
Sreetttttt o sret osret osretttt... Tak klutak klutak... Sretttt dok. Begitulah isi rapat yanh saling bertukar omongan lewat tulisan. Saling adu setruman mata antra pak Muji dan Derris. Jupri sebagai wasit memegang lakban. Kalo ada yang mengeluarkan suara dari mulut langsung ditutup dengan lakban. Kedua anak pak Muji sudah dibungkam dengan lakbam berulang-ulang. Sedangkan bu Muji yang genjeng matanya dilakban matanya. Seijin pak Muji tentunya, dia gemas melihat mata istrinya yang lapar melihat mas Derris. Terlebih saat adegang membuka satu kancing kemejanya. Dadanya yang bidang itu mengintip-intip. Seorang menggoda bu Muji dan bilang “hayo bu, mau lihay ukiran badan bak pualam, gak dekil lembek macam punya suamimy yang berlemak bukan?” pikiran kotor bu Muji paling gak bisa kalo diajak kompromi bab badan kekar macam iklan susu mas-mas berotot bugar.
“Hajar aja, kelamaan pelakor kok dipelihara! “
“Heleh mertua macam gitu, bacain ayat kursi auto kafanan sendiri mbak mbakkk.”
“Nangissss terossss, ngiris bawang apa?”
“Laki doyan main serong, lama-lama aku kutekin aja tuh burungnya.”
“Kasihan anaknya jadi korban perceraian, aih. Sini nak ikut aku hidup dikampung. Mandi dikali dan angon bebel disawah, kamu pasti bahagia nak. Daripada melihat orang tuamu pinalti terus.”
__ADS_1
Begitulah kalimat mutiara ala warga kampung Sukamager. Mereka sudah menjadi kementator dadakan yang mahir mengoreksi peran artisnya. Semakin malam rumah pak Muji semakin rame, ada penjual aneka ria makanan ringan hingga berat. Mulai dari yang gratis bawa dari rumah sendiri. Atau modal tangan ghaib, langsung comot pas adegan tegang yang penting kenyang mulut tersumpal makanan. Ketika iklan saatnya mereka berdiskusi hal lain. Ada yang bahas program beranak pinak tanpa perencanaan. Yang bapak-bapak bahas janda bohay yang lulus akademi rumah tangga bercerai atau jalur terpisahkan maut. Semua obrolan warga sangat asik, hingga membuat rapat dalam negeri Mujiono King Dom terganggu.
“Argghhhh,” pak Muji melepaskan lakban yang menempel.
“Loh pak dhe rapat on going lo, mau odia (kemana)?” Jupri ikut melepas lakban mulutnya.
“Kumisku kriting lagi, baru direbonding lurus eh bengkok.” Kesal kumis pusakanya tidak lurus lagi.
“muaachhh ah piikkk,” Derris mengecap-ecap bibirnya yang kering.
“Mas Derris bibirnya kalau boleh tau rasa apa ya. Kok merah gitu hehehe.” Sri Dewi mengunyel-unyel roknya gemas.
__ADS_1
“Rasain luh dicuekkin Mas Derris,” bu Muji menjitak kepala anaknya.
Derris naik keatas dan mengunci kamarnya. Dia duduk dijendela sambil melihat rembulan yang mengintip dari dedaunan pohon jambu biji.
“Eh apa itu baru saja?” Derris seolah melihat sekelumit wajah wanita.
Dia mengucek matanya, memastikan tadi dia tidak tidur apa kehilangan kesadaran lagi. Lehernya bergidik ngeri, mungkin angin malam semakin syahdu.
“Hoammmb,” Derris tengkurap diatas ranjang.
Dalam hitungan detik dia sudah tidur lelap. Otaknya sedang menghapus memori buruknya hari ini. Berharap rencana pernikahannya dengan Sri Dewi batal. Jangankan tanam bibit, cara mengolah kata merayu aja buta. Aneh-aneh saja, masak hirup bau kentut cowok ganteng bisa mual dan muntah?
__ADS_1
Paling Mentok juga tutup hidung gitu, lali pergi. Biasanya Lucas kalo kena serangan gas hijau Derris dibalas kentut juga. Pikirnya Derris ini adalah jebakan saja, biar anaknya laku salah satu. Kan anaknya pak Muji kan ada Dua Setengah. Yang dua bener-bener perempuan dan yang setengah itu luar laki tapi dalam kosong. Benar-benar bikin mager otak dan raga saja.