
***APARTEMEN GUSTAVO,
Warga Apartemen yang baris-berbaris rapi mengantri mandi kocar-kacir menyelamatkan diri. Pasalnya Suryono datang pasti minta jatah dan mengompas warga pra sejahtera disini. Karena panik setengah mati kena kompas Suryoni. Calistha yang baru sabunan, terpaksa lari pakai handuk dan ngumpet. Seorang kakek-kakek renta tiba-tiba lari kencang, biasanya mangkal di Taman kota ngemis. Giliran Suyono datang, larinya seperti peserta Marathon.
“Emakkkk....Huaaaaa... Huaaaa...emakkkk,”teriak anak kecil yang ditinggal kabur ibunya saat kabur.
Calistha yang masih handukan terpaksa menyambar tubuh bocah kecil yang menangis dan ingusnya sudah meler.
“Cup... Cups.. Cups... Tong, sini ikut tante Calistha. Duh mana ingusnya nempel pula di dada aku. Hiiiii ciuuuuhhh jijayyyy (jijik).” Sambil berlari menuju semak-semak ilalang ngumpet.
Di semak-semak inilah biasanya menjadi tempat mangkal sekaligus ketemua orang yang sedang memadu kasih. Hanya ada kardus bekas sebagai alas badan. Sementara warga Apartemen Mamsky Brenda kalang kabut pergi ngumpet. Mamsky yang tinggal sendiri itu seperti lelucon warganya.
“Loh kok pada hilang semua, tadi kan pada antri bejibun seperti minta jatah bantuan raskin. Kemana pula wargaku ini pada minggatnya sih.” Brenda clingak-clinguk berharap ada orang yang bisa dimintai klarifikasi.
“Aduh.. kepala Cuma satu kok sakit ya.” Suryono bangkit dan memegangi jidatnya.
Brenda mendekati tempat Suryono pingsan baru saja. “Sur, sehat?” tanya sepintas Brenda sembari berjongkok.
“Hatinya sehat Mams, tapi kalau kepalanya agak konsleting nih. Aduh, puyeng rasanya.” Jawab Suryono dengan merintih.
“Ya ampun, sendal bakiyakku ini ckckckck kasihan sekali kau sendal. Sudah diinjek ditanah setiap hari, eh sekalinya dilempat kok mendarat di kepala Suryono. Untung sendal ini tidak lecet, hemmmm ckckck.” Sambil meneliti permukaan sendal Bakiyaknya.
“Haduuh Mamsky, kalau lempar itu jangan benda keras dong. Yang lunak gitu, biar gak benjol jidat jenong sayang.” Suryono komplen.
__ADS_1
“Tadi si Calistha berulah, mamsky jadi sebel kan ya. Mana cicilan sendal ini masih 2 tahun pula, hemmmbb mesti dijaga betul sampai lunas. Kamu ngapain pagi-pagi sudah kemari, kan jatahmu malak tarikan malam hari Sur?” Brenda menegur tukang keamanan sekitar.
“itu Mams, ada wacana penertiban warga yang tinggal di pemukiman liar. Jadi Suryo kemari mau beri informasi, bukannya mau cari mati kayak gini!” sambil meninggikan nada suaranya.
“Lah Sur, bagaimana nasib kami dong selanjutnya. Secara kami adalah warga yang dulunya punya tempat tinggal lalu digusur. Masak kami sudah membuat hunian bawah jembatan. Eh sekarang ada wacana pindah, kalau tidak ada relokasi tempat baru. Lantah kami mau tinggal di Apartemen langit gitu. Yang hidup berdampingan dengan Peri-peri kayangan?”
Sepertinya Brenda akan pusing pindah kemana, secara dirinya tidak memiliki uang yang lebih. Untuk menjamin kelangsungan hajat hidup warga kompleksnya saja kadang tekor.
“Ya Sur juga dilematis Mams, secara kita tinggal di jalanan bagian atas tanah maupun dibawah tanah ya salah. Pemerintah itu sudah benar kalau menggusur dan menertibkan kaum marginal macam kita inilah. Kan sudah tugas mereka untuk menjalankan perintah. Toh kita juga salah lo Mams, masak kita udah jadi parasit gak mau disuruh pindah?” Suryono berasumsi bahwa keadaan sulit ini akan terjadi.
“Tapi gini Sur, lantas kalau Apartemen ini digusur. Takutnya kami kehilangan mata pencarian, kampung halaman saja kami tidak punya. Terus kami mau mudik kemana coba?” Brenda mulai pening memikirkan wacana penggusuran.
“Apa yang dikatakan Mamsky itu benar KaSur (Kak Suryono disingkat),” Gustavo ikut nyampur topik bahasan ini.
“Hai Sur, sebaik-baiknya hidup di Penjara. Lebih baik menjadi warga Indonesia yang bebas dan bekerja keras. Kalau jadi Napi, kebutuhanmu menghabiskan jatah Anggaran Negara. Enak banget kamu keluar masuk Penjara.” Komplen Brenda.
“Hehehe... Namanya juga aji mumpung Mams... Mams...” Suryono tersipu malu karena ketahuan rencananya hidup di Penjara.
“Jangan jadi parasit Sur, lebih baik kamu bekerja yang baik. Agar otakmu yang suka mikir jalan pintas salah. Bisa belok kearah yang benar!” tutur Brenda.
Percakapan mereka bertiga di depan Toilet umum itu tidak tersirat wajah tegang. Bahkan Calistha yang berada di semak-semak tidak melihat Brenda menyerahkan sejumlah uang pangkal. Ayah Alexis bocah yang ditinggal pergi kabur ibunya pulang. Setelah semalam suntuk bekerja menjadi tukang parkir. Rencananya dia mau putar balik saja, karena melihat Suryoni berada disana bersama Mamsky Brenda.
“BAPAK, TOLONG AKU!!!” Teriak Alexis dari dalam semak-semak bersama Calistha.
__ADS_1
“Eh suara anak saya!!!” Ayah Alexis tahu betul kalau anaknya yang memanggilnya baru saja.
Karena panik, Calistha menutup rapat mulut bocah kecil itu dengan telapak tangannya.
“Hemmmmbbb... Hemmbbb... Kitttt” Alexis mencubit ujung anting Calistha.
“Huooooooooo haaasssss...” Calistha mengeluarkan suara laki-laki tulennya.
Warga yang sedianya ngumpet diantara tumpukan kertas dan kardus mengeluhkan diri.
“Ya ampun Alex anak Mama!” ibunya Alexis sadar kalau dia tadi meninggalkan anaknya karena terlalu panik.
Di semak-semak tadi, warga datang mengerubungi persembunyian Calistha dan Alexis.
“Wah si Kholis ini, udah banci kok mau nyambi tukang culik anak hemmm.”
“Eh Calistha, kalau suka anak-anak ya bikin dong. Jangan mau gedenya doang, huuuuu. “
“yah lagi-lagi si Calistha mainnya di semak-semak. Mau bertelur ya?”
“Kalian seenaknya saja menghinaku ya, asal kalian tahu. Akulah yang mengamankan anak ini, waktu kabur gak jelas. Sekarang ngatain aku bertelur di semak-semak. Kau pikir aku ini biawak, aku tuh masih ya punya utuh juga. Noooohhhhh!!!”
“HAAAAAAAAA..... KABURRRRRR.” Calistha berhasil membubarkan kerumunan warga Apartemen. Dengan membuka sedikit kain handuk tadi yang melilit tubuh bawahanya.
__ADS_1
“Hehehehehe kena tipu, emangnya aku ini cabul apa mau pamer aset pribadi. Tidak lah ya...” Calistha menetertawakan penghuni yang mencecarnya dengan pura-pura membuka handuk.