MAS DERRIS

MAS DERRIS
28. TURUNNYA, SANG PENDEKAR DARI SUKAMAGER


__ADS_3

“Hwaaaaa...tolong... Ada perampokan!!!”


Begitulah teriakan sopir Abu Latup alias Prapto. Dia berteriak sekencang-kencangnya dengan keadaan terpojok.


“Gimana nich Mas, kita buang aja nich sopir Arab KW 10 di hutan?” Tanya paka Muji.


“Jangan pak, kalau dilihat dari gestur tubuhnya sanga sehat. Kalau dijual organ tubuhnya bakal laku keras kita. Atau kita slundupkam saja sebagai pekerja tambang?!” balik tanya Derris.


“Wah ide Bagus tuh, daripada di sini klintat-klintut kayak **** ngepet ya.” Kedua lelaki iseng itu berjalan mendekati si sopit yang udah ketakutan di pojokan.


“Ih... Inihh kuncinya!!!” menjulurkan tangannya yang menyerahkan kunci mobil.


“Nah... Kalau begini kan enak, dari tadi kek nurut. Huh Parkinson,” Pak Muji menyambar kunvi tersebut.

__ADS_1


Dari tadi ternyata Pak Muji dan Derris meminta pinjang mobil milik Prapto. Perihal Sri Ayu yang hendak ikut tes CPNS. Dan sekalian mengantar Derris balik Jakarta, guna memenuhi panggilan kompetisi gamers. Daripada naik kendaraan yang tidak jelas jadwalnya. Mending mensabotase mobil sedan milik Prapto saja. Toh sopirnya juga masih tertinggal di kampung.


“Eh kalau sampai lecet awas lo!” sopir r itu setengah tak rela ketika pak Muji menyerahkan kunci kepada Derris.


“Lecet? Kita gak akan bikin lecet, orang kita sopan dijalan tapi liar diranjang aja hahahaa.” Bahak pak Muji keterlaluan.


“Ck... Dasar pak Muji, bikin penasfiran buruk Citra Derris yang masih perjaka tuing-tuing.” Kesal Derris yang mendengar kalimat cabul pak Muji.


Beberapa mesin di periksa oleh pak Muji dan Derris. Sopir Prapto hanya duduk-duduk saja sambil mengamati tingkah kedua orang yang dianggapnya kampungan.


“Ssssstttt... Berisik, berisik!” Pak Muji menyuruh diam Sopir dengan isyarat jarinya menempel di bibir.


“Untung saja perlu tambah air, bensinnya masih cukup kalau tiba di depot saja.” Usai memeriksa tangki bahan bakar.

__ADS_1


Derris memastikan mobil sedan milik Prapto ini layak jalan. Karena memerlukan jarak tempuh yang jauh. Jadi dicek terlebih dahulu kendaraan ini.


Beberapa warga yang melihat kliteran Derris dan Pak Muji di area mobil terparkir. Mendengar kabar kalau pendatang dari Kota itu akan balik sontak para ibu-ibu dan anak gadis pada galau. Mereka selama ini yang semangat nonton TV berjamaan saja. Kini lebih bersemangat mondar-mandir di rumah pak Muji hanya sekedar ngabsen di Derris.


“Eh Yu, kalau mas gagah itu cao dari Kampung kita. Mbok ya buat agenda gitu yang meriah.”


“Mau dandan cakep ah, sapa tahu mas Derris balik kampung sini. Karena kesemsem sama pesona gadis Desa.”


“Siulan, belum nebar tanah kuburan mas Derris udah mau cao dari Kampung. Duh mana semalam lagi ritual mandi kembang kecubung pula.”


“Biar mas Derris inget sama aku, tk bawain makanan yang udah aku jampi-jampi dari mbah Dukun hohoho.”


Yang bersuka cita atas kepergian Derris adalah kau bapak-bapak dan perjaka amplop kosong (modal dengkul). Mereka berdoa sepenuhnya dan bersungguh-sungguh agar turnamen ini Mas Derris menang. Dan menyabet hadiah banyak, dan tentunya gak balik lagi di Kampung Sukamager lagi.

__ADS_1


“Mba Ayuk, semoga sukses ikut ujian CPNS ya. Jupri gak bisa ngasih sebongkah berlian. Tapi ini kasih barang berharga Jupri, yaitu sarung kriwil yang dicuci pas malam Suro.”


Sri Ayu yang menghargai sebuah pemberian sahabatnya terdekatnya itu. Menggunakan sarung Jupri sebagai wadah barang bawaannya. Sri Ayu bak pendekar yang turun dari Gunung. Membawa caping dan tongkat yang dipikul dipundak kirinya. Dan tak lupa sarung yang menjadi tas barang yang di gantung pada kayu tongkat tersebut. Dan berpamitan mohon doa restu kepada keluarga dan warga Sukamager.


__ADS_2