
Di Bandara ini Merylin mengernyitkan dahinya, dan mematikan ponselnya. Entah apa yang baru saja mengusik kedamiannya. Derris akan masuk ke pintu pemeriksaan keberangkatan.
“Ma, sebenarnya Papa berada di Jepang. Apakah Mama tahu?” Merylin Misako menggelengkan kepalanya.
“Sekarang Papa berada di rumah sakit, jika sempat tolong jenguk dia untukku.” Merylin Misako mengangguk.
“Lalu Mama tadi pergi dengan siapa?” ibunya mematung dan membisu.
Melihat sikap ibunya yang tertutup Derris kecewa dan memalingkan wajahnya ke Jupri.
“Jangan ke Indonesia kalau kau masih biasa saja. Wanita itu butuh sosok lelaki yang bertanggungjawab dalam segala hal, mengerti!” Jupri membungkuk tanda paham dan hormat.
Lambaian tangan Derris ini membawanya pergi semakin jauh dari jangkauan mata Jupri dan Mamanya. Misako berjalan mendahului Jupri, setelah diikuti dari belakang. Ternyata ada sebuah Limosin yang sudah menunggu Misako. Tampak sopir memakai jas dan kacamata hitam membukakan pintunya. Terlihat sepucuk kaki dengan sepatu berwarna hitam.
“Sial! Wajahnya tidak nampak.” Umpat Jupri kesal.
Karena sopir Limosin itu menatap tajam Jupri seolah mengusir tanpa suara dan gertakan. Dengan inisiatifnya dia pergi menjauh dan kembali ke parkiran mobilnya sendiri. Selama di perjalanan Jupri terus berpikir mengenai nasehat Derris.
*
*
*
---SUKAMAGER,
__ADS_1
Setelah berjibaku dengan waktu dan tenaga, akhirnya hunian baru sudah jadi. Yang dulunya kandang ayam sekarang sudah berubah menjadi rumah panggung.
“Mbaknya, nanti kita diusir lagi enggak?” Gustavo menayakan kelanjutan nasibnya.
Mungkin anak kecil ini sudah lelah berpindah-pindah hunian. Dan ingin merasakan tempat hunian yang lebih tenang dan baik.
“Nanti aku coba mengurus legalitas Kepemilikan tanah dan bangunan ini.” Tegas Sri Ayu.
“Mbaknya enggak takut apa kalau Ibunya kemari nagih uang sewa dan iuran bulanan?” resah Brenda.
“Tidak, ini adalah tanah yang aku beli dari hasil tenak. Sejak sekolah dasar aku sudah menggembalakan kambing dan ternak ayam. Sehingga, waktu aku lulus sekolah tingkat akhir tabunganku sudah banyak. Hidupku sangat irit dan jauh dari kata cukupan. Kalian doakan aku saja, supaya prosesnya berjalan lancar.
Setelah tiba dirumah orangtuanya Sri Ayu meminta ijin kepada kedua orang tuanya untuk meminjak berkas yang dibutuhkan. Sri Ayu mengayuh sepedanya dan tibalah di kantor Kecamatan yang sudah direnovasi sedemikian modern.
“Wuaaaah,” mengagumi bangunan pemerintahan Desanya.
“Selamat pagi, Pak. Saya mau mengajukan surat rekomendasi legalitas tanah dan bangunan.” Sembari menyodorkan stopmap.
Pria yang duduk membelakangi Sri Ayu itu tengah sibuk mengetik huruf menjadi bait yang Indah. Merasa jengkel dengan petugas Pemerintahan Desanya itu yang tak menggubrisnya. Meja kerja di Petugas yang sok sibuk itu di gebrak, hingga tersentak kaget.
“Hastagah!” mengurut dadanya.
Akhirnya bergeming juga dari keasikannya sendiri. Dan memutar kersi kerjanya. Alangkah terkejutnya Sri Ayu jika pria tersebut adalah Agus Sejagat. Keduanya seolah dipertemukan di alam mimpi.
“Bagaimana bisa kau dimutasi kemari, Gus?”
__ADS_1
“Pak Boi.”
Berkat Pak Boi pulalah Agus bisa bertugas dinas di desa kelahiran Sri Ayu. Memang Pemerintah Pusat tengah getol mengejar ketertinggalan daerah terpencil. Keduanya asik melepas rindu dengan salin bertukar informasi dan kisah pribadinya.
“Jadi Mas Derris pergi ya?” Sri Ayu mengangguk.
“Apakah kalian sudah berpacaran?” Sri Aku menggeleng.
Wajah sumpringah Agus terkembang bagai emak-emak yang nemu duit suami di celana cucian. Berarti Agus masih ada kesempatan mepet Sri Ayu.
“Oke Yu, aku akan bantu kamu urus pengajuanmu ini.”
Sontak Sri Ayu bahagia karena temannya mau meringankan bebannya. Dan mereka mengatur jadwal keberangkatan ke Kota Administratif.
*
*
*
Setelah mengumpulkan tekat dan niatnya, akhinya Prapto sudah memberanikan diri. Dihadapan keluarga Pak Muji dia duduk di kursi pesakitan.
“Jadi kamu sudah bercerai dari istri tuamu, dan masih berharap anakku menerimamu kembali?”
“I-iya Pak,”
__ADS_1
Rasa bersalah dan motivasinya kembali kejalan yang benar, akhirnya mampu mengalahkan ego Prapto. Kini dia sudah memiliki keberanian untuk mengakui semua kesalahan terburuknya. Dari dalam kamarnya, Sri Dewi menguping pembicaraan suaminya. Sambil menyusui anaknya yang kehausan. Tapi asa yang semula berkobar harus padam karena Pak muji menolak itikad baik Prapto.