
---ADEGAN SRI AYU,
Kondisi kantor yang masih sepi dan kondusif ini membuat niat nebeng mandi Sri Ayu mujur.
“Loh, mbak Ayu pagi-pagi datang kekantor mau ngapain?” seorang penjaga kantor memergoki Sri Ayu yang memanjat pagar.
Masih di posisi badan diatas pagar pembatas, kaki kiri dan kananya ada di balik tembok. Sri Ayu seperti maling era ninja sarung membatu jadinya.
“Emb... Nganu pak itu engggg.... “ menggaruk-garuk kepalanya yang mungkin gatal atau kutuan.
“Pintu gerbang sudah saya buka kok gemboknya, ngapain pake acara manja? “ ucap si penjaga.
“Ya kali aja ada lomba 17 Agustusan nanti Pak, Lomba Panjat Pagar hehehe.” Sri Ayu melompat masuk pekarangan kantor.
“Yang ada sekarang itu lomba Panjat tapi tidak di Pinang huahahahaha,” Si penjaga itu menertawakan kondisi muda-mudi yang terkena pergaulan bebas.
“Jadi Panjat Sosial sudah tidak musimnya lagi ya Pak?” Sri Ayu merapikan bajunya yang kusut saat manjat pagar.
“Ya masih buat para penjilat dan kaum penyembah pujian. Tapi, ngomong-ngomong mbak Ayu badannya bisulan semua ya? Kok bintik-bintik merah merata?” jari penjaga itu menunjuk kulit Sri Ayu.
“Semalam habis diserang ngamuk Pak, alhasil ya gini. Bentol-bentol merah semua.”
Karena susasana masih sepi, Sri Ayu terus mencari kamar mandi yang paling bersih dan jarang dikunjungi orang. Disana dia mendapatkan kamar mandi dengan bak yang ukurannya lumayan besar. Pestalah dia dengan air bersih dan segar, byarrrr byuuurrrr byaaarrrr byuuurrrrr.
__ADS_1
“Ah...rontok semua daki-daki-ku ini.” Sri Ayu yang merasa puas dengan acara mandi ini sengaja membasuhkan sabun 3x.
Ketika melewati kanting karyawan, dia mendengar suara gelas dan sendok bermain dalan air. Ting... Ting... Ting...suara adukan sendok membentuk dinding gelas kaca. Aroma khas kopi panas dan teh hangat sedang diracik untuk disiapkan dimeja para staff karyawan kantor.
“Gulanya sedikit saja, biar bisa irit dan jauh dari penyakit Diabetes.” Suara si Penjaga kantor tadi yang bicara sendiri.
Karena penasaran dengan siapa lawan bicara bapak-bapak paruh baya ini. Sri Ayu mengintip daei lubang ventilasi jendela.
“Bapak bicara sama siapa?” Sri Ayu bicara dan membuat si Penjaga kantor tadi kaget.
Klunting, sendoknya jatuh. “ Haduhhh, ssssissiiiaaapaa?” sambil mengusap dada. Kelimpungan mencari wujud siapa pemilik suara barusan.
“SAYA NYONYA NYENGIR, SAYA PENINGGU DISINI HIHIHIHIHI.” Sri Ayu mengerjai tukang jaga kantornya, karena iseng. Dari keisengan ini, terkoreklah sebuah rahasia. Jika selama ini si Penjaga kantor suka mengumpulkan gula sisa jatah bulanan karyawan.
Berkat keisengan Sri Ayu menjadi hantu dadakan, dia dapat mengerti kalau ada pegawai yang taraf hidupnya masih dibawah cukup. Jangankan sebagai penjaga kantor, dirinya saja yang sudah menjadi Pegawai Negeri saja lontang-lantung tak jelas. Beruntungnya sekarang ada Apartemen milik Gustavo yang murah meriah. Dan tak ada apa-apanya, bisa dikatakan banyak minusnya. Tapi namanya amatiran dan kondisi keuangan masih bekal dari kampung tentu membuat jebol kantong.
“Pagi Yu,”Agus menyapa Sri Ayu yang sudah sibuk dengan pekerjaannya.
Dug, sundul dengkul Agus yang berada di bawah meja kerja Sri Ayu. Sontak membuat alat tulis dan benda yang berada diatasnya mabur.
“Ck!” dengus Sri Ayu kesal diganggu Agus.
“Yu, sekarang kamu tinggal dimana sih?” tegur Agus yang penasaran.
__ADS_1
“Hemmbb kamu bisa janji apa tidak?”
Setelah Sri Ayu menceritakan kehidupannya pasca diusir dari rumah Lucas oleh Madam, kini Sri Ayu berani mengakui. Bahwa ia tinggal dibawah kolong jembatan yang disulap menjadi Apartemen menyusun kebawah. Wajah Agus nampak kecewa bukan main. Dirinya kini sudah yakin, bahwa Sri Ayu bukanlah gadis kaya Raya seperti perkiraannya.
“Pantas saja, selama ini dia tampak compang-camping.” Agus duduk menyendiri di lorong menuju gudang.
Sambil melihat langit-langit atap yang banyak sarang laba-labanya. Agus tertegun ketika Sri Ayu bercerita tentang keadaan penghuni Apartemen bawah jembatan tersebut. Hatinya yang dulu gengsian kini mulai terenyuh.
“Gus, aku tidak minta kau menjadi temanku diluar kerjaan. Tapi menjadi rekan kerja untuk tim solid itu hukumnya wajib. Karena kita adalah pelayan masyarakat Indonesia. Jadi kita harus mengabdi kepada Negara. Termasuk ini yang sedang aku lakukan.” Menyodorkan gelas berisi kopi hitam.
“Hemmmbb, kopinya seperti tidak biasa ya. Apa jangan-jangan tanggal tua si Mukidi ngirit gula.” Agus tampak getir ketika menyerutup kopi yang dibawakan Sri Ayu.
“Kenapa? Pahit ya?”
“Iya, tidak manis bueeehhh.” Agus mengelap bibirnya.
“Jadi penjaga kantor ini namanya Mukidi ya, Desa sekali ya.” Sri Ayu menggerutu heran.
“Dia masih honorer, awalnya dia hanya gantiin Pak Kasmul yang sudah tua dan sakit-sakitan. Kebetulan Pak Kasmul punya anak gadis tapi janda gitu yang wajahnya cantik dan badannya semok bahenol. Alhasil si Mukidi yang tukang semir sepatu keliling itu, kebetulan ketemu didepan pintu gerbang masuk. Kalau tidak salah saat Putri Pak Kasmul ngirim bekal makan siang. Jadilah mereka saling adu pandangan yang turun ke hati. Akhirnya mereka menikah, dan Mukidilah yang meneruskan pekerjaan Pak Kasmul tadi. Mereka hidupnya susah, apalagi Putri pak Kasmul itu punya anak diluar nikah 2 orang. Bayangkan saja betapa repotnya Pak Kasmul yang sudah kurus ceking dan ubanan gapuk itu cari nafkah. Sedangkan putrinya pontang-panting kerepotan ngurus anak dan rumah.”
Hanya bisa mendengarkan cerita hikayat sang pengais koretan gula. Pantas saja, Mukidi memperirit gulanya. Selain bisa berhemat, juga bisa mengurangi konsumsi gula berlebihan.
“Mulai besok biasakan minum air putih, jangan milih kopi manis dan teh manis. Karena kau harus tahu, gula itu seperti janji. Dan realisasinya sehambar air putih.” Pungkas Sri Ayu pergi meninggalkan Agus seorang diri lagi.
__ADS_1
Dengan demikian, mukidi bisa menabung gula sisa lebih banyak. Agus dan Sri Ayu sepakat untuk mengonsumsi air putih sebagai minuman harian mereka. Dan persahabatan mereka berdua kembali menjadi baik dan tanpa gengsi latar belakang masing-masing.