MAS DERRIS

MAS DERRIS
JERIKO


__ADS_3

---ADEGAN JUPRI.


Sekian tahun lamanya Jupri meninggalkan tanah kelahirannya Hokkaido. Rumah orang tuanya yang nampak asri karena pohon Sakura sedang bermekaran. Pagar rumah yang tinggi dan pintu gerbang kayu dulu. Kini sudah diganti menjadi pintu besi yang berukir bunga dan naga.


“Jefry?” sebut seorang wanita paruh baya yang keluar hunian.


“Ookasaaannnn,” teriak Jupri penuh emosional.


“Anak nakal, anak bandel, anak bodoh!”


Tak peduli umpatan dari ibunya, Jupri memeluk erat tubuh ibunya. Dari dalam rumah Jupri keluar seorang pria yang memakai jas dan topi golf. Dia memegang stik golf dengan erat. Seolah geram melihat keintiman istrinya dengan seorang pria asing.


“Ayah,” panggil Jupri yang berlinangan air mata.


Ayahnya tak peduli dengan Jupri, lalu mengunci di pintu rumah utamanya. Seolah kehadiran putranya sudah ditolak.


“Jefry, kau pergilah ke Tokyo. Disana ada pelatihan dan seminar mengenai pengembangan sistem game. Sementara waktu kau tinggallah di Apartemen bersama adikmu dahulu ya. Aku akan membujuk ayahmu agar mau menerimamu kembali.” Bujuk ibunya.


“Tapi Bu, aku adalah putra kandungnya. Kenapa ayah begitu keras kepadaku, sedangkan ibu hanya ibu sambung. Tapi kenapa ibu terus membelaku?” tanya Jupri.


“Karena menjadi anakku tak harus lahir dari rahimku, lewat rahang dan ucapanku kau sudah menjadi buah hatiku.”


“Okasaann bercandamu keterlaluan, memangnya aku iler apa yang keluar fari rahang. Ini lagi soal ucapan, memang aku lahir dari bualan buaya apa.” Celoteh Jupri kesal.


Saat seriuspun ibunya masih bisa ngebanyol. Lontaran kalimat nyeleneh inilah yang bisa membuat naik semangat Jupri untuk menghadapi kenyataan. Dihari yang sama pula, Jupri meninggalkan tanah Hokkaido dan bergegas ke Tokyo. Menyusul adiknya yang hidup disana. Dengan harapan adiknya tak bersikap buruk seperti ayahnya.


*

__ADS_1


*


*


Ruangan anak muda ini begitu jorok dan berantakan seperti tempat sampah. Tissu dan bungkus makanan masih tergelatak tidak pada tempatnya. Seperti mantan yang kenangannya dibuang ditempat sampah.


“Wuhuuuu menang!!” teriak Jeriko.


Sebuah bel berbunyi ketika dia merayakan kemenangannya bermain game. Dari bermain game inilah Jeriko mendapatkan uang pula. Dibukanya pintu Apartemennya. Seorang kakak yang telah pergi selama bertahun-tahun berdiri.


“Jefri-chan?” teriak Jeriko.


“Jeriko!” memberikan pelukan untuk adiknya.


Setelah masuk dan melihat kejorokan dan kumuhnya isi Apartemen adiknya. Jupri menjadi jijik dan naluri Inem-nya muncul.


“Ibu bilang, aku bisa tinggal disini bersamamu selama yang aku mau.”


“Yah beginilah keadaanku kak, semoga betah.”


“Kapan pelayan kebersihan datang?” tanya Jupri sambil. Memunguti sampah yang berserakan.


“Sebulan sekali kak, ketika aku ada turnamen hehehe. Kenapa Kak, kau mau membayar uang sewa dengan membersihkan Apartemenku ini?” canda adiknya.


“Kau itu adikku ya, buat apa aku merendahkan martabatku. Jika aku mau membersihkan ruangan ini, maka aku lakukan karena akulah pecinta kebersihan.” Dengan bangga mengakui yang bukan sifat aslinya.


Untuk beberapa hari kedepan Jupri tidak memiliki agenda apapun. Oleh karena itu dia membersihkan Apartemen milik adiknya.

__ADS_1


“Woi toiletnya mampet! Apa kau memasukkan pembalut didalamany?” teriak Jupri yang menyedot saluran.


“Oh itu bukan pembalut Kak, tapi tisu basah yang aku lakukan untuk rileksasi hehehehe.” Jawab Jeriko dari kamarnya bermain game.


“Ya ampun punya adik kok joroknya melebihi kaum purba hih.”


Jupri terus berusaha membuat lancar saluran buat dari pipa. Hingga berjam-jam lamanya dia berjibaku dengan toilet yang berkerak dan kuning. Selama di Indonesia Jupri memakai toilet tanah yang menyatu Indah dengan pemandangan alam.


“Hoi ini baju sejak kapan tidak kau cuci menggunung begini?” terima Jupri lagi.


“Itu baju Tiga bulan yang lalu kak, maaf aku belum sempat mencucinya. Kalau yang berada di mesin cuci Dua Minggu aku keringkan dan lupa aku keluarkan. Biasanya sih langsung aku pakai.”


“Jadi kau tidak menyetrikanya?” kaget Jupri.


“Untuk apa menyetrika, boros listrik. Aku tidak melakukan aktifitas dilokasi umum. Setiap hari aku hanya melihat layar komputer dan bermain game.”


“Benar-benar manusia kotak!” mencabut saklar yang tertancap.


“Kak! Kenapa kau mencabut saklarnya, kau tidak boleh seperti ini. Ayah membangun perusahan Game untuk masa depan kita. Jadi wajar jika aku menikmatinya.” Kelah Jeriko kesal.


“Ayah membangun Perusahaan ini hanya untuk meraup keuntungan. Menjadikan pemuda malas tidak mengenal alam. Nasi, sayur, buah dan air ini diolah dari alam. Kalau generasi mudanya hanya bermain game, lalu siapa menyediakan stok makanan Dunia?” tegas Jupri.


Adiknya menunduk dan melepas penyumpal telinganya. Dia mendengarkan nasehat baik-baik Jupri. Selama ini dia makan-makanan olahan yang tidak sehat. Tidak pernah olah raga sehingga tubuhnya obesitas. Rumah yang sedianya kotor dan berantakan sudah dirapikan oleh Jupri.


“Jadi ini alasan Kakak kabur dulu?” matanya mengabsen seluruh ruangan yang bersih.


“Bermainlah secukupnya, jika kau ingin bekerja. Bukan dengan pemain Game, itu untuk hiburan bukan profesi. Luangkan waktumu untuk mengenal alam dan lingkungan. Jika kau terus bermain Game, lantas bagaimana kelak kau mengurusi dirimu!” tutur Jupri bijaksana.

__ADS_1


__ADS_2