
--ADEGAN AGUS,
Warga sudah menyiapkan makan besar untuk acara peresmian jalan lintas Desa. Mereka berbondong-bondong memadati jalan Raya yang baru selesai di aspal. Warna hitam dan aroma khas aspal masih bisa tercium oleh lubang hidung mereka.
“Nak, sendalnya dilepas dulu.” Perintah seorang ibu.
Anaknya menuruti perintah ibunya, yang kemudian di copot di tepi jalan.
“Nah karena jalannya masih baru harus tetap bersih ya Nak.” Anaknya mengangguk.
Di jalan berasp ini warga menggelar tikar dan saling bercengkrama. Anak-anak bermain dengan bertelanjang kaki. Sambil berlarian menikmati jalan beraspal yang akan diresmikan.
“Eh nak, kau coreti saja wajah bapakmu. Ini jalan baru dibikin jangan main corat-coret! Ku coret namamu sebagai anggota keluarga kalau macam-macam!” ancam seorang ibu-ibu yang kesal kepada anaknya.
“Yah kan kita mau main congklak Bu, kalo enggak ada garisannya bagaimana kita mainnya?”
“Sono tuh pergi dikali, nyemplung disana biar segeran dikit otakmu. Sudah dibilangin kalau aspal ini harus dijaga. Ayam saja dilarang melintas, apalagi main corat-coret. Ku coret juga dari warga Kampung tahu rasa!”
Begitulah sekelumit kisah dan keseruan warga yang akhirnya merasakan punya jalan beraspal. Sementara itu Agus yang bujangan dan berstatus Pegawai Negeri tengah menjalani sesi wawancara para pelamar mantu.
“Maaf Bu, saya masih ingin meniti karir; Saya belum punya tabungan 1 Milyar belum mikir nikah hehehe; Kedepan saya akan terus berinovasi agar warga Kampung disini bahagia dan sejahtera. “ Agus menjawabi pertanyaan dari ibu-ibu yang menawarkan anak gadisnya.
__ADS_1
*
*
*
--JEPANG,
Sebuah Toko perhiasan yang terkemuka dengan Merk berkelas menjadi tujuan Derris dan ibunya. Misako memakai kacamata gelap dan syal bulu berwarna hitam.
“Kenapa ibu mengajakku kemari?” Derris merasa canggung.
“Lalu untuk siapa?”
“Untuknya,” masih sibuk memakai beberapa cincin yang cocok di jari manisnya.
“Maksut Mama siapa?”
“Jangan berkelit, aku sudah menemukan cincin yang cocok untuk gadis itu. Sudah aku putuskan hanya dia yang bisa menjadi istrimy kelak. Simpan cincin ini baik-baik.”
Selama ini Derris begitu rapi menyimpan kisah asmaranya. Sikap kaku dan dinginnya membuatnya enggan untuk menjalin hubungan serius. Tapi kenapa ibunya begitu yakin kalau dirinya sudah memilih kandidat untuk dirinya.
__ADS_1
“Ah enggak mungkin, Mama mengada-ada bukan?” kilah Derris.
“Aku sudah mengikutimu pergi kemanapun. Termasuk saat kau di Bandara kemaren.” Jawab Misako tegas.
Ternyata selama ini Misako memata-matai putra semata wayangnya tanpa diketahui olehnya. Pantas saja, Derris merasa aneh. Ternyata ibunya memiliki bakat sebagai Detektif.
*
*
*
Beberapa hari di Jepang hubungan Jupri dan Jeriko semakin memburuk. Jupri yang sudah mulai bosan dan malah berbenah rumah. Kini menjadi kucing malas gerak.
“Kau ini yang paling cerewet bila aku jorok, lihat kaki meja ini penuh dengan upilmu. Apa kau tak melihat ada tisu hheeee!” menyodorkan tisu di Jupri.
“Yang sabar, yang selow, yang damai, yang ikhlas ya jadi orang. Aku menjadi begini ya karena ajarannmu kok. Aku datang rumah berantakan dan kotor. Giliran aku yang jorok kamu malah ngomel-ngomel. Dasar Mochi!” ejek Jeriko.
“Kulempar kau ke rahim badak keluar kuda nil.” Jupri menyumpahi Jeriko.
“Dasar kakak tak berotak, pasti lahirnya dulu lewat rahangnya. Punya mulut kok asal bunyi saja!” kesal Jeriko.
__ADS_1