MAS DERRIS

MAS DERRIS
MELEWATKANMU


__ADS_3

Kedamaian dan ketentraman di rumah Pak Muji akhirnya datang juga. Tak ada lagi suara berisik istrinya yang meminta air panas untuk memandikan bayi.


“Apa aku sedang bermimpi ya, kok rumah jadi sepi, santai dan senyap. Hemm aroma kopi kok sedap sekali.” Bangkit dari peraduan tidurnya.


Slruuuppp, kopi panas yang nikmat dan singkong goreng diwadah piring seng. Dengan memakai sarung dan kaos singlet, pak Muji selonjoran di kursi goyang teras.


“Weh istriku kok idola gininya, bangun tidur sudah siapin kopi dan camilan. Cucian sudah di jemur, ikan sudah dikasih pelet, halaman sudah bersih dan rapi. Ckckckck kalau lagi baik begini Malaikat singkat tidak ya catat amal istriku, tapi feeefffttttt fefffftttt___” hidungnya mendengus aroma masakan.


Tudung saji dibuka ada banyak aneka hidangan dari sayur, lauk, kripuk, sambal, lalapan dan teh hangat sudah menarik selera nafsu makan pak Muji. Tanpa cuci tangan dan basuh muka, pak Muji komat-kamit baca mantra dan bras-bres makanan yang sudah tersaji.


“Eeee, enak Pak? Sambalnya yahut?” ucap istri Pak Muni seolah menangkap kucing dapur.


“Lah istri yang masak masak dicuekin, tumben Ibu rajin sekali. Nanti malam mau minta jatah sama Bapak ya?” mengeringkan mata genitnya.


“Dasar kepala mesum! Selain kamar, ranjang dan rebahan apalagi sih Pak bakat terpendammu?”


“Menikahimu dan menghamilimu heheheh.”


Prang, kluntang, pyar, gubrak, tuweweweng, cling, gludak. Kekacauan dari dapur itu mengusik tidur tenang cucu Pak Muji. Sri Ajeng yang jengah melihat perkelahian orang tuanya melerai di dapur.


“PAK-BU, ku beri 2 pilihan untuk menyelesaikan perselisihan kalian!”


“Apa?” jawab keduanya serentak.


“PENGADILAN AGAMA ATAU KAMAR!” ucap Sri Ajeng membetangkang kedua lengan tangannya.

__ADS_1


“Oke gas kamar, yuk Bu. Kamu suka rewel kalau terlalu lama tidak dipanasin.” Seret Pak Muji meringkus istrinya.


Sembari memunguti perabotan yang berserakan di lantai. Datanglah Prapto yang baru saja datang dari Pasar. Ternyata sedari fajar, Prapto yang mengerjakan pekerjaan rumah. Dia membaktikan dirinya agar mertuanya luluh hatinya.


“Mas Prapto mending mandi saja, soalnya mbak Dewi belum mandi.”


“Baiklah Dek Ajeng, kalau begitu Mas Prapto enggak bantuin lo ya beresin dapur.”


“Iya beneran enggak apa-apa Mas, kasihan Mbak Dewi kalau belum mandi dan sarapan.”


Tekatnya untuk masuk kembali menjadi menantu, suami, ipar dan ayah sudah bulat. Sebulat ban truk Prapto tentunya, menggelindingi jalanan hingga sampai tujuan. Memang jalan yang diliwati tidak asik dan menjengkelkan. Itulah filosofi kehidupan. Melihat ketulusan hati seorang Prapto, makan keluarga Pak Muji mulai berdamai dengan masa lalu.


*


*


*


“Mbaknya hati-hati ya dijalan,”


“Sampai di Jakarta bawain debu Monas ya Mbak Ayu?” keinginan aneh Calistha.


“Buat apa debu Monas?”


“Buat obat rindu hiruk pikuknya Jakarta hehehe.”

__ADS_1


“Orang kalau rindu ya ketemu, mana ada obat rindu itu debu. Butiran debu kali iya judul lagu.” Potong Agus.


“Ih Masnya,julid sepanjang masa. Apa lidahnya tak keseleo tuh nyinyiri orang mulu, kualat cinta di tolak tahu rasa kau ni! Sumpah Calistha.


“Ish amit-amit bencong kalau nyumpahin totalitasnya melebihi ibu tiri.” Mengetuk-ketuk kepelanya dengan dengkul kaki.


“Ya bener kalau bicara suka ceplas-ceplos, secara otaknya di dengkul.”


Acara pamit-pamitan di rumah susun dan kediaman orang tua Sri Ayu berlangsung lancar tanpa hambatan. Dan Agus mengantar Sri Ayu dengan Vespa kiong kebesaraanya.


“Hah Mas Derris?”


Ucap Sri Ayu ketika berpapasan dengan sosok pria dalam mobil angkutan pedesaan yang baru lewat. Pria itu memakai kacamata dan kepalanya keluar dari jedela.


“Siapa Yu?” tanya Agus yang penasaran.


“Eh bukan Gus, kayaknya aku salah lihat saja hehehe.


Mobil angkutan tadi melaju masuk ke gapura Desa Sukamager. Sedangkan Vespa kiong Agus sudah mengantarnya menuju terminal kota terdekat. Perasaan kacau dan perasaan Sri Ayu berkecamuk dengan pria yang baru saja berpapasan dengan dirinya.


“Yu, sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu ya. Tapi sekarang aku beranikan diri untuk meminangmu. Jika kamu terima aku, ambil botol minuman air mineral ini. Jika kamu tolak aku, ambil cabe rawit ini.”


Tanpa pikir panjang kali lebar, Ayu menyambar air mineral. Pikirnya, Agus memberikan air mineral agar tidak haus diperjalanan. Dia meminum habis air dalam kemasan botol itu, dan bilang terimakasih kepada Agus.


“Jadi kamu terima ya Yu?”

__ADS_1


Sedari awal Agus bicara namun Sri Ayu tidak bergeming dari ocehan Agus tentang perasaanya. Alhasil Agus meloncat kegirang dan ber lompat-lompat kecil. Sri Ayu mengira kalau Agus terlalu lama tinggal di kampung.


__ADS_2