MAS DERRIS

MAS DERRIS
MADAM DEPOSIT


__ADS_3

“Tuliluliiit... Tululliiittt...” setiap pagi suara klakson Vespa hijau Agus menggema di kompleks Perumahan.


“Bentar Mas, mbak Ayu-nya sedang jemurin bajunya.” Kepala Satpam itu nongol dari dari celah pagar.


“Masih lama ya Pak, berarti?” Agus nyopot helm-nya, tapi kepalanya masih nempel di leher (mati dong kalau ikut dicopot?).


“Santai Mas, gak lama kok. Mbak Ayu udah mandi hehehehe.” Senyum agak mencurigakan Satpam ini patut diwaspadai.


Agus sudah menghabiskan dua puntung rokok, sepatu kulit kinclong itu menginjak bekas bara yang masih mebara. Sambil mengeluarkan puntung rokok ketiganya.


“Mau rokok Pak?” menawarkan kepada teman nunggunya, yaitu Pak Satpam.


“Gak Mas, rokok itu membunuhmu!” kedua tangan Pak Satpam mengangkat.


“Cinta kali Pak yang membunuhmu, kan ada tuh lagunya. KAAUUUU... MEMBUAT KU TAK PERAWAN, KAU MEMBUAT KU TAK KARUAN. KAU... MEMBUAT KU JADI ARWAH PENASARAN... hahahaha. “ Agus plesetin lirik lagu.


“Tha Massive kali Mas yang judulnya ‘Cinta Ini Membunuhku’. Kalau yang barusan Mas nyanyiin itu The Intip judulnya ‘Cinta Ini Modusku’.”

__ADS_1


Setelah dipikir-pikir masuk akal juga perkataan Pak Satpam yang Cuma nongol kepalanya aja. Tapi badannya masih separo di dalam pekarangan rumah.


“Eh maaf ya Gus, tadi aku jemurin bajuku.” Sambil mengibas-kibaskan lengan kemeja panjang.


Pesona Sri Ayu yang memancar lewat seragam resmi. Memang sudah berevolusi sekali. Dari yang dulu berkaos lengan pendek, sekarang baju rapi tapi lecek sana-sini. Yah, maklumlah bagi seorang perantau. Pantang ngutang atau makai barang-barang yang bukan miliknya. Lebih baik menanggung malu, daripada tidak tahu malu demi sebuah gengsi. Memakai segala fasilitas di rumah Lucas untuk menyamankan hidupnya.


*


*


*


Muncullah Madam-madam khas rumah gedongan. Sanggul bak nasi tumpeng, kacamata segede gaban. Warna lipstik yang garang, dan menenteng tas kecil mahalnya bikin ******.


“Segera angkat barang-barang belanjaanku, aku mau berendam.” Sopir membuka pintu bagasi mobil.


Dengan cekatan satpam dan sopir membawa tas belanjaan. Setiap kali ada kesempatan berkunjung. Mamahnya Lucas, selalu mengisi rumah anaknya dengan berbagai macam kebutuhan yang tidak penting. Katanya untuk berjaga-jaga kalau suatu saat putranya menikah.

__ADS_1


“Uhhh gerah-gerah garang ya mataharinya. Berendam di dalam bak ah.” Mamahnya Lucas mulai membuat busa dan menyiramkan aroma terapi.


Temani musik instrumental dan pemandangan dari luar jendela. Mata mamahnya Lucas terkontaminasi dengan jemuran. Yang berada asal di tanaman kebun rumahnya.


“APA???” Mamahnya Lucas murka ding.


Dia keluar mengenakan baju handuk dan melilitkan handuk untuk membungkus rambutnya.


“Ulah siapa ini? Kenapa banyak jemuran baju diatas pohon dan ini juga. Ada dalam wanita di ranting-ranting pohonkuuuuu!!!!” geram mamahnya Lucas mendapati tunaman rumahnya jadi jemuran berbasis alam.


Tak... Tak... Tak... Jemari tangan berkuku panjang bergantian dijentikkan di atas meja. Sudah jam 4 sore, waktunya jam pulang Sri Ayu. Kini dia tiba dirumah Lucas. Belum juga turun dari Vespa Agus. Satpam sudah mencegat dirinya.


“Mbak, Madam pulang. Tadi nemuin jemuran bajunya mbak. Beliau sekarang menunggu mbak, diruang kerjanya.” Sambil berbicara lirih, agar Agus tidak mendengar.


Agus beranggapan, bahwa Sri Ayu anak gedongan yang sengaja menyamar. Karena sulitnya mencari teman di Jakarta. Alhasil Agus berteman saja dengan Sri Ayu, dengan harapan. Pemuda yang miskin ini memiliki dukungan, yaitu anak gedongan.


“Yuk, Abang pamit ya.” Padahal dalam hati, Agua mengharap dirinya diundang masuk bertamu. Dalam benak Agus, Madam adalah ibu dari Sri Ayu. Dia bisa berkenalan dengan orang kaya terpandang. Kan lumayan bisa panjat derajat.

__ADS_1


Dihadapilah sang Madam, Sri Ayu masuk ke dalam kandang Emak Buaya. Satpam hanya bisa menggigiti kukunya. Berharap Ayu dan dirinya masih diberi toleransi. Ternyata dirinya juga kena imbas, karena tidak melaporkan ada penghuni lain di dalam rumah Lucas. Awalnya Madam mengira Lucas menyimpan seorang lelaki. Karena pakaian dalamnta mirip lelaki, bahkan tak ada bra. Setelah melihat wajud si perempuan gagah berani ini. Maka diusirlah Sri Ayu dari kediaman Lucas selamanya. Berbeda dengan Satpam yang masih bisa meminta. Madam memberinya kesempatan untuk bekerja lagi, tapi gaji dipotong sesuai dengan kerugian selama Sri Ayu tinggal.


__ADS_2