
---DESA SUKAMAGER,
Usahanya untuk menggantikan urusan bisnis yang bergerak dalam bidang perkandangan. Membuat Pak Muji mati gaya, pasalnya berulang kali mencoba bekerja sesuai arahan dari Jupri. Pak Muji dengan sifat ngeyelnya meracij adonan pakan ternak dengan sedikit campuran keju parut.
“Biar hasil telur anyamnya lebih bibgsor, kan bule biasa makan keju muehehehehe,” kilah pak Muji kala itu.
Apanya yang bongsor, yang ada ayam petelur mencret-mencret. Bukannya untung, malah buntung. Begitulah hasil racikan Pak Muji yang salah kaprah. Berikutnya ketika Jupri menugaskan Pak Muji untuk angon kebo di ladang. Nah sembari angon kan biasanya paling enak itu ngangin sambil dengerin radio. Beda halnya dengan Pak Muji, doi sengaja ngandangin semua kebonya. Dan mencari rumput di pinggiran sungai. Tempat favorit cari rumput segar. Alhasil bukannya rumput yang didapat, pak Muji mancing ikang di kali yang arusnya deras. Bukannya ikan yang didapat, kailnya nyangkut di cucian baju ibu-ibu yang rutin nyuci di sungai. Masih mending yang nyangkut baju, kalau kailnya nyangkut ke batu repot urusannya. Seharian penuh kebo yang dikandangin itu tak memperoleh jatah makan.
“Mboooohhh... Mbooohhhh,” kerbaunya meronta kelaparan.
Namanya perg memancing, pantang pulang tanpa bawa gantungan. Akhirnya Pak Muji mendapat ide, dia beralih mancing di empang belakang rumahnya.
“Nah, tahu kalau segampang ini ngapain repot-repot mancing di sungai huuuu,” dengan senang Pak Muji mengulurkan kail senar pancingannya.
Usai dari kandang ayam petelurnya, bu Muji marah-marah. Kerjaan suaminya tidak becus, dan membuat tekor.
“Hoooo pantes ya, giliran ngasih makan ayam saja gak bener. Sekarang mancing di empang gitu? Dasar suami tak berguna!” ucap bu Muji kesal.
“Apa to Dek, pulang-pulang bukannya bikinin suami kopi. Malah mprepet saja kayak petasan Implek. Berisik tahu!” pak Muji yang keasikannya mancing terganggu celotehan istrinya.
“Itu kerbau sudah dikasih makan belum Pak?”
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya sekarang, barulah sadar. Kalau kerbau-kerbau mereka belum diberi makan seharian. Padahal ini sudah masuk waktu senja, tak terbayangkan betapa perihnya lambung kerbau itu.
“Gusti Pak Pak... Kerjaanmu ini apasih Pak! Kerbaunya bergelimpangan kayak mahasiswa demo, cepetan nyari rumput!” bentak Bu Muji kesal.
Kerbau-kerbau di dalam kandang itu sudah tak berdaya lagi. Jangankan bersuara, menggerakkan ekornya saja tidak.
“Duh cilaka aku cilaka, kalay sampai kerbaunya mati semua karena kelaparan. Oh iya, kalau mas Derris males makan kan minta dibuatin susu. Aha, aku ada ide.” Pak Muji bergegas ke dapur dan mendidihkan air.
Setelah mengayuh sepeda ke warung dan memborong semua susu rencengan. Pak muji mencampurkannya, dan memasukkannya kedalam ember-ember plastik.
“Bapak mau mandi susu ya malam-malam?” Sri Ajeng bertanya ketika berpapasan di dapur.
“Ssstttt sudah-sudah, mending kamu bantuin Bapak bawain ember-ember yang lain itu ke kandang kerbau!” Sri Ajeng menuruti perintah bapaknya.
“Bapak yakin nich? Inikan susu untuk manusia. Gak sekalian kasih roti tawar dan mie gitu?” Ucap asal Sri Ajeng.
“Wah iya, bener juga Dek ucapanmu. Bapak pergi ke warung lagi ya, kamu sebisanya saja nyusui kerbaunya.” Pak Muji mengalihkan tugasnya kepada Sri Ajeng.
“Ih tidak sudi aku Pak,” Sri Ajeng kabur.
“Giliran minta duit aja mendekat, dasar wanita. Racun dunia!” Pak Muji menggerutu kesal.
__ADS_1
Berangkatlah Pak Muji ke warung, bergegas hendak membeli roti dan mie instan.
“Buru-buru amat Pak Muji?” sapa warga yang membawa tikar.
“Iya Pak, mau ke warung nih. Mau nonton Sinetron ya?” jawab Pak Muji sambil menuntun sepedanya.
“Iya Pak, nanti episodenya seru. Sayang sekali kalau absen nonton.”
“Oh iyaya, selamat nonton Sinetron ya Pak. Jangan lupa nanti kita bahas keadaan Kampung kita hehehe.”
“Kampung kita mah aman Pak, yang gak aman itu kalau kantong kita kempes hahaha.”
“Ah bisa aja biji ketumbar!” timpal Pak Muji menggeplak bahu.
“Ah biji upil kayak gak paham saja, ada uang abang sayang. Gak ada uang abang tidur di Kandang hahahaa.”
Melihat keakraban obralan kedua lelaku paruh baya itu yang asik. Bu Muji mengambil dua tutup panci.
Prangggg... Prangggg... Pranggg...kedua tutup panci itu menghasilkan suara nyaring.
“Ghibah terus, laki kok ghibah bubar! “ jengeklnya Bu Muji sudah meledak-ledak.
__ADS_1
Sambil berbisik lirih Pak Muji berkata : “Dulu kalau saya tahu dia bakal cerewet, sudah aku belikan obat tidur dari Kota hahaha. “