewakili Negara China, oleh karena itu gaji yang diterima bentuk Dollar. Dan kalau di tukarkan dalam kurs Rupiah, auto bissmillah ngajak nikah.