
Gustavo mengajak kedua orang dewasa pergi mengisi perut mereka. Dipinggiran jalan, tampak penjual sate ayam gerobak.
“Mbaknya di Kampung pernah makan Sate?” ucap Gustavo.
“Emb___” menggelengkan kepalanya.
“Yu, sekian tahun hidup enggak pernah makan sate ayam? Seriusan Yu?” Agus tercengang.
“Sejak kecil makan seadanya yang tersedia di kampung. Makanan mewah bagiku ya mie instan, itupun menjadi makanan pelengkap pengganti sayur dan lauk. Tetap nasi sebagai makanan pokok sumber karbohidratnya.” Tutur Sri Ayu.
“Wah premitif sekali ya kampung halamanmu.”
Untuk pertama kalinya Sri Ayu menyantap sate ayam Madura yang terkenal lezat. Setelah dia mencecap satu tusuk sate saja.
“Pehhhh, aneh kayak makan ayam gosong.”
Nemplaklah tusuk sate itu di kaca mobil yang baru saja terparkir di pinggir jalan.
“Woi, ini mobil orang kaya ya. Bukan mobil sampah, sapa yang buang sampah sembarangan woi!” teriak grang Luciana Lucas.
Ketiga terdakwa yang duduk mengemper di trotoar ketakutan. Wanita yang dikagumi Agus ternyata bisa bersuami maskulin.
“Sudah, nanti dicuci di Salon Mobil. Ayo pesan satenya, aku sudah lapar.” Derris menepuk bahu Lucas.
Seketika Lucas menjadi kemayu dan gemulai dengan menenteng tas jinjingnya. Keakraban Lucas dan Derris sangat menyakitkan mata batin Sri Ayu.
“Mbaknya cantik kok, bulu matanya lentik, hidung mancung ideal, kulit putih langsat. Tidak seperti banci itu, putihnya pucat mayat hehehe.” Hibur Gustavo.
__ADS_1
“Apa aku sudah tak sejelek dulu ya?” mengusap wajahnya yang kini ayu.
“Kamu sekarang langsing, rambutmu Wangi dan lurus. Bajumu sederhana tidak berlebihan. Kamu cantiknya alami Yu.” Agus mengelus kepala Sri Ayu yang tertunduk lesu.
Saku celana Gustavo dikorek untuk mencari uang yang pernah Derris berikan.
“Misi Masnya, masih ingat sayang enggak?” Gustavo memberanikan diri untuj menyapa.
Dengan memceringkan mata, Lucas menatap dari atas ke bawah penampakan seorang Gustavo Alejandro.
“Hai kutil menjauh dari mobil kami!” usir Lucas.
Byurrr, Gustavo menyiramkan air botol kemasan ke muka Lucas.
“Derr, lihat anak ini ternyata kriminal! Cepat ke Kantor Polisi buat laporan!” bertak Lucas yang gelojotan.
Gustavo meminta maaf dan menjelaskan bila dulu Derris pernah memberikan uang. Lebih tepatnya ketika Gustavo sedang bedagang asongan di lampu merah. Bagi Derris kenangan itu sudah cukup lama, jika harus mengingat pastinya sulit. Hanya mengangguk saja dan melipat kedua tangannya. Gustavo menjelaskan bila dia ingin mengembalikan ponsel pemberian Derris pula yang secara cuma-cuma. Awalnya Gustavo menjaga gengsi, setelah menceritakan perihal dirinya. Barulah Derris mau menerima kembali ponsel tersebut.
“Sebenarnya aku dulu sangat arogan dan kasar. Setelah aku mendengar percakapan kalian dari dalam mobil. Aku merasa barang yang aku miliki adalah hak kalian. Sejujurnya aku tidak suka orang meminta kepadaku. Oleh karena itu, secara spontan dulu aku berikan uang kepadamu. Karena jujur aku terenyuh melihat anak kecil bekerja. Dan jika ponsel ini kalian tidak mau, aku terima kembali. Tapi jujur aku ikhlas memberinya, karena sudah terlalu banyak ponsel yang aku miliki.” Penuturan derris.
Nafsu makan Lucas hilang karena emosinya tak stabil. Dia lebih memilih dia dan menghentakkan kakinya. Perkenalan dengan Gustavo dan Derris terjadi, diikuti oleh Agus. Lalu apa yang terjadi dengan Sri Ayu? Kakinya keram kesemutan, sehingga Derris menghampirinya.
“Aku Derris Hadijaya, maukah kau menikah denganku?” yang didengar Sri Ayu.
“Aku mau Mas,” jawab spontan Sri Ayu menjabat tangan Derris.
“Hah, apa? Mau apa?” kebingungan dengan jawaban tak nyambung itu.
__ADS_1
Lucas datang nyelonong memisahkan jabatan Derris dan Sri Ayu. “Mau aku jambak hah!” bentak Lucas marah.
Dengan posesif Lucas menggaet paksa Derris pergi menjauhi Sri Ayu.
“Mas Derris, ini aku Sri Ayu anaknya pak Muji. Masih ingatkah kau padaku?”
Kedua tangan Derris kini menjadi rebutan. Dia bingung dengan situasi yang dramatis ini.
“Apa yang baru saja kau ucapkan? Benarkah kamu Ayu?” Derris menangkup kedua pipi Sri Ayu yang kenyal dan merona merah.
Seperti sepasang merpati yang bertemu kembali. Setelah sekian musim berlalu untuk berpindah migrasi. Akhirnya Sri Ayu memberanikan diri untuk menunjukkan wujud aslinya.
“Mustahil kalau Mbaknya dan Masnya ini pernah ada ikatan batin.” Celoteh Gustavo sambil makan sate.
“Iya, enggak mungkinlah yang dulunya si cewek kayak badut sirkus dan cowoknya pangeran pernah ada kenangan Indah.” Imbuh Agus yang sedari tadi nyomoti satenya Gustavo.
Plakkk! “ Celemotan!” Gustavo menggeplak tangan Agus.
“Dikit Dek, abang kan belum gajian. Minta dikit ya heheh.” Pinta Agus yang kelaparan.
“Katanya sosialita, jiwa miskin juga kan. Memalukan cuih.” Gertak Gustavo.
Sambil makan sate ayam di trotoar mereka menyaksikan drama pertemuan dua insan beda rupa. Tukang sate menambahkan efek asap dari kebulan arang yang dikipasi. Serta Lucas menyetel musik romantis dari dalam mobil Derris. Dengan sound sistem yang kencang. Sehingga drama kolaborasi tukang sate dan Lucas menjadi sangat romantis.
“Aku bahkan tak mengenalimu.” Ucap Derris takjub.
Tangan Derris terus memegangi pipi Sri Ayu. Wajah asli gadis yang memakai masker bengkoang itu benar-benar cantik. Rambutnya yang hitam lurus dan berponi adalah aksen feminin yang paling ideal. Dan tubuhnya yang kekar berotot kini berubah menjadi langsing dan berbentuk biola.
__ADS_1